Motto "Lestarikan Budaya Luhur Islam"

17 Juli 2012

Perbedaan penentuan awal ramadhan


Sudah sejak dahulu ketika ilmu pengetahuan modern mulai berkembang kemudian sisi baiknya adalah manusia bisa lebih mudah dalam menyelesaikan pekerjaan karena dibantu oleh alat modern tetapi sisi buruknya juga banyak. Sesungguhnya ilmu tiada cela jika untuk kebaikan. Yang tercela adalah orang-orang yang tidak bisa menghargai perbedaan dan lebih memilih perselisihan. Seperti yang terjadi dijaman kita yaitu perhitungan awal bulan ramadhan. Memang sejak dahulu terutama diindonesia selalu terjadi perselisihan dalam penentuan awal bulan ramadhan khusunya pihak Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab dan NU yang menggunakan metode rukyat.

Lalu bagaimanakah pendapat paling benar ?

Para ulama berselisih pendapat di dalam menentukan awal bulan Ramadhan apakah dengan cara melihat bulan langsung (rukyat) atau dengan cara hisab.

Pendapat Pertama mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab. Ini adalah pendapat mayoritas ulama salaf dan khalaf, termasuk di dalamnya Imam Madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'I, dan Ahmad).

Dalil mereka adalah sebagai berikut :

1. Sabda Rasulullah saw :

لا تصوموا حتى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتى تروه ، فإن غمى عليكم فاقدروا له. و في رواية  فاقدروا له ثلاثين

"Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan jangan berbuka sampai melihatnya lagi, jika bulan tersebut tertutup awan, maka sempurnakan bulan tersebut sampai tiga-puluh." (HR Muslim)

2. Sabda Rasulullah saw :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته


"Berpuasalah karena kalian melihat bulan, dan berbukalah ketika kalian melihat bulan." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Sabda Rasulullah saw:

إذا رأيتم الهلال فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا

"Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) , maka berpuasalah, dan jika kalian melihat hilal ( Syawal ), maka berbukalah." (HR Muslim).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat bulan secara langsung. Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari. Inilah maksud lafadh "faqduru lahu" dalam hadits di atas setelah menjama' beberapa riwayat yang ada.

Pendapat kedua mengatakan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab. Ini adalah pendapat Mutharrif bin Abdullah, Ibnu Suraij, dan Ibnu Qutaibah. Mereka berdalil dengan hadits riwayat muslim di atas (lihat hadits no 1), hanya saja kelompok ini menafsirkan lafadh " faqduru lahu " dengan ilmu hisab. Yaitu jika bulan tersebut tertutup dengan mendung, maka pergunakanlah ilmu hisab.

Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan cara melihat bulan secara langsung (rukyat). Boleh memakai alat bantu seperti teropong dan lain-lainnya. Demikian pula diperbolehkan menggunakan hitungan hisab, tetapi hanya sebagai pembantu dan penopang dari rukyat.

Selain dalil-dalil yang telah diungkap di atas, ada dalil lain yang menguatkan pendapat mayoritas ulama, yaitu sabda Rasulullah saw:

إنا أمة أمية ، لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا يعنى مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين

"Sesungguhnya kita (umat Islam) adalah umat yang ummi, tidak menulis dan menghitung, bulan itu jumlahnya 29 hari atau 30 hari." (HR Bukhari dan Muslim)

Artinya hadits di atas adalah  untuk menentuan awal bulan, umat Islam tidak diwajibkan untuk mempelajari ilmu hisab. Karena Allah telah memberikan cara yang lebih mudah dan bisa dilakukan oleh banyak orang, yaitu rukyat. 

Ini  bukan berarti umat Islam dilarang mempelajari ilmu tersebut, karena Allah swt telah memerintahkan kepada umatnya agar selalu menuntut ilmu pengetahuan selama hal itu membawa maslahat dalam kehidupan manusia ini.  Akan tetapi maknanya bahwa ajaran Islam ini mudah dan bisa dicerna oleh semua kalangan, dan bisa dipraktekan oleh semua orang.

Selain itu di dalam ilmu hisab (ilmu falak) telah terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak. Ada yang menetapkan  bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari  setelah terjadi ijtima’.  Sebagian yang lain menetapkan  bahwa awal bulan dimulai pada saat terbenam matahari setelah terjadi ijtima’ ditambahkan bahwa pada saat terbenam matahari tersebut, Hilal (bulan) sudah wujud di atas ufuk. Ini sering disebut dengan  model “ wujudul hilal.”

Bahkan ada kelompok yang mensyarakatkan wujud bulan di atas ufuk tersebut dengan  imkanur rukyat (berdasarkan perkiraan mungkin tidaknya hilal dirukyat). Kelompok yang menggunakan model  “imkanu al rukat” inipun berbeda pendapat di dalam menentukan batasannya. Ada yang memegang dengan batasan 2 derajat, ada yang memakai 5 derajat. Dan banyak lagi perbedaan-perbedaan yang tidak mungkin diungkap di sini.
 Inilah mengapa umat Islam di Indonesia belum bisa bersatu di dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal, karena masing-masing dari aliran ilmu hisab (ilmu falak) memegang prinsipnya dan merasa paling benar, sehingga tidak mau mundur sedikitpun demi persatuan umat. Wallahu Musta'an.

Untuk mengurangi perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam dalam menyikapi perbedaan cara menentukan awal bulan tersebut, para ulama menfatwakan bahwa sebaiknya umat Islam mengikuti awal bulan Ramadhan dan Syawal yang telah ditentukan oleh pemerintah dalam negara  masing-masing. Untuk negara Indonesia umpamanya, hendaknya seluruh rakyat mengikuti apa yang telah diputuskan pemerintah dalam hal ini Departemen Agama. Itu semua demi maslahat persatuan.



isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

Bertobat lah sebelum matahari terbit dari barat

Oleh : Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si.
(Ketua PP Muhammadiyah & Direktur Program Pascasarjana
UIN Sunan Gunung Djati Bandung)



Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak Adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertobat.” (H.R. Tirmidzi).

Hadits ini menerangkan bahwa hakikat seorang hamba yang baik bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali. Hamba yang terbaik adalah yang apabila berbuat dosa, dia senantiasa bertobat kepada Allah Swt. Sudah menjadi tabiatnya bahwa manusia tidak bisa lepas dari khilaf dan dosa. Manusia terus akan digoda setan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Rasulullah pun selalu menerangkan bahwa jalan menuju neraka itu terkesan begitu indah dan menggiurkan. Sementara, jalan menuju surga terkesan sulit dan tidak berjalan mulus. Maka, didatangkanlah agama untuk menuntun manusia. Di sinilah Allah Swt. melalui rasul-Nya memberikan bimbingan agar kecenderungan manusia untuk berbuat dosa dapat dikendalikan sehingga mereka tetap berada dalam aturan-Nya.

Dosa atau suatu perbuatan yang bertentangan dengan yang diperintahkan dalam agama selalu bernilai negatif dan berdampak buruk bagi pelakunya, baik di kehidupan dunia maupun kelak di alam akhirat. Kecenderungan seseorang berbuat dosa dipengaruhi oleh faktor hawa nafsu dan sifat egois atau angkuh. Semua pelanggaran atas peraturan Allah Swt. adalah dosa. Jika mau dikelompokkan, dosa itu ada yang masuk kategori dosa kecil dan dosa besar. Dosa itu ada yang berdampak hanya kepada pelakunya sendiri dan ada juga yang berdampak kepada orang lain.

Banyak hadits yang menerangkan tentang dosa besar. Salah satunya dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka bertanya, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan, menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari kemaksiatan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Contoh dosa kecil adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw., bersabda, “Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didustakanya.” (H.R. Muslim)

Dampak negatif dari dosa bisa dirasakan oleh pelakunya secara khusus. Entah pada hati ataupun bagi jasmaninya, dan mungkin dapat berimbas kepada orang lain, seperti perbuatan zalim dan fitnah. Di antara dampak dosa yang dapat memperburuk hati adalah terhalangnya cahaya Allah, selalu galau dan gundah hati, terganggu rasa ketakutan berinteraksi dengan orang lain, kesulitan dalam segala urusan, menjauhkan dari ketaatan, dan membuka pintu kemaksiatan yang lain. Naudzubillahi min dzaalik.

Tidak mau terjebak dalam kondisi seperti itu, sudah selayaknya kita memperbanyak beristighfar dan bertobat. Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka berkata, “Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus.”

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ketika seorang mukmin berbuat suatu dosa, dosa itu menjadi sebuah noda hitam pada hatinya. Jika dia menyesalinya (memohon ampunan) hilanglah noda itu. Jika dia tidak menyesali perbuatan itu maka noda itu akan membesar dan membesar sehingga menutupi seluruh hatinya.”

Bila hati telah sepenuhnya tertutup oleh noda, tak satu pun petunjuk dapat menembus ke dalam hati. Dia tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan yang terdapat di dalam Al-Quran dan hadits.  Sebenarnya banyak jalan untuk meminimalisasi dan menghapus dosa. Satu di antaranya adalah dengan memperbanyak membaca dan menyimak kajian Al-Quran. Ya, Al-Quran sengaja diturunkan salah satunya sebagai obat bagi hati manusia sebagaimana diterangkan dalam ayat ke-82 surat Al-Israa. “Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” 

Selanjutnya, banyak mengingat mati juga merupakan benteng agar kita terhindar dari dosa. Mengingat mati bisa mendorong kita untuk menghindarkan diri untuk melakukan perbuatan dosa dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. menganjurkan, “Banyak-banyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yakni kematian.” (H.R. Tirmidzi) [Ahmad, disarikan dari hasil wawancara]

sumber ; majalah percikan iman

isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

13 Juli 2012

Berita Islam : Penderitaan Muslim Rohingya 15.000 Tewas, 21 Masjid Dibakar

Sungguh dunia islam kita diakhir zaman ini sedang dilanda kekacauan yang luar biasa. Huru-hara setiap hari bukan semakin surut tetapi malah semakin menggila. Ditengah carut marutnya sistem pemerintahan dikaum muslimin dan tidak jelasnya hukum yang berlaku. Ternyata musuh memanfaatkan keadaan ini untuk semakin memperlemah kita bahkan banyak saudara kita yang tidak berdosa dibunuh tanpa alasan yang dibenarkan. Dunia diam ketika muslim dibantai giliran kafir kita usik sedikit saja dunia teriak-teriak "islam teroris" padahal kafir biasanya yang mengusik duluan. Seperti akhir-akhir ini banyak terjadi di suriah dan yang seperti akan kita bahas yaitu yang terjadi di burma tepatnya di kota rohingnya. Semoga kafirin mendapat laknat dunia akhirat karena mereka telah membunuh banyak sekali saudara kita tanpa alasan sedikitpun yang bisa dibenarkan.

Rentetan kekejaman terhadap Muslim Rohingnya di Arakan, Myanmar, masih terus berlangsung. Sejauh ini, jumlah Muslim yang tewas mencapai 15 ribu orang. Sebanyak 30 ribu Muslim dinyatakan hilang, sedangkan 5.000 orang lainnya ditahan, yang kebanyakannya adalah pemuda. Demikian laporan Nahzdatul Mufaqqirin, seperti dirilis EraMuslim, Jum'at (29/6).

Masjid juga tak luput dari target kekejaman orang-orang Budha Myanmar. Sedikitnya 21 masjid telah dibakar. Nahzdatul Mufaqqirin merinci, masjid-masjid yang dibakar itu terletak di desa Kemboh, Furam (2 masjid), Zailar (5 masjid), Buhor, Folton, Shun Dori, Dirom, Godubah, Forhali, Noyah, Shel Gara, Honsi, Am Bari, Sinkir, Santoli, dan Bodur.

Derita Muslim Rohingya tersebut kini mulai menjadi perhatian Muslim internasional. Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam terbesar di Mesir yang baru saja memenangkan pemilu parlemen dan presiden, menyerukan negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap Myanmar, PBB, OKI, Liga Arab, lembaga HAM di seluruh dunia dan umat Islam agar bergerak bersama untuk menjaga kehidupan dan hak milik umat Islam Myanmar.

Sebelumnya, Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia) juga mengecam keras pembunuhan massal terhadap Muslim Rohingya. Rabithah meminta pemerintah Muslim dan lembaga-lembaga Islam untuk secepatnya memberikan pertolongan kepada Muslim di Myanmar yang telah menderita sejak lima belas tahun lalu itu.

Selain pembunuhan dan tindak kekejaman yang melukai fisi, kerugian harta dan kehormatan juga dialami Muslim Rohingnya. Massa Budha dilaporkan merampok dan menjarah desa-desa Muslim di Arakan serta memperkosa sejumlah Muslimah di sana. Ribuan Muslim yang ketakutan dengan kekejaman yang terus berlangsung, memilih mengungsi ke Bangladesh. Pejabat imigrasi Bangladesh memperkirakan, saat ini terdapat 300 ribu pengungsi Rohingya. Mereka memilih Bangladesh dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

 Namun, pengungsian tersebut bukan berarti tanpa masalah. Pekan lalu pihak berwenang Bangladesh memulangkan secara paksa sekitar 2000 orang etnis Rohingya. Selain itu, di daerah pengungsian kondisi para Muslim juga sangat memprihatinkan karena kekurangan makanan dan gangguan kesehatan akibat tempat tinggal yang memprihatinkan. Pekan lalu perahu-perahu Rohingya yang akan mengungsi ke Bangladesh ditembaki, mengakibatkan sebagian penumpang meninggal sebelum berhasil menginjakkan kaki di Bangladesh. [ref : bersamadakwah.com]





isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

11 Juli 2012

Nasehat Ulama : Adab yang utama bagi pelajar


Dalam suatu pertemuan Habib abu bakar assegaf memberikan nasehat kepada pengikutnya “Ketahuilah bahwa Allah SWT akan memberikan kepada hamba- Nya segala apa yang dipanjatkan sesuai dengan niatnya. Menurutku, Allah niscaya akan mendatangkan segala nikmat- Nya di muka dunia, dengan cara terlebih dahulu Dia titipkan di dalam hati hamba- Nya yang berhati bersih. Untuk itu kemudian dibagi-bagikan kepada hamba- Nya yang lain. Amal seorang hamba tidak akan naik dan diterima Allah SWT kecuali dari hati yang bersih. Ketahuilah, wahai saudaraku, seorang hamba belum dikatakan sebagai hamba Allah yang sejati jika belum membersihkan hatinya!”

Dalam kesempatan lain pada Jum’at berikutnya di rumah kediaman Habib Abubakar di Gresik, ada suatu majelis yang dihadiri banyak orang dari dalam dan luar kota. Saat itu ia memberikan taushiyah, “Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, hati yang ada di dalam ini (sambil menunjuk ke dadanya) seperti rumah. Jika dihuni orang yang pandai merawatnya dengan baik, akan tampak nyaman dan hidup. Namun jika tidak dihuni atau dihuni oleh orang yang tidak dapat merawatnya, rumah itu akan rusak dan tak terawat. Dzikir dan ketaatan kepada Allah SWT merupakan penghuni hati, sedangkan kelalaian dan maksiat adalah perusak hati.”

Pada kesempatan lain pula, nasihat Habib Abubakar ditulis oleh Habib Muhammad bin Hud Assegaf, dalam sebuah majelis di Surabaya yang dihadiri oleh para tokoh ulama, di antaranya Habib Abdul Qadir bin Hadi Assegaf, yang membacakan nasihat dan kalam Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tentang “Rahasia di dalam majelis-majelis yang mulia”.
Kemudian, Habib Abubakar menegaskan, “Saudara-saudaraku, dengarkanlah yang dikatakan Habib Ali. Beliau meminta kepada kita untuk selalu meluangkan waktu menghadiri majelis-majelis semacam ini. Ketahuilah, menghadiri suatu majelis yang mulia akan dapat mengantarkan kita pada suatu derajat yang tidak dapat dicapai oleh banyaknya amal kebajikan yang lain.”

Lalu ia menambahkan, “Simaklah apa yang dikatakan guruku tadi. Di zaman ini, hanya sedikit orang yang menunjukkan adab luhur dalam majelis. Jika ada seseorang yang datang, mereka berdiri dan bersalaman atau menghentikan bacaan, padahal orang itu datang ke majelis tersebut tidak lain untuk mendengarkan. Oleh karenanya, banyak kujumpai orang di zaman ini, jika datang seseorang, me¬reka berkata ‘Silakan kemari’ dan yang lain mengatakan juga ‘Silakan kemari’ sedang orang yang duduk di samping mengipasinya.

Gerakan-gerakan dan kegaduhan yang mereka timbulkan menghapus ke- berkahan majelis itu sendiri. Keberkahan majelis bisa diharapkan apabila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majelis itu pada intinya adalah adab, se¬dangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati.
Oleh karena itu, saUdara-saudaraku, aku anjurkan kalian, hadirilah majelis- majelis kebaikan. Ajaklah anak-anak kalian ke sana dan biasakan mereka untuk mendatanginya, agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majelis-majelis yang baik pula.” Pada kesempatan lain, ia menyampaikan nasihat perihal pendidikan pada anak-anak, “Saat-saat ini aku jarang melihat santri-santri atau siswa-siswa madrasah yang menghargai ilmu. Banyak kulihat, mereka membawa mushaf atau kitab-kitab ilmu yang lain dengan cara tidak menghormatinya, menenteng atau membawa di belakang punggungnya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat- tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu tapi mencintai nilai semata-mata. Mereka diajari pemikiran para filosof dan budaya pemikiran-pemikiran orang Yahudi dan Nasrani.

Apa yang akan terjadi pada generasi remaja masa kini? Ini tentu adalah tanggung jawab bersama. Habib Ali pemah merasakan kekecewaan yang sama seperti yang kurasakan. Padahal di zaman beliau aku melihat kota Seiwun dan Tarim sangat makmur, bahkan negeri Hadhramaut dipenuhi dengan para penuntut ilmu yang beradab, berakhlaq, menghargai ilmu dan orang alim. Bagaimana jika beliau mendapati anak-anak kita di sini yang tidak menghargai ilmu dan para ulama? Niscaya beliau akan menangis dengan air mata darah. Beliau menambahkan bahwa, ‘Aku akan meletakkan pada penuntut ilmu di atas kepalaku; dan jika aku bertemu murid yang membawa bukunya dengan rasa adab, ingin rasanya aku mencium kedua matanya’.”
Habib Abubakar melanjutkan, “Aku teringat suatu kalam seorang shalih yang mengatakan, ‘Tidak ada yang menyebabkan manusia rugi kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kehidupan kaum shalihin dan berkiblat pada buku-buku modern dengan pola pikir yang serba meringankan. Wahai saudara-saudaraku, ikutilah jalan salafush shalihin, sebab mereka adalah orang-orang suci yang beramal ikhlas.
Ketahuilah, salaf kita tidak menyukai ilmu kecuali yang dapat membuahkan amal shalih. Aku teringat pada suatu untaian mutiara nasihat Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas yang mengatakan, ‘Ilmu adalah alat, meskipun ilmu itu baik (hasan); tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Karenanya, ilmu harus diiringi adab, akhlaq, dan niat yang shalih. Ilmu demikianlah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi’.”

(Disadur dari Majalah Alkisah No. 22, 31 Okt -13 Nov 2011 hal. 135-137)




isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

08 Juli 2012

Hukum Mengadzani bayi yang baru lahir



Mengadzani bayi yang baru lahir merupakan perbuatan yang diperselihkan para ulama, diantara mereka ada yang membolehkan berdasarkan hadits-hadits dibawah ini:

Telah datang dari jalan ‘Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya berkata: (aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadzani ditelinga Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya) [Hadits dikeluarkan Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad]

Abu Isa (Turmudzi) berkata: “ ini hadits hasan shahih “

Namun ini perlu diteliti, karena riwayat ini hanya dari jalannya ‘Ashim dari Ubaidillah dan kebanyakan para ulama melemahkannya.

Ibnu Uyainah berkata: “dahulu para masyayikh berhati-hati dari haditsnya ‘Ashim bin Ubaidillah”.

‘Ali bin Madini berkata: “aku mendengar Abdur Rahman bin Mahdi sangat mengingkari haditsnya ‘Ashim bin Ubaidillah”.

Abu Hatim berkata: “dia adalah mungkar haditsnya, serta penuh pergolakan, tidak memiliki hadits yang dijadikan sandaran”.

An-Nasaie berkata: kami tidak mengetahui bahwa Malik meriwayatkan dari seseorang yang terkenal lemah kecuali dari ‘Ashim bin Ubaidillah sebab beliau meriwayatkan satu hadits darinya”.
Dan begitu juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari haditsnya Hasan bin Ali dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: (barang siapa yang dikaruniai anak lalu mengadzaninya ditelinga kanannya dan mengqamatinya ditelinga kirinya, maka jin perempuan tidak akan mengganggunya).

Demikian pula dikeluarkan dari haditsnya Abu Sa’id dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma: (bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mengadzani ditelinga Hasan bin Ali dihari kelahirannya dan mengqamati ditelinga kirinya).

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “pada sanad keduanya lemah”[ Tuhfatul Wadud Fii Ahkaamil Maulud hal: 21].

Demikian pula diriwayatkan dalam Musnad Abi Ya’laa Al Maushili dari Husain dengan sanad marfu’.

Al Manawi berkata dalam “Syarah Jami’ Shaghir”: sanadnya lemah.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa beliau: “dahulu mengadzani ditelinga kanan, dan qamat ditelinga kiri apabila dikaruniai anak”.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam “ Talkhishul Habir”: saya tidak melihatnya secara musnad darinya, dan Ibnu Mundzir telah menyebutkan darinya, dan telah diriwayatkan darinya secara marfu’, Ibnu Sunni telah mengeluarkannya dari haditsnya Husain bin Ali dengan lafadz: (barang siapa yang dikaruniai anak lalu mengadzaninya ditelinga kanannya, dan mengkamatinya ditelinga kirinya tidak akan diganggu oleh Ummu Shibyan) yaitu: jin wanita yang mengikutinya.[4/273].

Al Hafidz Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri rahimahullah berkata: “perkataannya: amal sesuai dengannya” yakni: sesuai dengan hadits Abu Rafi’ mengenai adzan ditelinga anak yang baru dilahirkan. Jika anda katakan: bagaimana amal sesuai dengannya padahal haditsnya lemah, karena dalam sanadnya: ada ’Ashim bin Ubaidillah sebagaimana anda tahu ? saya katakana: benar dia lemah, akan tetapi dia menjadi kuat dengan haditsnya Husain bin Ali radhiallahu anhuma yang diriwayatkan Abu Ya’laa Al Maushili dan Ibnu Sunni “. [Tuhfatul Ahwadzi: 5/91].


Maka menurut perkataan Al Mubarakfuri menjadi jelas bahwa haditsnya menjadi kuat, oleh karena itu kami tidak mahu meninggalkan amal tersebut karena ada hikmah yang besar dibalik itu.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “dan rahasia mengadzani bayi, Wallahu A’lam: yaitu supaya yang didengarkan manusia pertama kali adalah ucapan yang mengandung kebesaran Rabb dan keagunganNya serta syahadat yang pertama kali memasukkanya kedalam islam, jadi ibarat mentalqinkannya tentang syiar islam ketika memasuki dunia, sebagaimana dia ditalqin ketika keluar dari dunia, dikarenakan juga sampainya pengaruh adzan kedalam hatinya tidak dan kesan adzan pada dirinya tidak dipungkiri, meskipun dirasakan ada faedah lain dalam hal itu, yaitu larinya setan dari kalimat adzan, dimana setan senantiasa menunggunya kelahirannya, lalu menyertainya karena takdir Allah dan kehendakNya, maka dengan itu setan yang menyertainya mendengar sesuatu yang melemahkannya dan membuatnya marah sejak pertama mengikutinya.

Dalam hal itu ada hikmah lain yaitu supaya seruan kepada Allah dan agama islam serta ibadahnya mendahului dakwahnya setan. Sebagaimana Allah telah Menciptakannya diatas fitrah tersebut untuk mendahului perubahan yang dilakukan setan kepadanya, serta hikmah-hikmah lainnya” [Tuhfatul Wadud Fii Ahkamil Maulud: 21-22].

Namun sebagian ulama seperti Syaikh Albani rahimahullah walaupun sebelumnya sempat menghasankan hadits diatas, namun karena beliau menemukan bahwa hadits yang menguatkannya tidak lebih kuat bahkan palsu, maka beliau menarik kembali pendapatnya dan melemahkan hadits mengadzani bayi tersebut.

Kesimpulan


Jadi adzan kepada bayi yang baru lahir mempunyai 2 hujjah yaitu diperbolehkan karena adzan kepada bayi merupakan hikmah yang besar untuk kelanjutan kehidupan bayi selanjutnya dan haditsnya dianggap hasan oleh sebagian ulama. Dan yang kedua hukumnya bid'ah karena haditsnya dianggap mungkar / palsu oleh sebagian ulama.



Jadi yang mengamalkannya berpegang kepada pendapat sebagian ulama diatas dan yang tidak mengamalkannya juga ada hujahnya dari sebagian ulama. Kita tidak boleh saling mencela atau berselisih karena hanya perbedaan yang kecil karena setiap perbedaan ada hikmahnya dan persatuan umat islam lebih utama daripada saling membenarkan hujjah yang dipegang sendiri namun tak mau menghormati perbedaan itu yang justru akan memperlemah persatuan umat islam sendiri.

Wallahu'alam



Wallahu A’lam.




isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

01 Juli 2012

Hati-hati dengan hawa Nafsu



Dari Abu Muhammad, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab al-Hujjah dengan sanad yang shahih).

Pelajaran Dari hadits
Dalam satu hadits yang singkat ini ternyata mengandung banyak pelajaran didalamnya. Yaitu tentang hawa nafsu yang sering menjerumuskan manusia kejurang kebinasaan karena dibiarkan bermaksiat, ada juga hawa nafsu yang mengantarkan manusia kedalam kebahagiaan dunia dan akhirat karena dibimbing dan dikendalikan untuk berbuat kebaikan.
Dalam penjelasan “tidak beriman” dalam hadits tersebut adalah maksudnya tidak beriman dengan sempurna bukan diartikan sebagai kafir atau tidak beriman secara menyeluruh. Karena disebabkan hawa nafsunya sebagian dibiarkan menyalahi syari’at disisi lain juga hawa nafsunya diajak mengamalkan syari’at.
Sudah menjadi hal lumrah dalam kehidupan di dunia bahwa segala proses diawali dengan tantangan. Begitu pula saat seorang Muslim akan melaksanakan dzikir. Hal itu karena  manusia memiliki akal dan nafsu. Di saat yang sama, ibadah yang mewajibkan Muslim untuk dilaksanakan bertentangan dengan nafsu. Jadi, tantangan utama umat untuk berdzikir adalah hawa nafsu. Hal ini yang menyebabkan rasa malas, enggan atau sumber alasan-alasan lain yang menghalangi umat berdzikir. Untuk itu ketika umat berniat berdzikir hendaknya menahan dan membendung nafsu dengan akal. Dengan demikian, nafsu akan tunduk. Bagaimana caranya? nafsu itu dipaksa untuk berdzikir, selama nafsu tidak ditekan maka dzikir pun sulit dilakukan. Karena itu, orang yang berakal itu orang yang berdzikir dan mampu menjaga nafsu.
Karena hawa nafsu kita ibarat anak kecil. Yang semakin dimanja akan semakin membangkang. Begitu juga jika kita mau mendidik anak kecil itu supaya menjadi anak yang mandiri dan benar-benar sadar akan kebenaran maka harus kita ajari pendidikan prihatin sejak dini agar semakin lama terlatih menjadi manusia dewasa yang berpikiran matang. Kaitannya dengan hawa nafsu jika hawa nafsu kita umbar tidak peduli aturan agama maka dampaknya juga akan kembali kedirinya sendiri. Hawa Nafsu semakin dituruti akan semakin menuntut dan menuntut untuk melakukan perbuatan dosa akhirnya dirinya sendiri yang binasa. Terlebih lagi jika sudah terbiasa mengumbar hawa nafsu maka akan semakin sulit hawa nafsu itu dikendalikan. Karena seperti ibarat mudahnya mendidik anak kecil daripada mendidik orang dewasa pasti lebih sulit.

Dan juga kaitannya dengan akal maka akal ibarat orang tua sedangkan hawa nafsu ibarat anaknya. Jika akal tak mampu membimbing hawa nafsunya maka akalpun bisa tunduk kepada hawa nafsu sendiri maka seperti persamaan “orang yang ditunggangi kuda, bukan orangnya yang menunggangi kuda”. Kalau sudah begitu maka setanpun tidak usah repot-repot membisiki hal maksiat kepada hati. Karena hati dan akal yang sudah tunduk kepada hawa nafsu otomatis selalu terbiasa berbuat maksiat dengan sendirinya. Maka dari itulah memang sangatlah penting hikmah dari pengendalian hawa nafsu ini, maka islampun mengajarkan ibadah puasa wajib pada bulan ramadhan dan puasa sunah kepada pengikutnya supaya pengikutnya bisa lebih mudah terhindar dari perbuatan menuruti hawa nafsu yang membinasakan.

Manusia tak mungkin bisa menghilangkan hawa nafsu dari dalam dirinya sendiri sehingga bisa menyerupai malaikat yang hanya dikarunai akal tapi tak dikaruniai hawa nafsu. Karena hawa nafsu memang sudah bagian satu paket dalam penciptaan manusia. Hawa nafsu ibarat bensin pada kendaraan bermotor, tidak akan jalan sepeda motor tanpa bensin sebagai tenaga pendorongnya. Hawa nafsu yang diarahkan kepada kebaikan maka akan membawa kebaikan yang banyak juga, misalnya kita arahkan diri kita untuk rutin berdzikir tiap malam maka kita akan banyak memetik hasil dari perbuatan baik itu, selain itu kita arahkan diri kita untuk mengikuti kegiatan dalam lembaga sosial dan sebagainya. Sebaliknya hawa nafsu yang kita biarkan mengerjakan maksiat maka hawa nafsu akan terus mengajak berbuat maksiat sampai pemiliknya binasa.
Dan Allah SWT telah melaknat keras bagi manusia-manusia yang suka mengumbar syahwatnya tanpa mengindahkan sedikitpun larangan agama. Dalam al-Qur’an Allah berfirman :
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al-Furqaan: 43)
Dari ayat diatas bisa kita ambil hikmah bahwa hidayah dari Allah terputus dari manusia yang suka menuruti hawa nafsunya karena sebab menuruti hawa nafsu menjadikan kerasnya hati Dan kalau hati sudah keras maka peringatan dari siapapun bahkan dari firman Allah (al-Qur’an) pun  tidak digubris.  Akhirnya binasa dunia dan akhirat. dan orang yang mengikuti hawa nafsu seenaknya sama saja dengan menyembah hawa nafsu itu sendiri karena apa saja yang diinginkan hawa nafsu dituruti. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu. Amiin
Beruntunglah orang masih punya hati lembut karena senantiasa melatih hawa nafsunya untuk yang bermanfaat terutama untuk amal shalih. Karena hati yang lembut mudah mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah Ta’ala.
Wallahu’alam


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to
method=

29 Juni 2012

Opini : Pilih sholawat atau musik syahwat ?




Setiap orang memiliki asumsi pribadi dalam memandang fenomena sholawat yang belakangan disebut sebagai budaya populer di kalangan santri. Ada yang berasumsi sebagai keberhasilan tarbiyah karena tertanamnya benih-benih kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW. Ada juga yang berasumsi,fenomena ini tak lebih dari gejala dinamis anak baru gede,yang dikaitkan dengan kaidah fiqh irtikabu akhaffi dlororoin (Mengambil yang paling ringan risikonya-dari pada suka boy band, girl band, dangdut, pop, punk rock, dan sebagainya).

Tetapi memang daripada kita itu denger lagu-lagu seronok. Kayak lagu pop cinta-cintaan, selingkuh-selingkuhan, pacar-pacaran dan sebagainya misalnya judul lagu "kamu ketahuan selingkuh", "aku cinta kamu", "cinta sejuta rasa", "hidup untuk mencintaimu", "benci bilang cinta", "jatuh cinta lagi", "indah cintaku", "kisah cintaku", "asmara hati", "rayuan gombal, "Cinta buta", "aku sayang kamu"  dan bla bla blbaaa sebagainya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu karena saking banyaknya. Lagu-lagu seronok macam itu tentu saja tidak ada manfaat dan nasehat yang diambil dari syairnya tetapi justru memberikan dampak negatif terutama bagi anak-anak. Apalagi jika anda melihat tayangan klip videonya girlband korea misalnya yang pakaiannya serba rock mini dan mengumbar syahwat. Sungguh tidak pantas kita sebagai bangsa indonesia yang mempunyai budaya luhur keislaman melihat sesuatu yang merusak moral seperti itu. Sungguh, banyaknya fenomena anak kecil sudah tahu pacaran dan bahkan berbuat mesum sesungguhnya secara langsung maupun tidak langusng memang tidak terlepas dari pengaruh media-media teknologi yang menyuguhkan acara-acara yang sangat tidak bermanfaat, mengumbar aurot dan mendengungkan nyanyian-nyanyian pembangkit hawa nafsu seperti itu.

Semua bebas berpendapat dengan hujjahnya masing-masing tentang fenomena lagu-lagu jahiliyah ini. Akan tetapi alangkah baiknya jika lagu-lagu yang kita dengar selain sebagai penghilang rasa stress juga bisa memberikan hikmah, nasehat dan pelajaran bagi pendengarnya. Paling tidak bisa memberikan nasehat yang baik, terlebih lagi lagu itu bisa menambah kecintaan kita kepada islam. Misalnya saja musik shalawat, tentu saja ada dampak tersendiri bagi pendengarnya. Seorang muslim tentu saja harus bijak memilih lagu-lagu yang didengarkanya karena hal itu berdampak kepada kepribadian dan tingkah lakunya baik langsung maupun tidak. Dengan mendengarkan shalawat maka paling tidak akan ada timbul rasa kecintaan kepada rasululullah saw, manusia panutan dan teladan sepanjang masa. Memang musik bukanlah hal yang sepele karena jaman modern ini jarang sekali orang hidup tanpa musik. Dimanapun dan kapanpun kita telah melihat seorang memegang radio tape, cd player, mp3 player , Hp  dan sebagainya untuk mendengarkan musik sekedar menghilangkan rasa suntuk dan stress seharian belajar dan ada juga yang bekerja. Tapi walaupun cuman sekedar mendengar, tetapi ternyata juga mempunyai dampak yang signifikan bagi pemikiran dan tingkah laku pendegarnya. Yang suka mendengarkan musik yang penuh dengan nasehat maka akan menemukan inspirasi dalam hidupnya, dan yang suka mendengarkan musik seronokpun maka akan semakin keruh hatinya dan menjadi orang lalai.

Alangkah lebih baiknya juga jika kita mengganti musik dengan bacaan Al-Qur;an jika belum bisa istiqomah minimal bersholawat itu lebih baik daripada mendengarkan lagu jorok yang dampaknya ternyata juga sangat besar kepada akhlaq dan prilaku kita.


Keistimewaan Sholawat

Sayyid Hazim bin Zain al’asyiqin menyampaikan sebuah hadits tentang keistimewaan sholawat dalam kitabnya Miftahus Sa’adah,”Sebagian shohabat bertanya kepada Rosuullah SAW,”Yaa Rosuulullah, Allah bersholawat 10 kali kepada orang yang bersholawat kepada paduka 1 kali. Apakah itu khusus bagi orang yang bersholawat dengan kehadiran hati? Rasulullah menjawab,”tidak! bahkan itu bagi setiap orang yang bersholawat kepadaku dalam keadaan lalai (tidak disertai kehadiran hati), dan selain itu Allah akan memberinya pahala sebanyak gunung-gunung, para malaikatpun akan memohonkan ampunan baginya. Adapun bagi orang yang hatinya hadir dalam bersholawat kepadaku, maka tidak ada yang tahu kadar itu selain Allah.” Imam Ahlussunnah Abad 21, Al Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki dalam karyanya Labbaikallahumma Labbaik, menilai hadits tersebut shohih dalam periwayatannya.

Lebih  lagi tentang keistimewaan sholawat seperti disampaikan Syaikh Yusuf An Nabhani dalam Afdlolush Sholawat ‘ala Sayyidis Saadaat bahwa Imam Asy Syathibi dan As Sanusi memastikan adanya pahala yang diterima si pembaca sholawat meskipun dengan maksud pamer. Lebih serius mengenai keistimewaan sholawat, Syaikh Ahmad Asrori al Ishaqi dalam risalahnya Al Muntakhobat, mengungkapkan mayoritas imam-imam thoriqah yang menjadi panutan menegaskan bahwa menyibukkan jiwa dengan bersholawat kepada Nabi SAW adalah penyebab terbukanya mata hati hamba yang paling besar dan menduduki tempatnya guru pembimbing sehingga,banyak sekali orang yang berma’rifat billah dengan perantara sholawat, padahal mereka tidak mempunyai guru pebimmbing. Hal ini seperti juga diungkapkan al Fasi dalam syarah ad Dalail. Tentunya ini hanya sebagian kecil dari sekian juta fadhilah sholawat, mengingat sangat istimewanya Rasuulullah SAW di hadapan Allah SWT.

Wallahu'alam


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

Sirah Islam : Mengenal Ali Bin Abi Thalib


Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia
selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis.

Sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan tidur di tempat tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah barang
titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy.

Setelah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan:

Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Usman. Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Abdullah dan
Abu Bakar. Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad.
As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan dua nak, Umar dan Ruqayyah; Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad. Khanlah binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah). Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.

Ali dikenal sangat sederhana dan zahid dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tampak perbedaan dalam kehidupan rumah tangganya antara sebelum dan sesudah diangkat sebagai khalifah. Kehidupan sederhana itu bukan hanya diterapkan kepada dirinya, melainkanj uga kepada putra-putrinya.

Ali terkenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya

menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam) bernama “Zul Faqar”. Ia turut-serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan.

Ia juga dikenal cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana tergambar dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, “Aku kota ilmu pengetahuan sedang Ali pintu gerbangnya.” Karena itu, nasihat dan fatwanya selalu didengar para khalifah sebelumnya. Ia selalu ditempatkan pada jabatan kadi atau mufti. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam wafat, Ali menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya, sementara sahabat-sahabat lainnya sibuk memikirkan soal pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dalam mengurus negara dan umat Islam, Ali tidak segera membaiatnya. Ia baru membaiatnya beberapa bulan kemudian.

Pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk salah seorang yang ditunjuk menjadi anggota Majlis asy-Syura, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Ali banyak mengeritik kebijaksanaannya yang dinilai terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun, semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir
dengan terbunuhnya Usman.

Kritik Ali terhadap Usman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Hurmuzan. Usman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Usman memberi hukuman kepada Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali.

Usman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk membela Usman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Usman tidak dapat diselamatkan.

Segera setelah terbunuhnya Usman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi khalifah setelah Usman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan urusan kalian. Ini adalah
perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.”

Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di Masjid Madinah seperti
pembaiatan para khalifah pendahulunya. Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu:

Memecat para pejabat yang diangkat Usman, termasuk di dalamnya beberapa

gubernur, dan menunjuk penggantinya. Mengambil tanah yang telah dibagikan Usman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661.

Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang. Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu berunding dengan lawan. Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah. Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan. Di Harurah mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka.

Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas. Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir.

Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.

Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi ditugaskan pembunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.

Wallahu'alam


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

Pendidikan Anak : Pengaruh permainan terhadap pendidikan

Pendahuluan


Apakah diantara kita (orang dewasa)  masih ada yang suka bermain, tentu saja bila ada diantara kita begitu  pasti ada orang lain yang nyeletuk "itu orang kekanak-kanakan. Tapi berbeda pandangan para psikolog, ternyata bermain adalah sesuatu yang mempengaruhi psikologi manusia dan dampaknya juga bagus yaitu orang yang banyak bermain ternyata bisa lebih terhindar dari stress yang menyempitkan hidup itu, lalu bagaimana dampaknya kepada anak-anak?. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Dalam pandangan seorang ahli filsafat yaitu Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda pada tahun 1938 menulis sebuah buku Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture. Dari buku itu kemudian populer istilah Homo Ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Huizinga bahkan menyatakan bahwa “Play is Older Than Culture”, bahwa permainan itu lebih tua dari kebudayaan. Terlepas dari kontroversi pernyataan itu, nyatanya dalam setiap komunitas baik primitif maupun modern selalu terdapat permainan sebagai bagian dari kebudayaan manusia, tiap zaman memiliki tipikal permainannya sendiri. Tentu saja, karena permainan adalah bagian dari kebudayaan, jenis permainan itu terkait erat dengan perkembangan budaya masyarakat setempat.

Kita disini tidak akan membahas tentang budaya tapi adalah bagaimana pengaruh permainan dengan pendidikan psikologi anak. Dan orang tua patut mewaspadai, punahnya permainan tradisional seperti petak umpet, main kelereng, layang-layang dan sebagainya dan terganti dengan permainan modern seperti playstation, game online, internet dan sebagainya ternyata dampaknya juga buruk bagi pendidikan anak.


Pengaruh bermain bagi perkembangan anak adalah : 
  1. Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak 
  2. Bermain dapat digunakan sebagai terapi
  3. Bermain dapat mempengaruhi pengetahuan anak
  4. Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
  5. Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
  6. Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak


1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelegensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.


Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif


1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif


1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.
Dikutip dari: Temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa Anak dan Remaja


isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

Blog Archive

Download Ebook Islam Terlengkap

Statistik

.