Motto "Lestarikan Budaya Luhur Islam"

11 Oktober 2011

10 Pintu Setan dalam Menyesatkan Manusia

Sebagai seorang muslim yang berorientasi kepada kehidupan kebagiaan yang kekal maka sebaiknya menjauhi jalan-jalan atau pintu-pintu menuju kemungkaran yang akan menjerumuskan kedalam kebinasaan. memang amat sulit untuk menghindari jebakan-jebakan setan, karena perangkapnya ada dimana-mana, akan tetapi seorang muslim yang ikhlas, tabah dan sabar dalam menghadapi ujian maka insya Allah dia akan mendapatkan jalan yang lurus selalu sehingga dapat mencapai surga-Nya.Adapun seorang muslim supaya tidak terjerumus kedalam lubang kebinasaan maka kuncinya adalah menjaga hatinya supaya terhindar dari bisikan-bisikan setan untuk mengikuti jalan yang sesat.

Saudaraku, ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan

menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada pintu−pintunya. Pintu−pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu−pintu tadi.

Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu−pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu−pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya.

Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini.

Pintu pertama:

Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki)dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. 

Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias−hiasi sesuatu seolah−olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.

Pintu kedua:

Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan

menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a'udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya."
(As Silsilah Ash Shohihah no.1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Pintu ketiga:

Berlomba-lomba dalam kemewahan. Yaitu sangat suka menghias−hiasi tempat tinggal, pakaian, kendaraan mewah,  dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.

Pintu keempat:

Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:

"Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti." (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Pintu kelima:

Yaitu tamak dan menyukai kelebihan pada orang lain / mengidolakan manusia yang bukan seharusnya, karena idola setiap muslim sudah pasti hanya Nabi Muhammad SAW. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih−lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.

Seperti yang menimpa generasi muda sekarang ini yang mengidolakan artis-artis, sehingga mereka menyanjungnya sampai hampir-hampir tidak kenal agamanya sendiri . gara-gara mengidolakan dan meniru gaya hidup artis-artis yang ahli maksiat itu.

karena sudah pasti dunia selebritis adalah dunia kemaksiatan karena isinya hanyalah kehidupan serba glamour dan gaya hidup yang sebebas-bebasnya, contohnya seperti kemarin saya baca dari berita yang menyebar dimana-mana banyak fans-fans artis itu memuja-muja artis melebihi Nabinya sendiri, padahal artis itu adalah pezina, bahkan mereka menggelar do'a bersama supaya artis itu dibebaskan dari penjara, sungguh sangat aneh, sebesar apapun kesalahan idolanya mereka benarkan padahal mereka juga manusia yang pasti punya kesalahan.

Memang rusaknya generasi muda adalah dari situ, mereka lebih mengenal dan lebih mengidolakan artis-artis panutan sesat, daripada Nabinya sendiri. Mereka sudah buta syari'at Islam sampai-sampai idolanya berzinapun dibenarkan. Naudzubillah min dzalik.

Pinta keenam:
Yaitu sifat selalu tergesa−gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan−lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sifat perlahan−lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa−gesa itu berasal dari setan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami' Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Pintu ketujuh:

Yaitu cinta harta . Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.

Pintu kedelapan:
Yaitu mengajak orang awam supaya ta'ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.

Pintu kesembilan:

Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.

Pintu kesepuluh:

Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu'uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya.

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita supaya kita bisa menghindari pintu-pintu tersebut. agar kita termasuk orang-orang beruntung, amien

(Penulis : Ustadz Muh. Abduh Tuasikal)

10 Oktober 2011

PENJELASAN : IMAN DAN ISLAM (2)

Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnya melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islam adalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya. dengan Islam manusia akan dapat mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat, bila mengamalkan ajaran didalamnya dengan konsisten.

Agama Islam ada tiga tingkatan: Islam, iman dan ihsan. Dan setiap tingkatan mempunyai rukun.

A. Perbedaan di antara Islam, iman dan ihsan:
    

Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.


Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.


B. Pengertian Islam:
 
Islam adalah berserah diri kepada Allah SWT dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah SWT saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah SWT dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah SWT, maka dia seorang kafir yang sombong.

C. Rukun-Islam

Rukun Islam ada lima:

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata , "Rasulullah SAW bersabda, 'Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah , mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan."(Muttafaqun 'Alaih)


1. Pengertian Syahadah (laailaaha illallah):

 Manusia mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT, dan sesembahan-sesembahan selain Dia , maka ketuhanannya adalah batil dan ibadahnya juga batil. Kalimah syahadah tersebut mengandung nafi (meniadakan/menolak) dan itsbat (menetapkan). (Laa ilaaha), artinya menolak semua yang disembah selain Allah SWT, (Illallah) adalah menetapkan ibadah kepada Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menyembah-Nya, seperti tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.


2. Pengertian syahadah (Muhammad Rasulullah):
         
 Taat kepada Nabi SAW dalam perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi yang dilarangnya, dan dia tidak menyembah Alah SWT kecuali dengan cara yang disyari'atkannya.


D. Iman
 
Iman: Engkau beriman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.

          

 Iman adalah ucapan dan perbuatan. Ucapan hati dan lisan, dan amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat.


E. Cabang-cabang iman:
  

Dari Abu Hurairah RA., ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Iman terbagi lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan laailaa ha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu termasuk satu cabang dari iman." (HR. Muslim)

F. Tingkatan-tingkatan Iman:

Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.


1. Firman Allah SWT :


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ {4}


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, .

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka.  Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal :2-4)



2. Firman Allah SWT :


وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 74)



3, Firman Allah SWT :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُوْلاَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ


Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujuraan :15)
Seorang hamba tidak bisa mencapai hakekat iman sehingga dia mengetahui bahwa apapun yang menimpanya tidak akan luput darinya dan apapun yang luput darinya pasti tidak akan menimpanya.


G. Kesempurnaan Iman:
         

Cinta yang sempurna kepada Allah SWT Rasul-Nya memberikan konsekuensi adanya sesuatu yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah SWT, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah SWT, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah SWT.

Dari Abu Umamah ra, dari Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah SWT, niscaya dia telah menyempurnakan iman." (HR: Abu Daud)


H. Termasuk Perkara-Perkara Keimanan

1. Cinta kepada Rasulullah SAW:

            Dari Anas bin malik ra, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari pada ayahnya, anaknya, dan menusia sekalian."( Muttafaqun 'alaih.)

2. Mencintai kaum anshar:

            Dari Anas ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tanda iman adalah mencintai kaum anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum anshar."(Muttafaqun 'alaih)

3. Mencintai orang-orang yang beriman:

            Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, 'Kamu tidak bisa masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kaum saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kaum lakukan niscaya kalian saling mencintai, tebarkanlah salam di antara kamu." (HR. Muslim)

4. Mencintai saudaranya sesama Islam:

            Dari Anas bin malik ra, dari Nabi r, beliau bersabda, "Tidak beriman (sempurna) seseorang kamu sehingga dia mencintai saudaranya –atau tetangganya- apa yang dia cintai untuknya dirinya."( Muttafaqun a'alaih)
 
Mencintai tetangga dan tamu, serta tidak bicara kecuali tentang yang baik:

            Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya."
(Muttafaqun 'Alaih.)


5. Memerintahkan yang ma'ruf dan melarang yang mungkar:

            Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa di antara kalian melihat yang mungkar (yang dilarang agama) hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya) dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka (hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.
"( HR. Muslim.)

6. Nasehat:

            Dari Tamim ad-Darimi ra, bahwasanya Nabi r bersabda, " Agama adalah nasehat.' Kami bertanya, 'Untuk siapa?' Beliau menjawab, 'Untuk Allah SWT, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat Islam secara umum." (HR. Muslim)

I. Iman adalah amalan yang paling utama:

            Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya: 'Apakah amalan yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah SWT.' Beliau ditanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Haji yang mabrur." (Muttafaqun 'Alaih)
 
Iman bertambah dengan taat kepada perintah Allah dan selalu berdzikir kepada-Nya dan dapat berkurang dengan perbuatan maksiat:

1, Firman Allah SWT:

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath :4)

2, Firman Allah SWT:

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :"Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?". Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah :124)

3, Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, 
"Tidak berzina orang yang berzina saat berzina sedangkan dia dalam keadaan beriman. Tidak mencuri orang yang mencuri saat dia mencuri sedangkan dia dalam keadaan beriman. Dan tidak meminum arak (orang yang meminumnya) saat dia meminum sedangkan dia dalam keadaan beriman." (Muttafaqun 'alaih)

4, Dari Anas bin malik ra, dari Nabi r, beliau bersabda,
"Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat rambut. Akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata: 'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di hatinya ada kebaikan seberat biji gandum. Dan akan keluar dari neraka orang yang pernah berkata:'Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji sawi (atom)." Dan dalam satu riwayat:  'iman' di tempat 'kebaikan'.


J. Amal perbuatan orang kafir yang dilakukannya sebelum Islam, maka :

1, Apabila orang kafir masuk Islam, kemudian ia berbuat baik, maka segala keburukan diampuni untuknya, karena firman Allah SWT:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu :"Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". (QS. Al-Anfaal :38)

2, Dan segala amal kebaikan (yang dilakukannya semasa kufur) diberikan pahala kepadanya, berdasarkan riwayat bahwa Hakim bin Hizam ra bertanya kepada Rasulullah SAW: 
'Bagaimana pendapatmu terhadap beberapa perkara (kebaikan) yang pernah saya lakukan di masa jahiliyah, apakah ada balasannya untuk saya?' Rasulullah SAW bersabda kepadanya:'Kamu masuk Islam bersama kebaikan yang pernah kamu lakukan." (Muttafaqun 'Alaih)

3, Dan (sebaliknya) barang siapa yang masuk Islam, kemudian melakukan dosa, maka dia disiksa dengan (dosa) pertama dan yang terakhir. Berdasarkan sabda Nabi SAW : 
'Barang siapa yang berbuat di masa Islam, niscaya tidak disiksa karena perbuatan buruk yang dia lakukan di masa jahiliyah. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan di masa sesudah Islam, niscaya dia disiksa karena (dosa) yang pertama dan terakhir."(Muttafaqun 'Alaih)
Inilah keagungan Islam menjanjikan kepada siapa saja yang masuk Islam maka Allah akan mengampuni dosa yang telah dilakukan sebelum ia masuk Islam.

wallahu 'alam

Sumber : Islamhouse Indonesia


08 Oktober 2011

4 penyebab hati keras, sulit menerima hidayah


Tidak semua hati manusia  itu mudah menerima nasehat dan kebenaran, inilah yang menjadikan jalan hidup manusia tersesat.  Adapun sebab dari kerasnya hati tidak bisa menerima hidayah adalah karena maskiat dan lalai mengingat Allah, hati yang keras ibarat karang. Sulit menerima kebenaran dan gembira dalam kemaksiatan. tidak jarang kita temukan orang yang gemar maksiat, lalu dinasehati tetapi malah justru membantah bahkan lebih jauh dapat mengolok-olok agama,wal iyadzubillah. 
Model hati seperti inilah yang dilarang oleh Allah :

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. “(QS. Al-Hadid  ayat 16)



Ibnu Rajab  (736-795 H)seorang ulama hadits, ahli fiqih dan ushul terkemuka, merinci  sebab hati menjadi keras dan sulit menerima hidayah.

1.  Pertama, banyak bicara dan meninggalkan dzikrullah.

Ini disimpulkan dari hadits Rasulullah saw,

"Janganlah kamu banyak bicara kecuali dzikrullah. Sungguh, banyak bicara itu membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras," (HR Tirmidzi No.2413, Malik dan Baihaqy).

 Dalam riwayat lain, beliau bahkan menyebut hati yang keras sebagai salah satu biang kesengsaraan (HR al-Bazzar, Majma az-Zawaid 10/226).


2. Kedua, banyak tertawa.


Kebiasaan buruk ini menjadikan hati lalai mengingat Allah, sehingga  menjadikan hati  kehilangan ruh dan kesadaran jati diri. Maka tepat, jika Rasulullah saw jauh-jauh hari mengingatkan untuk menghindari kebiasaan yang satu ini.

"Janganlah kalian banyak tertawa, karena hal itu dapat mematikan hati," (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).


3. Ketiga, banyak makan.


Apalagi jika yang dimakan itu berupa barang syubuhat (meragukan) atau haram, atau diperoleh dengan cara yang sama. Seorang ulama, Bisyr bin al -Harits, pernah menjelaskan bahwa banyak bicara dan makan merupakan dua penyebab hati menjadi keras. selain menyebabkan hati keras, banyak makan akan menyebabkan badan subur dan besar syahwatnya, inilah "bahan bakar" dari setan untuk melakukan maksiat. sangatlah bijak Rasulullah mengajarkan kepada kita supaya puasa karena dengan puasa nafsu syahwat akan teredam.


4. Keempat, banyak dosa dan maksiat.

Rasulullah saw sangat tepat dalam salah satu haditsnya, ketika mengibaratkan dosa seperti titik hitam yang menempel di hati. Jika pelakunya bertobat lalu meninggalkan kemaksiatannya dan memohon ampun pada Allah, hatinya berubah mengkilat. begitu juga dengan keimanan dapat bertambah dan berkurang dapat bertambah jika senantiasa mengingat Allah, dan berbuat kebaikan dan dapat berkurang dengan lalai mengingat Allah dan senang dengan kemaksiatan.

“Jika kemaksiatannya bertambah, bertambah juga titik itu sehingga hatinya menjadi tinggi, sombong dan tak dapat menerima kebenaran (HR Tirmidzi).



CARA MEMBUAT HATI LEMBUT DAN DAPAT MENERIMA KEBENARAN.

Lalu bagaimana membuat hati menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Ulama-ulama generasi awal mengajukan beberapa resep melembutkan hati, berikut :

1. Pertama, banyak mengingat Allah dalam hati dan lisan.


Termasuk di dalamnya, membaca al-Qur'an dan merenungi kandungannya. Dikisahkan dalam "Az-Zuhd" (2/233), seseorang datang kepada Hasan bin Ali mengadukan hatinya yang keras. Beliau lalu menasehatinya, "Lunakkanlah dengan dzikir." Lebih tegas lagi, Yahya bin Mu'adz dan Ibrahim al-Khawwash, menggolongkannya dalam lima penawar hati, yaitu: membaca al Qur'an dan merenunginya, mengosongkan perut, qiyamullail, beribadah di malam hari dan berkawan dengan orang-orang shalih (Al-Hilyah 10/327).  Dzikirlah yang membuat hati menjadi teduh dan tentram, sehingga dapat jernih memandang berbagai persoalan yang dihadapi.
Firman Allah SWT :

 "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram," (QS ar-Ra'd:28).


2. Kedua, berbuat baik pada anak-anak yatim dan fakir miskin.

 Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah saw,
 "Jika anda ingin melunakkan hati anda, sentuhlah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin," (HR Ahmad).


3. Ketiga, banyak mengingat mati.


Merenungkan kematian yang pasti datang menjemput, suka atau tidak suka, akan menyentak kesadaran nurani kita tentang hakikat tujuan hidup sebenarnya. Segala kemegahan dan nilai di mata manusia, menjadi tak berarti. Yang berarti hanyalah nilai kita di mata Allah. Jika begitu, tak ada jalan lain kecuali menuruti aturan-Nya dengan segala keikhlasan'

"Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan (mati)," pesan Rasul saw pada umatnya (HR Tirmidzi, Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Majah).


4. Keempat, menziarahi kubur dan memikirkan keadaan penghuninya.


Hal ini sangat bermanfaat bagi setiap muslim dalam mengevaluasi segala kealpaan diri. Melupakan sejenak segala kesenangan dan kegembiraan duniawi, lalu membenamkan diri dengan mengingat dosa dan kemaksiatan. Untuk selanjutnya, bertaubat kepada Allah, memohon ampunan-Nya dan bertekad tidak mengulang kembali kemaksiatan-kemaksiatan tersebut.

Sabda Rasulullah saw, "Ziarahilah kuburan karena hal itu dapat mengingatkan kalian dengan kematian," (HR Muslim 976, Abu Dawud 3234, Ibnu Majah 1572 dan Ah¬mad 2/441).

Janganlah biarkan hati kita keras sehingga sangat sulit menerima kebenaran padahal dia tahu kalau itu benar, tetapi karena hati keras adalah seperti batu yang tidak bisa dimasuki apapun kecuali senang dalam maksiat, sehingga termasuk kaum yang sesat dan merugi, Naudzubillah min dzalik.



Wallahu A’lam





(sumber : majalah sabili )

03 Oktober 2011

Matahari mengelilingi bumi..!?,

Ada salah satu buku yang menarik dibaca sekaligus menarik sekali untuk dikritisi karena bertentangan dengan dalil yang lainnya dan bertentangan pula dengan fakta-fakta pengetahuan  dizaman modern ini, dengan akal saja sudah pasti menyanggah apalagi dengan dalil al-Qur'an dengan tafsir yang sebenar-benarnya. buku itu berjudul "Matahari Mengelilingi Bumi." berikut ini adalah opini dan fakta "Matahari mengelilingi bumi Vs Bumi mengelilingi Matahari".

Diantara ulama yang mengatakan bahwa matahari yang mengelilingi bumi adalah Syeikh Ibnu Utsaimin. Beliau mengatakan bahwa hal itu ditunjukkan melalui lahiriyah dalil-dalil syar’iyah. Perputaran matahari menjadikan adanya pergantian antara siang dan malam diatas permukaan bumi, diantara dalil-dalilnya :

فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ

Artinya : "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," (QS. Al Baqoroh : 258)
Terbitnya matahari dari timur merupakan bukti yang jelas bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَآ أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

Artinya : “kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al An’am : 78)

Didalam ayat ini dijelaskan bahwa tenggelam tersebut terjadi dari matahari bukan terhadapnya, seandainya bumi yang berputar maka akan dikatakan, فلما أفل عنها (maka tatkala dia tenggelam darinya)

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

Artinya : “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Az Zumar : 5)

Perkataan يكور الليل على النهار (Dia menutupkan malam atas siang) yaitu mengitarinya seperti perputaran pada sorban, ini merupakan bukti akan perputaran malam dan siang terhadap bumi dan seandainya bumi yang mengitari keduanya maka akan dikatakan 

يكور الأرض على الليل والنهار .
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ﴿٣٨﴾
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ ﴿٣٩﴾
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ ﴿٤٠﴾

Artinya : “dan matahari berjalan ditempat peredarannya demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yasin : 38 – 40)

Kata berjalan yang ditempelkan kepada matahari dan adanya ketetapan dari Sang Pemilik izzah dan ilmu menunjukkan bahwa perjalanan tersebut adalah hakiki dengan ketetapan yang pasti sehingga menimbulkan pergantian siang dan malam dan berbagai musim.

Ketetapan bagi bulan manzilah-manzilah (posisi-posisi) menunjukkan perpindahannya terhadap bumi dan seandainya bumi yang berputar tentunya bumilah yang memiliki manzilah-manzilah terhadap bulan. Kemudian tidak mungkinnya matahari mengejar bulan dan malam mendahului siang juga menunjukkan pergerakan matahari, bulan, malam dan siang.

Nabi saw bersabda kepada Abu Dzar r.a dan matahari telah terbenam. Artinya:”Apakah kamu tahu kemana matahari itu pergi?” Dia (Abu Dzar) menjawab:’Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu’. Beliau bersabda:”Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah Arsy, kemudian minta izin lalu diizinkan baginya, hampir-hampir dia minta izin lalu dia tidak diizinkan. Kemudian dikatakan kepadanya; Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya). (Muttafaq Alaihi)

Kata-kata “; Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari arah barat (tempat terbenamnya).” Tampak begitu jelas bahwasanya matahari lah yang mengelilingi bumi dan karena perputarannya itu menjadikannya terbit dan tenggelam. (sumber : www.ahlalhdeeth.com)

Perputaran bumi mengelilingi matahari 

Prof. DR. Manshur Muhammad Hasban Nabiy mengatakan bahwa manusia baik dari kalangan awam maupun para ahli sejak berabad-abad lalu setelah turunnya Al Qur’an menyakini bahwa bumi diam tidak bergerak.

Kalau begitu bumi tidak memiliki gerakan yang bisa dirasakan secara lahiriyah seperti gerakan matahari secara lahiriyah dari timur ke barat walaupun Al Qur’an Al Karim menegaskan kepada manusia tatkala diturunkan tentang pergerakan bumi semetara mereka merasakan bahwa bumi itu diam pasti mereka akan mendustainya, dan sungguh terdapat penghalang antara mereka dengan hidayah.

Dan diantara himah dan mukjizat yang luar biasa didalam metode menyadarkan manusia terhadap Kitab Allah swt tentang pergerakan bumi pada porosnya serta pergerakannya mengelilingi matahari berbeda dengan berbagai macam isyarat yang menghasilkan dua pergerakan itu dengan metode yang menganjurkan kita untuk melakukan riset terhadap keduanya sehingga merasakan nikmat Allah kepada kita yang hasilnya adalah pergerakan bumi. Dan sesungguhnya Al Qur’an telah mengisyaratkan tentang pergerakan perpindahan perputaran bumi mengelilingi matahari sebagaimana firman Allah swt

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

Artinya : “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.” (QS. An Naml : 88)

Sebagaimana diketahui oleh para ahli astronomi bahwa awan tidaklah bergerak sendiri akan tetapi perpindahannya dibawa oleh angin, demikian pula gunung-gunung yang dilihat oleh seseorang, dia mengira bahwa gunung itu tetap di tempatnya padahal dia bergerak dengan cepat juga sementara manusia tidak melihatnya.

Hal itu bukanlah dikarenakan gunung-gunung atau orang-orang yang melihatnya yang memindahkannya akan tetapi bumi yang berpindah dengan cepat di antariksa alam semesta sebagaimana kecepatan angin terhadap awan. Dan kedua-duanya adalah ciptaan Allah swt yang telah meneguhkan segala sesuatu, Dia lah Yang Maha Suci yang mengirimkan angin yang menggerakkan awan dan Dialah swt yang menggerakkan bumi yang membawa gunung-gunung yang berjalan seperti perjalanan awan.

Inilah tafsir ilmiah terhadap kenyataan alam semesta didalamnya berupa peneguhan ciptaan-Nya yang menunjukkan akan kebesaran Sang Pencipta dan Kekuasaan Yang Maha Suci.

Para ahli tafsir klasik telah mengalami kekeliruan dalam mengambil pelajaran dari ayat yang memberikan isyarat akan kehancuran gunung-gunung sehancur-hancurnya pada hari kiamat !

Mereka perlu mendapat pemakluman dalam hal ini dikarenakan mereka belum mengetahui bahwa bumi bergerak dengan suatu gerakan, bukan harian maupun tahunan, karena itu mereka mengalami kekeliruan dalam memberikan arti terhadap apa yang menjadi tuntutan ilmiyah didalam sebuah ayat yang mulia serta lupa akan hal-hal yang menjadi mu’jizat bayani didalam ungkapan Al Qur’an yang menghalanginya untuk mengembalikannya (tafsir surat an Naml : 88, pen) kepada tafsir ukhrowi dikarenakan sebab-sebab berikut :

1. Gunung-gunung pada hari kiamat tidaklah ada dikarenakan ia akan berantakan dan hancur lebur, sebagaimana firman Allah swt :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

Artinya : “dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, Maka Katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya” (QS. Thaha : 105)
وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ

Artinya : “dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At Takwir : 3)

Bagaimana manusia dapat melihat gunung-gunung yang telah hancur lebur dan tidak ada kesempatan pada hari itu untuk memikirkan gunung-gunung dan yang lainnya pada waktu yang diliputi dengan suasana mencekam dan mengerikan sebagaimana firman Allah swt :

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ

Artinya ; “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (QS. Abasa : 34)
لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Artinya : “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. Abasa : 37)

2. Firman Allah swt :
"...kamu sangka dia tetap di tempatnya“"

Hal itu terjadi di dunia bukan di akherat, dan dunia adalah negeri yang penuh dengan berbagai kemungkinan dan dugaan sedangkan akherat adalah negeri yang penuh dengan keyakinan, sebagaimana firman Allah swt :

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

Artinya : “dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.” (QS. At Takatsur : 7)

3. Firman Allah swt diakhir ayat :

إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ 

Artinya : “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An Naml : 88),

maksudnya Maha Mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan sekarang di dunia dan akherat adalah negeri pembalasan bukan negeri untuk beramal atau bekerja.

4. Firman Allah swt :

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

Artinya : “(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.” (QS. An Naml : 88)

memberikan isyarat kepada dunia dikarenakan kehancuran, kerusakan dan keruntuhan pada hari kiamat tidaklah dinamakan dengan shun’an (perbuatan) dan tidak juga termasuk dalam ‘itqon (kekokohan), sebagaimana disebutkan oleh DR. Al Ghamrawi dan az Zamakhsyari sajalah yang mengetahui dengan perasaan yang fashih akan ketidaksesuaian antara firman Allah صنع الله اللذى أتقن كل شيء dengan kehancuran gunung-gunung pada hari kiamat.. dia mengatakan,”Makna hari ditiupkannya sangkakala, begini dan begitu, Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang berbuat baik dan mengadzab orang-orang yang jahat.”

Kemudian berkata صنع الله maksudnya adalah pemberian pahala dan sangsi. Dan menjadikan صنع (perbuatan) ini diantara kalimat segala sesuatu yang diteguhkan, dan dipakainya kalimat itu sebagai hikmah dan kebenaran hingga akhir perkataannya yang kemudian banyak ditentang oleh selainnya seperti Abu Hayyan walaupun mereka semua belum mengetahui isyarat ayat ini terhadap pergerakan bumi !
Dan seandainya Az Zamakhsyari dan Abu Hayyan mengetahui apa yang kita ketahui pada hari ini berupa perputaran bumi mengelilingi matahari dengan cara-cara yang jelas dan pergerakannya di antariksa serta apa yang telah ditetapkan oleh sunnah ilahiyah yang rinci dan apa-apa yang memberikan manfaat kepada manusia pasti mereka akan mengagungkan Allah dan bersegera kepada makna yang terdapat didalam ayat serta membuat perumpamaan dengan bukti-bukti kongkrit lagi nyata dan mereka akan mengetahui ajakan didalam

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS. An Naml : 88)

Ia adalah ajakan yang ditujukan kepada manusia saat ini pada zaman iptek dan di setiap zaman yang akan datang yang menunjukkan akan satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar sebagai sebab mendapatkan hidayah dari Allah sebagaimana Allah menunjukkan didalam dua ayat sebelumnya akan pergerakan kumparan pada bumi dialam firman-Nya

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An Naml : 86)

Susunan perkataannya menunjukkan pergerakan bumi di dunia yang menjatuhkan argumentasi para ahli tafsir klasik bahwa ayat :

وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاء اللَّهُ

Artinya : “dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An Naml : 87)

Didalam kedua ayat tersebut terdapat isyarat terhadap penafsiran akherat dengan hancurnya gunung-gunung pada hari kiamat, Imam Asy Syeikh Asy Sya’rawi mengatakan bahwa perumpamaan Al Qur’an مر السحاب (sebagai jalannya awan) menjadikan kita bertanya-tanya.

Mengapa Allah tidak mengatakan مر الرياح (jalannya angin), مر العواصف (jalannya angin angin topan) مر الأمواج (jalannya ombak) atau lafazh yang lainnya.. dikarenakan awan tidaklah bergerak sendiri akan tetapi didorong dengan suatu kekuatan yaitu kekuatan angin, dengan ini Allah swt menyadarkan kita bahwa pergerakan gunung di sini bukanlah pergerakan dengan sendirinya seperti pergerakan bumi dan sebagaimana pergerakan angin akan tetapi gunung-gunung berjalan dihadapanmu sebagaimana pergerakan awan yaitu bergerak dengan pergerakan bumi dan mengapa Allah swt tidak mengatakan .... “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan, berlari atau bergerak...?” Karena itu Allah swt menghindari lafazh-lafazh yang menunjukkan bahwa gunung-gunung bergerak dengan sendirinya, inilah i’jaz (keagungan Al Qur’an)

Prof. Manshur juga menjelaskan bahwa betul telah dibuktikan secara ilmiyah bahwa bumi berputar mengelilingi matahari sekali setiap 365,25 hari dengan kecepatan perputarannya mencapai sekitar 67.000 mil/jam dan itu didalam orbit setengah diameternya yang sekitar 93.000.000 mil, dan dengan ini bumi tetap tegak diatas porosnya dan tidak melemparkan kita dari permukaannya.

Kembali kepada surat An Naml : 86 – 88 bahwa ayat yang pertama menunjukkan kenyataan salah satu pergerakan bumi, yaitu pergerakan pada porosnya dengan pergantian malam dan siang, sebagaimana firman-Nya :

أَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا اللَّيْلَ لِيَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا

Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi?” (QS. An Naml : 86) 

dan isyarat pada ayat ketiganya tentang pergerakan lain dari bumi didalam firman-Nya :

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

Artinya : “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.” (QS. An Naml : 88)

Pergerakan Bumi Bersama Matahari

Kita telah mengetahui sejak abad XVI M bahwa bumi berputar pada porosnya serta mengelilingi matahari kemudian terjadi penjelasan pada abad XX M bahwa matahari tidaklah diam di pusat seluruh planetnya, akan tetapi bergeraknya dengan dua gerakan didalam galaksi bima sakti, sebagaimana berikut :

1. Pergerakan matahari secara serasi dengan bintang-bintang galaksi disekitarnya dengan kecepatan 43.000 mil/jam terhadap bintang vega.

2. Pergerakan matahari pada saat yang sama mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan perputarannya mencapai 54.000 mil/jam.

Dan dimana seluruh planetnya—yang sembilan dan satelit-satelitnya termasuk bumi dan bulannya, ikatan-ikatan planetnya serta komet-kometnya—menyertai matahari sementara kita diatas bumi akan bergerak bersama matahari didalam gerakan pertama dan kita berputar bersama matahari didalam gerakan kedua di alam galaksi.

Dan suatu kebenaran yang mengagumkan adalah bahwa kedua gerakan tersebut sempurna analoginya... sebagaimana disebutkan didalam Al Qur’an Al Karim :

1. Pergerakan matahari.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Artinya : “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.” (QS. Yaasin : 38)

Kata kerja تجرى (berjalan) tampak sesuatu yang nisbi dimata manusia akan pergerakan matahari setiap harinya dari timur ke barat, ia adalah gerakan yang menipu bagi matahari karena yang bergerak adalah bumi, bumilah yang berputar mengelilingi dirinya dari barat ke timur sehingga tampak bagi kita bahwa matahari yang begerak secara nisbi ke arah yang berlawanan dengan gerakan pohon apabila anda lihat dari jendela kereta api... Hal inilah yang tidak diketahui oleh para ahli tafsir klasik.

(والشمس تجرى) “matahari berjalan” merupakan mu’jizat ilmiyah yang besar yang tidak terfikirkan oleh seseorang sehingga disingkap oleh para ahli fisika antariksa setelah tersedianya alat-alat teropong dan memungkinkan tafsir dengan efek doppler yang memunculkan penyingkapan terbesar dipertengahan abad XX ini dan Maha Suci Allah yang menjadikan gumpalan dari api sebanding kurang lebih dengan 333.000 kali gumpalan bumi berputar di kerajaan Allah dengan kecepatan 43.000 mil/jam.

Selanjutnya firman Allah لمستقر لها “ditempat peredarannya” ... sebenarnya bahwa tempat peredaran yang menjadi akhir dari pergerakan matahari adalah diantara perkara yang ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui yang menetapkan pergerakan dengan keadaannya yang berakhir sampai tujuannya pada waktu yang hanya Allah saja yang mengetahuinya sebagai petunjuk akan berakhirnya matahari pada masa yang akan datang sebelum atau saat terjadi kiamat.

Beliau juga mengatakan bahwa sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa makna tempat peredaran adalah pergerakan matahari secara lahiriyah dan merubah posisinya di sebelah timur dan barat pada orbit satu tahun dan kembali lagi secara lahiriyah setiap tahun antara ujung kedua tempat itu, matahari sampai ke ujung keduanya itu pada waktu musim dingin dan musim panas dan tidak menyalahi keduanya dan setiap tempat dari kedua ujung itu memiliki tempat peredarannya.

Menurut pandangan para ahli tafsir, yaitu sekali pada waktu musim dingin dan sekali pada waktu musim panas karena mereka menetapkan bahwa matahari apabila tiba di salah satu dari kedua tempat itu maka ia mulai untuk kembali secara bertahap sehingga tiba di tempat yang lainnya selama enam bulan. Ini bukanlah tempat peredaran kecuali apabila dilihat dari aspek majaz, dan kita memaklumi para ahli tafsir dikarenakan mereka belum mengetahui bahwa pergerakan lahiriyah matahari merupakan hasil dari pergerakan bumi mengelilingi dirinya sendiri setiap hari dan mengelilingi matahari setiap tahun.. dengan ini jelaslah mukjizat (keagungan) didalam ayat di surat Yaasin “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.”

Subhanallah ternyata Al Qur’an mengatakan kepada setiap manusia yang berbeda dengan akal dan zaman mereka, dan yang terpenting di sini adalah bahwa bumi bergerak bersama matahari di angkasa raya.

2. Pergerakan matahari pada orbitnya mengelilingi galaksi.
Telah dibuktikan melalui teropong pada masa kini bahwa matahari adalah bintang didalam galaksi bima sakti yang mencakup 130 juta bintang seperti matahari kita yang tersebar di cakram galaksi yang cembung di pusat dengan ketebalan mencapai 10.000 tahun cahaya dan diameter galaksi mencapai 100.000 tahun cahaya sedangkan letak matahari berada pada 33.000 tahun cahaya dari pusat dan itu pada salah satu lintasan yang berputar bersama matahari mengelilingi pusat galaksi sekali setiap 250 juta tahun dengan kecepatan putaran matahari mencapai 540.000 juta mil/jam.

Sungguh suatu kecepatan yang sangat kencang dan konstan bagi matahari dan bumi kita yang menyertainya tanpa kita merasakan perputaran angkasa raya ini dan yang telah ditunjukkan Al Qur’an dua kali didalam firman-Nya :
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

Artinya : “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasin : 40)

Artinya : “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. Al Anbiya : 33)
(sumber : www.55a.net)

Prof. DR. Manshur Muhammad Hasban Nabiyy adalah penulis buku “I’jazul Qur’an fii Aafaqiz Zaman wal Makan” (Keagungan Al Qur’an di cakrawala zaman dan tempat)
Wallahu A’lam.

01 Oktober 2011

Neraka, Penderitaan Kekal Tanpa Jeda

Maka, Kami memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman. (QS.al-Lail 14-16)

Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengimami Shalat Maghrib dengan membaca Surat al-Lail. Tatkala bacaan sampai pada firman-Nya, “fa andzartukum naaran talazhzha..”,  beliau menangis hingga tak mampu melanjutkan bacaannya. Kemudian beliau mengulanginya dari awal, namun sampai pada ayat yang sama, beliau kembali menangis dan tak sanggup melanjutkannya. Hal itu terjadi dua atau tiga kali, lalu beliau membaca surat yang lain.

Kita memang tidak bisa mengukur persis, gejolak macam apa yang membuncah di dada beliau, hingga air mata tumpah tak terbendung. Tapi, begitulah karakter ulama, “innama yaksyallaha min ‘ibaadihil ‘ulama’, hanyasanya orang yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama’.

Mereka merasa menjadi obyek langsung dari Kalamullah. Lantas seperti apa perasaan seseorang yang merasa diingatkan langsung oleh Allah? Apalagi, tatkala peringatan itu berupa ancaman siksa neraka, yang tak ada lagi level penderitaan yang menandinginya.

Orang yang masuk neraka adalah yang Paling Celaka

Neraka tidak dimasuki kecuali oleh orang yang paling celaka. ”La yashlaaha illal asyqa”, Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka. Tidak ada lagi orang yang lebih celaka darinya. Karena neraka disifati dengan segala kepungan penderitaan dan kesengsaraan, dan dinihilkan dari segala hiburan dan kesenangan.


Di dunia, kita memang sering menyaksikan dan mendengar kisah tentang penderitaan seseorang. Tentang orang yang miskin , beratnya penyakit yang menimpa, atau dahsyatnya musibah yang menerpa. Tapi, itu semua sungguh tidak seberapa jika  dibandingkan dengan penderitaan neraka. Pasti ada jeda derita di dunia apalagi derita dunia ini hanya sesaat tak sebanding sama sekali dengan kekalnya penderitaan neraka, pun banyak faktor yang bisa membuat beban menjadi ringan dirasa. Tidak sebagaimana derita di neraka, bersabar atau tidak bersabar sama saja bagi mereka.

Intensitas siksa yang tiada jeda dan tanpa koma, bahkan tak ada sedikit waktu meski hanya sekedar menurunnya kadar derajat siksa. Hingga para penghuninya berkata,

”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari” (QS al-Mukmin: 49)

Menu Makanan di Neraka

Pada hakikatnya, makanan dan minuman itu identik dengan kenikmatan dan kelezatan. Tapi tidak demikian halnya dengan menu yang disediakan di neraka. Makanan menjadi siksa, minuman juga sebagai siksa, dan buah-buahan pun berupa siksa.

Ada makanan dhaari’, yang tidak menghilangkan rasa lapar, apalagi membuat perut menjadi kenyang. Rasapun bertentangan dengan selera lidah, bahkan untuk menelannya  harus dengan merobek tenggorokan, karena ia berupa duri,

“Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS al-Ghasyiyah:6-7)

Disediakan pula menu buah untuk mereka. Namun bukan untuk menambah vitamin atau hidangan penutup yang menyempurnakan kenikmatan. Bentuknya menyeramkan, tumbuh dari tempat yang sangat mengerikan, yaitu pohon zakum yang tumbuh dari dasar neraka jahanam, Firman Allah Ta'ala :

”Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zhalim.. Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar naar jahim. mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. (QS. Ash-Shaffat 63-65)

Tentang rasa, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda memberikan perumpamaan yang menakutkan,
”Seandainya satu tetes dari zaqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan di dunia, lantas bagaimana halnya dengan orang yang memakannya?” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shahih)

Tidak disebutkannya akhir dari orang yang menyantapnya itu menunjukkan kedahsyatannya, hingga sulit digambarkan dengan kata-kata, atau dibayangkan dengan nalar manusia, semoga Allah menjauhkan kita dari neraka.

Jenis makanan lain yang disediakan bagi penghuni neraka adalah ghisliin, Firman Allah Ta'ala :

“Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.”  (QS. al-Haaqah: 36)

Di antara ulama menafsirkan bahwa ghisliin adalah adonan dari seluruh kotoran yang keluar dari tubuh penghuni neraka, baik nanah, keringat, ludah, maupun kotoran dari depan maupun belakang, nas’alullahal ‘aafiyah.
Minuman yang Disediakan di Neraka
Jika makanan penghuni neraka begitu mengerikan, lantas bagaimana dengan minumannya? Sebagaimana halnya makanan, mereka juga diberi aneka jenis minuman. Tapi masing-masing minuman menjanjikan sisi penderitaan yang berbeda-beda, dengan tingkat derita yang paling ekstrim.
Ada minuman ’hamiim’, air yang mencapai tingkat panas yang paling puncak, hingga meluluhlantakkan segala isi perut yang meminumnya,

“dan diberi minuman dengan air yang mendidih (hamim) sehingga memotong-motong ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

Jauh sekali dari kesegaran, tidak pula bermanfaat untuk mengusir haus dan dahaga, bahkan peminumnya menanggung derita tiada tara saking panasnya. Berbeda halnya dengan minuman ‘shadiid’, siksa yang dirasakan bukan semata karena panasnya, namun karena bau dan wujud yang sangat menjijikkan,

“Diminumnya air nanah (shadiid)  itu, dan hampir dia tidak bisa menelannya.” (QS. Ibrahim: 17)

Dan terakhir adalah minuman dari air ‘muhl’, cairan besi yang mendidih, sebagaimana firman Allah,

“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. 18:29)

Begitu komplit jenis penderitaan neraka yang tak diselingi sedikitpun oleh kenikmatan ataupun kesenangan. Itulah balasan bagi orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari ketaatan. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita kebenaran dan menjauhkan kita dari siksa neraka . Amin.

sumber : majalah arrisalah

27 September 2011

Kebohongan Teori Evolusi Darwin

Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan berbagai penelitian, pernyataan "evolusi manusia" belum pernah dilandasi oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya di bidang fosil.

Kalangan masyarakat awam adalah korban paling empuk dari teori ini, kebanyakan mereka umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat itu adalah benar.

Sepanjang sejarah, terdapat lebih dari 6000 spesies kera dari yang terkecil, sedang hingga besar yang pernah hidup dan kebanyakan dari mereka telah punah. Fosil dari 6000 spesies kera-kera punah inilah yang memberikan sumber berlimpah bagi evolusionis.

Ditulisnya skenario tentang evolusi manusia dengan cara menyusun sejumlah tengkorak, sekehendak hati mereka, berurutan dari spesies yang paling kecil ke paling besar dan menyisipkan tengkorak-tengkorak dari sejumlah kaum kaum yang dimusnahkandi antara susunan ini.

Jika pembaca cermat, dalam buku-bukunyanya sendiri, darwin terlalu banyak menggunakan kata probably, yang berarti mungkin saja. Artinya dia sendiri belum yakin 100 persen akan teorinya.

Makhluk yang dinamai Australopithecus sendiri hanyalah jenis kera yang telah punah. Australopithecus berarti "kera daerah selatan". Seluruh spesies Australo- pithecus, yang dimasukkan ke dalam pengelompokan yang berbeda, sebenarnya hanyalah jenis kera punah yang menyerupai Manusia Hutan / ORANG HUTAN.

Ukuran tengkorak mereka adalah sama, atau lebih kecil dari simpanse yang kita temui sekarang. Terdapat bagian-bagian menonjol di bagian tangan dan kaki yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse masa kini, dan kaki mereka memiliki kemampuan untuk berpegangan pada dahan pohon. Banyak ciri lain seperti dekatnya jarak kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang bawah, lengan yang panjang, kaki yang pendek, yang membuktikan makhluk ini tidaklah berbeda dari Manusia Hutan.

Dengan memperhatikan pada kehidupan Manusia Hutan/ Orang Hutan dengan ciri volume otak, maka jelas fosil fosil yang diduga manusia purba, yang ditemukan itu sebenarnya BUKANLAH MANUSIA PURBA berwujud kera melainkan kera yang mempunyai struktur mirip manusia. dengan kata lain fosil tersebut adalah BINATANG, ..........bukan manusia.

Dari dulu sampai sekarang manusia tidak pernah berevolusi dalam hal fisik sebagaimana yang darwin katakan. Kalau memang teori darwin benar, kenapa tidak ada satupun manusia yang berevolusi ke bentuk lain yang lebih canggih. Dan terpikirkah pembaca, jika teori evolusi itu benar, seharusnya makhluk yang bernama monyet mungkin tidak akan pernah kita jumpai saat ini, karena rentang waktu yang lama memungkinkan semua monyet berubah menjadi manusia ?????? Adakah yang bisa menjawabnya????

" Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu (Adam), dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan (manusia) laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan SILATURRAHIM. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." ( QS. An-Nisaa', ayat ke-1 )

Lalu perhatikan kalimat yang tercetak tebal pada petikan ayat diatas. Adakah Allah swt menciptakan Adam lebih dari SATU ???

sumber : GlobalMuslim.com

21 September 2011

PACARAN ITU HARAM DAN PINTU TERLEBAR MENDEKATI ZINA !


MUKADIMAH :

Kita telah banyak mendengar bahkan mungkin malah sampai bosan mendengar berita dan peristiwa-peristiwa kenakalan generasi muda sekarang ini. Diantara yang sangat memprihatinkan menimpa generasi muda adalah budaya “pacaran” yang sudah dianggap hal biasa karena pengetahuan agama Islam yang sangat kurang, dan pihak sekolah lebih mengedepankan Ilmu pengetahuan umum yang menyibukan siswa dengan hafalan dan ulangan harian, yang belum tentu berguna semua ilmunya ketika mereka Lulus dan terjun langsung kelapangan . 


Justru pendidikan budi pekerti mereka yang merupakan “pendidikan utama” disekolah diabaikan sama sekali. Beginilah akibat dari pendidikan sekolah jaman sekarang yang sangat tidak efektif, ditambah arus globalisasi yang merupakan kemajuan Iptek yang pesat diiringi derasnya arus kebudayaan barat yang penuh pertentangan dengan budaya Luhur Islam apalagi tanpa diimbangi bekal Ilmu agama yang cukup sehingga begitulah akibatnya, menambah rusaknya moral generasi penerus. 


Sepertinya tak ada seorangpun yang peduli dengan hal ini. Mereka pihak-pihak yang berwenang hanya bisa menyalahkan atau mengkambing-hitamkan rusaknya moral kepada para Remaja, beralasan karena faktor psikologi, perhatian orangtua dan alasan lain yang tidak logis untuk menutupi kesalahan mereka. Dan yang pasti adalah hal itu terjadi karena kurangnya pendidikan moral dan agama Islam yang kurang atau malah justru diacuhkan.

Contoh peristiwa yang sangat memilukan adalah ada anak sekolah seusia SMP dikeluarkan gara-gara hamil ada juga karena skandal beredarnya video asusila lewat Hp atau internet yang dilakukan salah satu siswi dengan lawan mainnya, pergaulan bebas dimana-mana, pemuda-pemudi berdua-duaan tanpa malu ditempat umum lebih parah juga ada yang masih mengenakan atribut seragam sekolah, apalagi berpacaran ditempat sepi maka zina pun terjadi. 


Begitu juga ditambah tontonan dan santapan sehari-hari adalah sinetron yang isinya hanya mengajari budaya hidup serba bebas, glamour dan artis-artis pengumbar aurat, diperburuk lagi dengan hadirnya “facebook” / situs jejaring sosial yang secara tidak langsung mempromosikan perzinaan, karena sudah banyak kasusnya perzinaan bermula dari kenalan lewat facebook.  


Akankah peristiwa ini akan memburuk? Masih adakah yang peduli dengan pendidikan moral generasi muda penerus kehidupan masa depan, kalau generasi sekarang saja sudah bobrok apalagi generasi berikutnya? sangat jelas kalau hal itu adalah tanda akhir zaman, perzinaan meraja lela dan dianggap hal biasa, sesuai hadits Rasulullah :

Di antara tanda-tanda kiamat ialah ilmu terangkat, kebodohan menjadi dominan, arak menjadi minuman biasa, zina dilakukan terang-terangan, wanita berlipat banyak, dan laki-laki berkurang sehingga lima puluh orang wanita berbanding seorang pria. (HR. Bukhari)

Kebodohan yang dominan yang dimaksud hadits tadi adalah semakin banyaknya orang yang tidak paham agama karena kurangnya pendidikan agama dirumahnya apalagi diskolah-sekolah umum sekarang ini, sehingga tidak tahu adab dan hukum-hukum Islam, sehingga berbuat keji mereka anggap biasa. 


Zina terang-terangan yang terjadi sekarang ini  adalah pacaran (zina tangan dan mulut), dan juga yang nampak jelas adalah beredarnya video asusila melalui media elektronik seperti VCD, Hp dan Internet. Sedangkan masa yang lebih parah adalah manusia melakukan perzinaan tanpa malu dijalan-jalan dan tempat umum tanpa malu seperti keledai , pada saat itulah kiamat terjadi, semoga kita tidak mengalami masa tersebut. Karena kiamat hanya menimpa orang-orang kafir.


PACARAN ITU HARAM, SANGATLAH JELAS DALILNYA.

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek".  (Q.S. Al Israa': 32).
Dalam tafsir Kalamul Mannan, Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'di berkata: "Larangan Allah untuk mendekati zina itu lebih tegas dari pada sekedar melarang perbuatannya, karena berarti Allah melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor-faktor yang mendorong kepadanya.”

Maka bisa dikatakan, kalau jalan-jalan dan faktor-faktor yang menuju kepadanya saja dilarang apalagi perbuatannya!
Sungguh amat keji perbuatan itu dan sungguh amat benar ucapan Allah bahwa zina adalah Fahisyah yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman pula dalam tafsirnya: "Al Fahisyah adalah sesuatu yang dianggap sangat jelek dan keji oleh Syari'at, oleh akal sehat dan fitrah manusia, karena mengandung pelanggaran terhadap hak Allah, hak wanita, hak keluarganya atau suaminya, dan merusak kehidupan rumah tangga serta tercampurnya (kacaunya) nasab keturunan.”
Dan sering sekali fahisyah di dalam Al-Qur'an ataupun Al-Hadits dimaksudkan dengan zina.
Demi Allah sesungguhnya zina adalah dosa besar dan bukan masalah kecil. Ibnu Mas'ud pernah bertanya tentang dosa-dosa besar kepada Rasulullah SAW :
Aku berkata: "Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar disisi Allah?
Beliau bersabda: "engkau menjadikan bersama Allah sekutu yang lain, padahal Dia menciptakanmu".
Dia (Ibnu Mas'ud) berkata: "Kemudian apa?"
Beliau bersabda: "Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu."
Dia berkata: "kemudian apa?"
Beliau bersabda: "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." (Mutafaqun ‘alaihi)

Dari dalil yang sangat jelas diatas, Zina itu adalah suatu jalan yang buruk dan keji, termasuk ke dalam salah satu dosa besar. Sedangkan mendekatinya saja sudah jelas-jelas dilarang dan diharamkan dalam Al-Qur’an yang merupakan firman Allah langsung, apalagi jika melakukan zina . Pintu-pintu yang mengarah kepada perbuatan maksiat ini dengan tegas ditutup tidak boleh dibuka sama sekali. Dan diantara pintu zina yang terlebar kepada upaya mendekati zina adalah berdua-duaan dengan lawan jenis yang non mahrom alias dizaman modern ini disebut pacaran.

Dari Jabir Bin Samurah RA, dari Rasulullah SAW: “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya” (Hadith riwayat Ahmad dan Tirmidzi, sahih).

Dari hadits shahih diatas sudah sangat jelas apalagi ditambah ayat al-Qur’an diatas yang secara langsung melarang mendekati zina, lalu kalau sampai ada yang mengatakan “pacaran dibolehkan asal mengikuti aturan islam”, hal itu benar-benar perkataan jahil yang sesat dan menyesatkan tak ada dalil maupun jumhur ulama yang membolehkan aktivitas syetan tersebut / pacaran ini .


Lalu ada alasan “pacaran itu diperbolehkan dalam upaya ta’aruf”, benar-benar perkataan yang lebih jahil / bodoh daripada alasan yang pertama karena menggunakan alasan yang benar untuk menutupi kemaksiatan, karena hakekat ta’aruf itu adalah tawar menawar atau pendekatan dengan lawan jenis yang tentunya disertai mahromnya atau orang tua calon istri, dan tak ada perkataan-perkatan yang menimbulkan syahwat apalagi sampai pegang-pegangan bahkan ciuman.

Lebih parah bila hal itu /pacaran berkedok ta’aruf dibiarkan akan terjadi zina karena segala permasalahan itu dimulai dari yang kecil hingga menjadi besar. Seperti kobaran api besar yang bermula dari titik api yang kecil maka tidak sepantasnya seorang muslim dan muslimah meremehkan hal ini.

Baik dengan seribu atau sejuta alasan untuk membantah haramnya pacaran maka sudah sangat jelas dan paten bahwa pacaran itu HARAM mutlak. Dan hukuman bagi pembantah maka dia telah menentang apa yang telah Allah turunkan, maka sesungguhnya azab neraka itu amat pedih bagi orang-orang yang mengingkari (kafir) terhadap apa yang telah Allah SWT tetapkan.

Sesuai firman Allah Ta’ala :

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah: 44)




HUKUMAN BAGI PARA PELAKU ZINA

Karena kejinya prilaku zina ini maka Allah menghalalkan darah bagi pelaku / boleh dibunuh. Bagi pelaku yang belum menikah maka dikenakan sanksi berupa cambukan 100 kali dan diasingkan selama satu tahun penuh. Sedangkan yang telah menikah, maka sanksinya adalah dirajam (dilempari) batu sampai mati.

Hadits Rasulullah SAW :

 “Seorang muslim yang bersyahadat tidak halal dibunuh, kecuali tiga jenis orang: ‘Pembunuh, orang yang sudah menikah lalu berzina, dan orang yang keluar dari Islam‘” (HR. Bukhari no. 6378, Muslim no. 1676)

Allâh Ta'ala memerintahkan agar hadd ini ditegakkan dengan tegas, jangan sampai rasa kasihan terhadap mereka menyebabkan kita menyia-nyiakan hukum-Nya ini. Allâh Ta'ala juga memerintahkan pelaksanaan hadd ini di hadiri kaum muslimin, sehingga lebih mengena dan memberikan efek jera pada jiwa pelaku dan orang-orang yang menyaksikan. Lalu bagaimana dengan negara kita yang sumber hukumnya bukan dari aturan Islam (hukum Taghut), kita lihat sendiri hasilnya perzinaan merata disetiap tempat, maka wajiblah setiap muslim mengingkari hukum yang tidak berasal dari aturan Islam.
 

CARA MENGHINDARKAN DIRI DARI PERZINAAN


Maka Hati-hatilah terhadap perbuatan zina! Dan janganlah masuk ke-dalam jalan-jalan yang mendekati zina.  Sesungguhnya sabar untuk tidak masuk ke jalan-jalan tersebut  lebih mudah daripada sabar untuk tidak berzina ketika sudah ada di dalam jalan/atau ruang perzinaan. Maka janganlah mendekati zina dan janganlah masuk ke dalam jalan-jalan yang mendekatinya.
Berikut ini adalah pintu-pintu zina yang wajib para muslimin jauhi dan jangan mendekati pintu itu sedikitpun :

1. Pintu Zina Pertama: Memandang aurat wanita termasuk   wajahnya.

Banyak sekali terjadi perzinaan  adalah faktor pertamanya karena ketidak mampuannya menahan hal yang terkecil yaitu memandang wanita yang tidak halal baginya. “sering kita dengar pepatah dari mata turun kehati”, maka berawal dari mata memandang (zina mata) maka lisan akan berangan-angan kepada wanita tersebut sampai ada kesempatan berduaan dengan wanita itu (pacaran) maka sampai terjadilah zina. 

Ini sangat erat sekali hubungannya dengan zina,  hingga Allah berfirman:
"Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-nur: 30).
Oleh karena itu Allah memerintahkan kaum mu’minin untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenis karena hal ini dapat mengantarkan kepada zina. Oleh karena itu merupakan kesalahan orang yang mengaku menjadi ulama atau kyai tetapi memfatwakan bahwa boleh melihat gambar wanita telanjang yang ada di majalah, koran, dll karena yang dilarang adalah melihat wanitanya secara langsung. Pengertian kekejian yang nyata adalah suatu kekejian yang benar-benar nyata dan diketahui oleh orang lain, sedangkan kekejian yang tersembunyi tidak diketahui orang lain. Demikian pula Allah memerintahkan kepada wanita agar menahan pandangannya terhadap laki-laki dan menjaga kemaluannya.  Allah berfirman:
"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya." (Q.S. An Nuur: 31).
Dan karena menutup jalan menuju zina pula Allah memerintahkan para wanita mu`minah agar menutup auratnya. Selanjutnya Allah berfirman:
"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya." (An-Nur: 31).
Jadi jelas, mengenakan jilbab bagi muslimah hukumnya adalah wajib, tentunya jilbab yang sesuai syari’at. Dan kita akhir-akhir ini kita menyaksikan TV atau Video, dimana tampil wanita-wanita dengan membuka aurat dan berhias (Tabarruj) termasuk jalan kepada zina yang diharamkan oleh Allah. Demikian pula majalah-majalah, atau gambar-gambar.

2. Pintu Zina Kedua: Pendengaran.
Pendengaranpun bisa menjadi jalan mendekati zina, bila mendengarkan nyanyian-nyanyian wanita yang bukan mahramnya, apalagi dengan diiringi musik, dan isinya tentang cumbu dan rayu atau cinta dan kasih dan lain-lain tentunya akan menimbulkan syahwat yang menggebu-nggebu. Maka jelaslah dari bahaya nyanyian syahwat tersebut maka semua ulama sepakat untuk mengharamkan. Bahkan ada yang berkedok lewat sms Islami kepada lawan jenis, seperti sms hadits, sms tahajud dan akhirnya menjadi sms pacaran dsb. Memang iblis menggunakan segala cara untuk menjerumuskan manusia kedalam lembah kehinaaan.
Oleh karena itu Allah berfirman kepada para istri-istri Nabi SAW yang mereka itu adalah contoh teladan bagi seluruh kaum wanita muslimah :
"Maka janganlah kalian (wanita mu'minah) tunduk (lemah) dalam pembicaraan sehingga menimbulkan keinginan pada orang-orang yang dihatinya ada penyakit...)".  (Q.S. Al Ahzab: 32).

3.  Pintu Zina Ketiga: Ikhtilath (perbauran atau pergaulan bebas laki-laki dan wanita).
 Ini adalah jalan yang paling banyak menjerumuskan manusia kepada zina.  Betapa banyak perzinaan terjadi yang penyebabnya adalah perkenalan mereka di kantor, atau keakraban mereka di sekolah, atau perjumpaan mereka di kendaran umum, dan lain-lain. Bahkan saya melihat dikampus-kampus mahasiswa mahasiswi bergaul layaknya dengan mahramnya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Kalau kamu meminta kepada mereka sesuatu kebutuhan, mintalah dari balik hijab (tabir), yang demikian lebih suci bagi hatimu dan hati mereka."  (Q.S. Al Ahzab: 53).

4.  Keempat: khalwat (berduaan) dengan seorang wanita yang bukan mahram / pacaran. (Pintu Paling Lebar)
Ini lebih bahaya dari yang ketiga.  Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya kecuali yang ketiganya adalah syaithan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r bersabda:
"Janganlah sekali-kali seorang (diantara kalian) berduaan dengan wanita, kecuali dengan mahramnya". (H.R Bukhari dan Muslim).
Beliau Rasulullah SAW juga bersabda:

(( إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ )) رواه البخاري ومسلم.

"Janganlah sekali-kali kalian masuk ke (tempat) wanita."  Maka berkatalah seorang dari kalangan Anshar: Bagaimana pendapatmu kalau wanita tersebut adalah ipar (saudara istri)?
  Maka Beliau  menjawab:

(( الحَمْوُ المَوْتُ )) رواه البخاري ومسلم.

"Ipar adalah maut."  (H.R. Bukhari dan Muslim).
Maka termasuk jalan mendekati zina, perginya seorang perempuan dengan sopirnya, tinggalnya seorang laki-laki di rumah bersama pembantu perempuannya atau lainnya dari bentuk-bentuk khalwat walaupun asalnya berniat baik, seperti mengantarkan seorang wanita ke tempat tertentu. Atau bagi para remaja tidak boleh berduaan dengan lawan jenis dirumahnya kecuali disertai kedua orang tuanya.
Hadits Rasulullah :
Rasulullah ditanya tentang hal Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka, beliau bersabda: "mulut dan kemaluan." (H.R. Turmudzi, ia berkata: "hadist ini shahih gharib").
Dari hadits ini maka tak bisa disangkal lagi memang kebanyakan manusia masuk neraka adalah menuruti hawa nafsunya dan tidak bisa menjaga mulutnya dari berbicara sia-sia dan menyakiti hati saudaranya. Dan  jelaslah masalah buruknya zina, Allah mengatakan bahwa zina adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk, Rasulullah bersabda bahwa zina adalah dosa besar yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, demikian pula para Ulama.  Sedangkan akal sehat dan fitrah bisa kita tanyakan pada diri, masih adakah yang bisa disangkal, kalau pacaran (zina memandang, berciuman, dsb) itu benar-benar haram ? .

(DIKUTIP DARI BERBAGAI SUMBER)

Blog Archive

Download Ebook Islam Terlengkap

Statistik

.