Motto "Lestarikan Budaya Luhur Islam"

14 Juni 2013

BAGAIMANAKAH KITA BERSYUKUR ?

Oleh : Muhammad Ashabus Samaaun


Sesungguhnya segala nikmat yang yang Allah SWT yang karuniakan kepada manusia tak ada batasnya, kemudian bisakah kita membalas-Nya. Tentu saja tidak, tapi ada satu hal yang dapat membuat Allah SWT senang kepada kita dan kita akan dapat pahala yaitu bersyukur. Syukur hampir sama dengan berterima kasih dengan pemberian orang, namun bedanya syukur adalah hanya dikhususkan kepada Tuhan dan tentu saja ada  aturan dan konsekuensinya.

Syukur merupakan salah satu sifat mahmudah yang harus dimiliki seorang muslim. Syukur tidaklah sekedar ungkapan  rasa terimakasih seorang hamba kepada Allah swt, tetapi juga merupakan upaya besar pendekatan diri kepada Allah swt. Marilah pada kesempatan ini kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan diri dan keluarga kita dengan melakukan berbagai amal kebaikan yang dapat memperbanyak pahala. Diantaranya dengan memenuhi perintah-Nya bersyukur atas segala nikmat dan rahmat yang diberikan oleh-Nya kepada kita semua.

Pada dasarnya syukur merupakan salah satu sifat mahmudah yang harus dimiliki seorang muslim. Dalil tentang perintah bersyukur sangatlah jelas diterangkan dalam al-Baqarah ayat 152

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku"

Seringkali orang memahami bahwa syukur merupakan ungkapan manusia atas nikmat yang diberikan oleh Allah swt kepada mereka, sehingga syukur terkesan hanya sebagai  'reaksi' seorang hamba kepada Tuhannya, Allah swt. Padahal sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Karena sesungguhnya syukur merupakan salah satu wasilah (perantara)  seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Syukur merupakan perilaku ibadah tersendiri yang apabila dikelola dengan benar oleh hamba akan mempermudahkan perjalanan mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.

Begitulah kiranya, Allah swt menaruh kata syukur berdekatan dengan kata dzikir dalam ayat diatas. Tidak lain karena, posisi syukur sama pentingnya dengan dzikir kepadaNya. Keduanya (dzikir dan syukur) sama-sama akan menghantarkan kita kepada-Nya. Apabila diperhatikan secara seksama, potongan pertama ayat yang berbunyi 'fadzkuruni adzkurkum' mengandung pemahaman bahwa barang siapa mengingat Allah swt maka Allah swt juga  akan mengingatnya. Artinya barang siapa berdzikir kepada-Nya, maka Allah swt akan selalu dekat dengannya.

Mengenai hal ini Rasulullah saw pernah berkata kepada para sahabatnya "maukah kalian aku tunjukkan amal yang paling bagus, yang paling bersih (di sisi-Nya) dan lebih berharga dari pada infaq emas perak, juga lebih bernilai dibandingkan jika kalian memenggal leher musuh dan kemudian musuh itu memenggal lehermu (mati syahid di medan perang)". Para sahabat kemudian menjawab  "mau ya Rasul" lalu nabi membalas "itulah dzikir kepada Allah swt".

Pada kesempatan lain dalam hadits qudsi juga diterangkan "ana ma'a abdi idza dzkaroni,

Aku akan selalu menyertai hamabaku, selama hambaku ingat kepadaku dan kedua bibirnya selalu bergerak-gerak (berdzikir).

Kedua hadits di atas menunjukkan betapa dzikir itu sungguh berharga di sisi-Nya. Karena dzikir merupakan wahana mendekatkan diri kepadaNya. Dan begitupula dengan syukur yang tidak kalah berharganya dengan dzikir, sebagaimana keduanya diperintahakn oleh Allah dalam al-Baqarah ayat 152dengan redaksi 'fadzkuruni dan wasykuruli '.

3 UNSUR SYUKUR

Pertanyaannya kemudian, syukur seperti apakah yang berharga senilai dengan dzikir? Syukur seperti apakah yang dapat menghantarkan kita mendekat kepada Nya? yaitu syukur yang mengandung tiga hal sekaligus pertama, syukur billisan, syukur bil janan dan syukur bil arkan

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, jika ketiganya tidak terkumpul dalam satu tindakan, maka syukur itu tidak akan mampu mendorong diri manusia mendekat kepadaNya.

Pertama, Syukur dengan mulut (Syukur bil lisan). Yaitu menggunakan lisan sebagai media representasi rasa terimakasih kepada Tuhan (Allah SWT) dengan mengucapkan kalimat 'alhamdulillah'. Kalimat yang hanya terdiri dari dua kata ini jika terucap dari mulut seorang hamba, maka sejatinya hamba itu telah mengakui keagungan dan kemewahan rahmat Allah swt atas segala yang telah ditakdirkan dan diberlakukan kepadanya. Sebagaimana tersimpan dalam huruf 'al' dalam al-hamdu yang bermakna 'lil istighraq'. Artinya segala macam puja dan puji hanya kepada-Nya. Ini sekaligus juga menepis adanya pengakuan lain selain Allah swt. membersihkan dari dari rasa syirik yang mungkin menempel dalam hati kecil manusia.

Oleh karena itu Allah swt menggaransi/menjamin siapapun yang mengucapkan Alhamdulillah dengan ridha-Nya. Maka dari itu marilah kita bersama-sama melatih diri membiasakan mengucap Alhamdulillah dalam laku kita. baik setelah makan, setelah minum, setelah berpakaian, setelah shalat dan lain sebagainya. Karena jikalau Allah swt telah meridhai kita, rasanya Allah tidak akan membiarkan makanan yang telah masuk ke dalam perut kita sebagai penyakit. Jika Allah telah meridhai kita maka kehidupan kita akan berjalan di atas ketentuan-Nya.

Demikian keterangan hadits Rasulullah saw;

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا. رواه مسلم 

Bahwa Rasulullah saw pernah bersabda sesungguhnya Allah swt (pasti) meridhai seorang hamba yang makan makanan kemudian bersyukur (mengucap alhamdulillah) atau meminum minuman kemudian bersyukur (mengucap alhamdulillah) . (HR. Muslim)

Yang kedua adalah Syukur dalam hati (syukur bil janan). Namun, tidak hanya berhenti sekedar ucapan alhamdulillah saja.Tetapi harus disertai dengan tambahnya rasa dalam hati (biljanan)akan rasa cinta kepada Allah swt sebagai Sang Pemberi rizki. Itulah perasaan yang diutamakan. Baru menyusul kemudian rasa senang dan gembira akan rizki yang diberikan kepadanya.

Disinilah  yang perlu kita garis bawahi bahwa yang utama adalah menambahkan rasa cinta kepada Allah Sang Pemberi nikmat, lalu setelah baru rasa senang dan gembira atas rizki yang diberikan oleh-Nya.

Yang ketiga dan terakhir, adalah menyertai ucapan dan perasaan itu dengan tindakan konkrit (bilarkan). Berupa berbagai macam kewajiban syariat yaitu zakat dan kewajiban lainnya seperti sedekah, infaq dsb. Bila memang sudah memenuhi syaratnya. Artinya, nikmat yang diberikan Allah kepadanya harus digunakan sebagai alat mendekatkan diri kepada Allah swt. Jangan sampai rizki pemberian dari-Nya menemuhi salah sasaran dipergunakan selain kepentingan ilahiyah. Apalagi sampai digunakan untuk hal-hal yang madhorot tentu saja membuat syukur kita tidak diterima Allah SWT.

Jika memang ketiga hal ini dirangkai dalam satu tindakan syukur, maka Allah akan menjamin kehidupan hamba itu dan meridhainya. Hal ini pulalah yang akan menghantarkan kita memahami ayat special untuk syukur yang berbunyi

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد

Bahwa Allah pasti akan menambahkan kepada mereka yang bersyukur dan menyiksa mereka yang kufur.

Demikianlah  semoga bermanfaat bagi kita semua, amin.

Refrensi Artikel (www.NU.or.id)

SIAPAKAH MUSUHMU SEBENARNYA ?

Oleh  : Muhammad Ashabus Samaaun


Anda mungkin berpikir bahwa musuh kita adalah orang kafir harbi (penyerang) atau mungkin setan dan iblis laknatullah. Kalau itu sudah jelas-jelas kelihatan dan terpapar. Namun sebenarnya musuh besar kita ada didalam diri kita sendiri. Jika kita belum bisa mengalahkannnya maka mustahil bisa mencapai kemenangan melawan musuh diluar kita. ada 2 musuh besar dalam diri manusia, musuh itu bernama ….

 

Syahwat Perut

Dalam bab ke dua puluh tiga ringkasan ihya' ulumuddin (penjelasan ''menghancurkan syahwat''), Al imam ghozali menerangkan bahwa ada dua macam syahwat, yakni Syahwat perut dan syahwat kemaluan. Begitu bahayanya syahwat, sehingga harus dihancurkan karena jika salah satu atau bahkan keduanya menguasai hati manusia maka akan membuat manusia itu binasa. Jalan menuju Allah akan tertutup karena ia disibukkan untuk memenuhi syahwat tersebut.

Al kisah Nabi adam a.s. dan ibunda hawa yang di usir dari surga karena mereka tidak mampu mengendalikan syahwat perut (makan buah khuldi). Dalam sebuah hadits disebutkan

''sesungguhnya setan itu berjalan pada tubuh manusia melalui aliran darah, maka sempitkanlah jalan darah melalui lapar dan dahaga''.

 Nabi Muhammad saw juga sering memberi nasehat kepada Istri beliau yang mulia Siti Aisyah r.a. untuk mematahkan syahwat dengan berpuasa karena ada banyak hikmah dibalik puasa. Demikian terangkum dalam sub bab ''menghancurkan syahwat perut'' yang mudah-mudahan bisa meng-istiqomahkan kita untuk menjalankan ibadah puasa, sunnah maupun wajib.


Syahwat kemaluan


Dalam sebuah hadits menyebutkan, Rosulullah saw pernah bersabda:

 ''wanita-wanita adalah tali syetan. Jika pada wanita tidak ada nafsu syahwat, tentu wanita tidak mempunyai kekuasaan terhadap para lelaki.''.

 

Na'udzubillah,semoga kita tidak termasuk bala tentara syetan yang selalu siap menjadi utusan untuk melemahkan iman kaum adam. Wanita-wanita yang dimaksud hadits tersebut tentu saja wanita yang rusak akhlaqnya tidak bisa menjaga diri dan kemaluannya dan senantiasa mengumbar auratnya.

Kita harus menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Karena ketika pergaulan tidak terjaga lagi alias sebebas bebasnya maka syahwat akan membesar dan takkan terbendung lagi oleh sekuat apapun akal kalian. Ketahuilah bahwa keinginan yang paling kuat adalah ketika nafsu syahwat yang berkobar dan menguasai akal pikiran. Ketika nafsu syahwat sudah melebihi batas, maka akal tidak lagi terkendali, sehingga yang ada di hati hanyalah mengejar kesenangan biologis bersama wanita. Namun,bagi orang-orang yang mukmin akan mampu mencegah gelora nafsu syahwat karena ia takut dosa dan takut kepada azab Allah diakhirat kelak.

Semoga kita menjadi salah satu diantara tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah SWT di hari kiamat, dalam lindungan arsy-Nya ketika tidak ada satupun perlindungan kecuali naungan-Nya. amiin. wallahua'lam.

Refrensi tulisan

KALIMAT TASBIH YANG LUAR BIASA PAHALANYA


KEUTAMAAN KALIMAT-KALIMAT TASBIH YANG LUAR BIASA PAHALANYA

Oleh : M. Ashabus Samaa'un

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

 

 Gambaran Logika Tentang Pahala Kalimat Tasbih

Saudaraku kaum muslimin yang berbahagia. Pernahkah anda beramal atau bersedekah sebesar 1 miliar rupiah atau lebih?. Tentu saja jarang yang bisa melakukan hal tersebut.  Berdzikir adalah sebuah ibadah yang amat ringan namun kita tidak akan menyangka jika kalimat-kalimat dzikir itu berpahala sangat besar sehingga melebihi pahala sedekah seorang kaya yang bermiliar-miliar rupiah atau bahkan bertriliun-triliun rupiah. Misalnya dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jika kita berdzikir Subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan puji-Nya), maka ditanamkan sebatang pohon kurma di surga. Berapakah harga pohon kurma surga? Tentu saja tak ada yang menjualnya kalaupun ada maka seluruh penduduk bumi akan berusaha memperebutkannya. Semua orang terkaya didunia akan berlomba-lomba menawarnya dengan harga setinggi-tingginya, namun tak ada yang bisa memperolehnya karena harganya tidak akan ada yang mampu membelinya karena barangkali hanya bisa ditukar emas sebesar bola bumi itupun barangkali belum cukup. Lagipula mustahil ada emas permata sebesar bola bumi. Jika diperhitungkan matematika kalau misalnya satu gram emas hargai 200.000 kemudian berat emas sebesar bumi itu sama dengan berat bumi atau sekitar   10 30 gram (sepuluh pangkat 30). Maka nilainya sekitar Rp. 2 x 10 35 (dua kali sepuluh pangkat tiga puluh lima atau dua ratus miliar triliun triliun rupiah). . Kemudian pertanyaannya mana ada orang punya uang sebanyak itu. Kemudian siapa yang memiliki otomatis jadi manusia terkaya diseluruh alam semesta dong. Hebat yah, klo seandainya kita punya pohon kurma dari surga. Begitulah jika kita kalkulasi pakai logika. Namun harga semustahil itupun barangkali memang belum cukup untuk membeli sebatang kurma surga. Kenapa ?

 

Jika ada seorang memilikinya maka dia akan mempunyai kekuatan yang besar untuk menguasai seluruh dunia dan isinya. Dia akan menjadi raja diatas raja didunia karena sebab berkah yang didatangkan pohon surga itu. Karena kita tidak tahu wujudnya seperti apa sifat pohon kurma surga. Satu pohon kurma surga saja hidup didunia maka seluruh dunia akan takjub kepadanya melebihi takjubnya kepada keindahan benda-benda termewah atau bahkan mengalahkan takjubnya kepada wanita tercantik didunia ini. Mungkin orang yang melihatnya akan jadi lupa diri, lupa anak istri lupa segalanya karena saking indahnya. Seandainya , Satu pohon surga saja tertanam didunia maka wanginya akan memenuhi bumi sehingga penjual parfum tidak akan laku, kasian dong. Seandainya , satu pohon kurma didunia ini tertanam didunia maka seluruh anak cucu adam tidak akan kelaparan karena setiap dipetik buahnya langsung numbuh lagi. Jika dimakan buahnya mengenyangkan dan menyehatkan sehingga tak ada orang penyakitan. Seandainya , Satu orang makan satu buah surga akan kenyang seumur hidup dan akan berumur panjang. Seandainya , Satu orang memakan buah surga maka dia akan menjadi orang yang cerdas, tambah cakep, dan awet muda. Apalagi orang yang sakit parah akan langsung sembuh. Pohon surga adalah pohon abadi sehingga tidak akan hancur sampai hari kiamat. Dan sejuta manfaat lain yang tidak bisa kita jelaskan disini. Begitulah kira-kira sifat makhluk surga, begitu sangat hebat keutamaannya sehingga tidak akan bisa ternilai harganya meskipun ditukar emas sebesar bumi tetap tidak akan cukup. Lagipula siapakah manusia yang punya emas sebesar bumi? Begitulah keutamaan pohon surga jika kita gambarkan logika kita yang amat terbatas ini.  Wallahu'alam.

 

Namun apakah hikmah pohon surga tidak diciptakan didunia? Allah lebih Maha Tahu daripada kita. Jika kita bayangkan, tentu saja akan banyak kejadian aneh dan huru-hara yang terjadi didunia ini. Coba saja pohon surga satu saja tertanam dibumi maka dia akan dijadikan tuhan/sesembahan orang-orang yang pendek akalnya. Karena kita lihat bahwa sudah terlalu banyak manusia-manusia jaman dahulu maupun sekarang memang terlalu cepat kagum terhadap sesuatu yang indah dan mempunyai kekuatan yang luar biasa sehingga sampai kebablasan mengagumi benda itu sampai-sampai kepada keyakinan bahwa benda hebat dan luar biasa itu tuhannya, seperti kaum bani israil misalnya yang menyembah patung sapi buatan samiri hanya karena patung itu bisa bicara. Apalagi jika ada pohon surga tertanam dibumi yang begitu hebat dan luar biasa manfaatnya maka banyak orang akan mengagungkannya bahkan mengira itu adalah jelmaan tuhan, dewa atau dewi atau jelmaan malaikat dan sebagainya sehingga ramai-ramai orang berbondong-bondong menyembahnya untuk meminta berkah, memohon kekayaan dsb (Seperti yang dilakukan orang-orang musyrik jaman kita yang ngalap berkah dikuburan untuk memperoleh harta duniawi ). Karena memang kenyataan makhluk surga satu saja mendiam dibumi akan mendatangkan berkah yang sangat banyak kepada semua penduduk bumi, misalnya saja hajar aswad (batu hitam dika'bah) dengan ijin Allah sejak jaman Nabi Ibrahim sampai sekarang telah mendatangkan banyak kebaikan bagi kaum muslimin karena setiap hari batu tidak pernah berhenti mendo'akan kebaikan bagi kaum muslimin terlebih bagi yang sedang haji. Dan do'a batu itu pasti dikabulkan oleh Allah. Mereka yang berhaji diwajibkan mengucapkan salam dan mencium hajar aswad sebagai bentuk penghormatan  (bukan berarti menyembah). Begitulah meski cuman berbentuk batu akan tapi memiliki kemuliaan yang besar, karena hajar aswad adalah batu dari surga. Untuk lebih jelas lagi anda bisa membaca lagi kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail waktu membangun ka'bah kemudian datanglah seorang malaikat jibril yang memberikan batu itu untuk dijadikan salah satu bagian dari ka'bah.

 

Masihkan kita bisa membandingkan kekayaan dunia dengan balasan kekayaan akhirat? Tentu saja tidak bisa. ? Apalagi kekayaan dunia itu bersifat sementara sedangkan kekayaan akhirat itu kekal selama-lamanya. Hanya orang bodoh yang menjual akhirat untuk dunia. Karena satu kalimat dzikir lebih berharga daripada dunia dan isinya. Subhanallahu'Allahu Akbar.

 Maukah anda dikasih Allah Pohon Kurma surga?. Caranya cukup mudah. Perbanyaklah dzikir dan tasbih. Begitulah keutamaan zikir ia akan mendapatkan yang besar, ditanamkan pohon kurma disurga misalnya. Akan tetapi semua itu ada syaratnya . Yaitu kita harus berdzikir dengan khusuk dan hati yang ikhlas, kemudian merealisasikan kalimat dzikir itu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kita selalu merasa diawasi oleh Allah dalam segala gerak gerik kita sehingga kita akan mengekang diri kita dari maksiat. Itulah salah satu contoh makna realisasi dzikir yang dimaksud. Misalnya jika kita telah mampu dan hafal serta istiqomah dalam mengucapkan kalimat subhanallah (Maha Suci Allah) maka contoh realisasinya adalah kita wajib meyakini bahwa Allah itu Maha Suci dari segala salah dan dosa karena salah dan dosa adalah sifat makhluk dan Tuhan tidak mungkin melakukan kesalahan, Kemudian meyakini bahwa Dia Maha Suci dari penyerupaan terhadap makhluk-Nya, Dia Maha Suci dari perkataan-perkataan kafir semacam perkataan orang nasrani yang mengatakan Allah mengangkat anak atau orang-orang paganisme (penyembah berhala) yang mengatakan Tuhan itu banyak dan memiliki tandingan semacam dewa api, dewa air, dewa bulan, dewa matahari dsb. Kita harus meyakini bahwa Allah Maha Suci dari semua keyakinan-keyakinan kafir tersebut. Itulah yang dimaksud realisasi terhadap kalimat subhanallah, tetapi tidak terbatas pada ini saja. Mengingat kalimat ini sepele diucapkan namun memiliki makna tak terbatas. Itulah keutamaan kalimat dzikir.

 

KEUTAMAAN KALIMAT TASBIH

 

Salah satu kalimat kalimat dzikir yang sangat besar pahalanya disisi Allah adalah kalimat tasbih (kalimat meagungkan dan mensucikan Tuhan, Allah SWT). Berikut beberapa keutamaan kalimat tasbih yang dapat kami sampaikan dalam kajian ini.


1.Pertama, Mendapatkan ampunan  semua dosa, baik yang telah lewat maupun yang baru saja terjadi, dan bahkan dapat memberatkan timbangan amal baik nanti dihadapan Allah ta'ala. Rasulullah Saw. Bersabda:

 "Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah tetapi sangat memberatkan timbangan (amal) dan sangat disukai Allah adalah Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil adziim (Artinya "Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung")

(Hadits ini Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya)




Kedua. Dapat menghapus atau menghilangkan dosa-dosa orang yang biasa mengucapkan. Nabi Saw. Bersabda: "Apakah salah seorang tidak sanggup untuk mengusahakan seribu kebaikan setiap hari?" Maka ditanyakan kepada beliau: "Bagaimana hal itu dapat diusahakan ya Rasulullah"? Berliau Berkata; "Yaitu bertasbih kepada Allah 100 kali, dengan tasbih tersebut dicatatat 1.000 kebaikan untuknya dan dihapuskan dari padanya 100 keburukan (dosa)". (H.R. Muslim)

Ketiga. Tasbih adalah salah satu ucapan yang paling disukai Allah: Perkataan yang paling disukai Allah ada empat, yaitu: Subhanallah (Maha Suci Allah), wallhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan Laaila ha illallahu wallahu akbar (tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar). (H.R. Muslim)

Keempat. Allah Swt menjanjikan balasan surga bagi orang yang membiasakan diri mengucapkan tasbih. "Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan puji-Nya), maka ditanamkan sebatang pohon kurma di surga" (H.R. Tarmidzi)

Kelima. Ucapan tasbih dapat menjadi salah satu alat bukti (kesaksian) bagi perbuatan seseorang pada hari kiamat.

 

 "Hendaklah kamu sekalian membaca tasbih, tahlil, dan taqdis (penyucian), maka janganlah kamu lalai dan ikatan dengan jari-jari, karena sesungguhnya bacaan-bacaan itu dijadikan mampu untuk berbicara (memberikan kesaksian pada hari kiamat)" (H.R. Abu Daud, at-Tarmidzi dan al-Hakim).

 

 tasbih merupakan kalimat yang ringan dan mudah untuk diucapkan, tetapi mendapat pahala yang sangat besar di sisi Allah Swt.

 

 "Ada dua kalimat yang ringan atas lidah, tetapi berat di atas timbangan dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pemurah, yaitu Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil adzim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)". (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

 

Begitulah keutamaan dzikir. Sangat banyak dan sangat utama manfaatnya. Oleh karena itu dimanapun dan kapanpun kita diharuskan berdzikir kepada-Nya supaya hati tenang dan tentram dan menghindarkan kita dari semua bentuk kemaksiatan yang menyengsarakan. Sebaik-baik perkataan adalah perkataan dzikir seburuk buruk perkataan adalah perkataan musyrik dan maksiat. Maka seorang mukmin tidak akan menyibukkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata sia-sia seperti mencela, mengumpat, berbohong, berkata-kata kotor dsb. Mengingat jatah hidup didunia ini terbatas dan perkataan jelek itu besar dosanya. Kemudian lebih menyibukkan diri kepada kalimat dzikir yang sangat besar manfaatnya.

 

Wallahu'alam

 

Refrensi : Auliacendekia.com


06 Juni 2013

Sisi Lain Sejarah : Aksara Jawa dan Surat Maklumat umat Islam

ada yang tahu kapan aksara jawa itu di buat ?
saya pribadi tak pernah tahu kapan waktu persisnya aksara jawa itu di buat. Benarkah "Aji Soko" itu ada, atau hanya sekedar cerita ? saya juga tidak tahu . . . tapi saya dengan mantap akan menyebutkan bahwa sebenarnya yang selama ini kita sebut sebagai "Aksara Jawa" itu sebenarnya surat maklumat berbahasa arab. mengapa demikian ?
Berikut saya salin "Aksara Jawa" dari wikipedia *1.
"....... aksara Jawa diurutkan menggunakan urutan ha-na-ca-ra-ka yang disusun untuk mempermudah penghapalan dan pengingatannya dengan cara yang kreatif yaitu dengan menyusun dalam suatu fragmen pendek yang menarik yang dikaitkan dengan mitos Ajisaka. Fragmen tersebut terdiri dari 4 baris masing‐masing terdiri dari 5 aksara, menyerupai metrum atau puisi
  1. hana caraka (ana utusan)
  2. data (sabanjuré) sawala (= suwala –kêrêngan)
  3. pada jayanya (babag kekuwatané)
  4. maga (ma‐ang‐ga) batanga (bangké) = mangawak bangké = palastra ! . . . . "

pada kaliamat di atas disebutkan bahwa
 " . . . Fragmen tersebut terdiri dari 4 baris masing‐masing terdiri dari 5 aksara, menyerupai metrum atau puisi . . ." 
benarkah puisi jawa sudah ada pada zaman itu ? (nek aku ra yakin :) _red) yang jelas di arab pada masa itu sastra dan syair sudah sangat berkembang. bahkan menjadi trend sehari-hari. coba simak, "Aksara Jawa" itu jika dijadikan bahasa arab maka akan menjadi

'Aji Shaka (Surat Maklumat / Pengakuan Kemenangan)

1. Hana tjaraka = Disana, rendahkanlah dirimu (hatimu)
2. Dzata Syawala = Pada dzat yang Maha tinggi / suci
3. Fadda Jaya'a = Maka Serukanlah / akuilah / keraskanlah suara pada kemenangan
4. Mahabbata danga = yang mengajak pada kasih / saling mengasihi / menyayangi /

bukankah surat seperti ini juga yang di bawa ke Harits Al-Himyari (Raja Yaman) dan kepada Najasi, penguasa Abesinia (Ethiopia). ketika umat muslim hendak mengajak mereka masuk Islam.

jika benar ini "surat berbahasa" arab. maka hal ini berarti itu awal penyebaran islam di indonesia. Semakin tua "Aksara Jawa" itu maka semakin lama pula islam telah berada di jawa . . . wallahua'lam.


refransi :
*1. http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Jawa

31 Mei 2013

SYAIR ISLAM : RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !

RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !
(By : Muh. Ashabus Samaa'un)


lihatkah sobat
lihatlah kawan
lihatlah teman
lihatlah semua
kalian para manusia
dunia pendidikan
benar-benar dalam kekacauan
karena sistem pendidikan kita
benar-benar serba edan
hasilnya anak-anak semrawut suka ribut
pulang sekolah tidak belajar malah tawuran
atau kebut-kebutan motor dijalanan
mirip brandalan yang nyasar kesekolahan
dikasih PR tidak dikerjakan
malah-malah waktu luang untuk pacaran
dirumah pura-pura belajar
ternyata main facebookan
pamit les ternyata main Ps-an
lulus sekolah corat coret seragam
katanya untuk expresi kegembiraan
padahal hal itu adalah kemaksiatan
perilaku kufur yang dimurkai Tuhan
cobalah berpikir !
lulus UN bukanlah segalanya
itu hanya satu langkah kecil
untuk menempuh tingkat pendidikan
yang lebih berat tuk selanjutnya
memang begitulah kenyataan
pendidikan kita telah gagal
membentuk manusia bermoral
hasilnya manusia-manusia edan !
pendek akal tak punya aturan
berbuat seenaknya sendiri
pembuat onar dan kericuhan
pandai korupsi gemar perilaku kemaksiatan
pengikut hawa nafsu setan


oh enaknya jadi murid jaman sekarang
belajar disekolah tidak mikir biaya
berangkat sekolah dikasih uang saku
pulang pergi tidak repot jalan kaki
karena memang sudah jaman kemajuan teknologi
begitulah orang tua memanjakan kehidupan kalian
namun kenyataaan,
bukannya kalian berterima kasih atau balas jasa
malah kalian membalas kebaikan dengan kemungkaran
air susu yang mereka berikan
tlah kalian tumpahkan
kemudian kalian beri mereka racun mematikan
begitulah, segala yang tlah kedua orang tuamu lakukan
hanya dibalas dengan kekufuran
malas-malasan belajar
membolos, pacaran, tawuran, sampai mabuk-mabukan
kebut-kebut dijalanan
mirip preman bangun kesiangan
bahkan ada yang pacaran sampai hamil duluan
sungguh mengerikan
generasi macam apa ini
generasi amburadul korban modernisasi
generasi lupa diri
lupa keluarga, lupa agama
lupa Tuhan, lupa hidup, lupa mati


Bayangkanlah wahai para pelajar
Umur kalian sangat belia
jauhilah cara berpikir lattah
cuman suka ikut-ikutan semata
jika kalian turuti hawa nafsu setan
tunggulah murka dari Tuhan
kehancuran dan kebinasaan bagi kehidupan kalian
masa depan yang buruk nan suram tak terbayangkan
kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan kehidupan
tlah menanti tuk meneror jalan kehidupan
sebagai akibat segala kebaikan
yang tlah orang tua dan guru berikan
dibalas dengan kemaksiatan dan kekufuran
sudah lupakah kalian
bahwa hidup didunia ini cuman sementara
waktu yang digunakan sia-sia
pasti kerugianlah yang didapatkannya
tidak saja kerugian dunia namun juga akhiratnya

sudahlah cukup segala kerusakan yang tlah dilakukan
jangan ikuti mereka
yang tlah terlanjur menemui kebinasaan
mulai sekarang kita harus berbenah diri
bertaubat dari segala perilaku maksiat
jadilah anak salih dan shalihah
yang taat beragama
berbakti kepada kedua orang tua
patuh nasehat guru
suka berbuat baik kepada sesama manusia
supaya diakhirat
kita mendapatkan kebahagiaan
yang kekal slamanya
semoga segala yang kita lakukan
mendapat ridha Tuhan Alam semesta
amin.









12 Mei 2013

Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam


Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam

(Mantiq, Tasawuf, Filosofi, teologi, liberalisasi dll )

Oleh : www.ashabul-muslimin.tk

                

Mukadimah

Ilmu kalam memang ilmu yang terkesan nyeleneh. Karena mempelajari sesuatu hal diluar kemampuan akal manusia kemudian terkadang juga orang yang tidak kuat akalnya belajar ilmu ini bisa jadi gila, naudzubillah. Oleh karena itulah secara kasar saya katakan ilmu kalam ini disebut juga ilmu pengawuran. Karena terkadang mereka mengingkari sebagian al-Qur'an kemudian lebih mengambil pendapat akalnya sendiri atau barangkali mengimpor pendapat-pendapat filusuf-filusuf yunani yang sudah jelas-jelas mereka itu kaum paganisme (penyembah berhala). Sungguh tidak pantas sekali jika pendapat orang musyrik itu diambil sebagai landasan berpikir bagi kaum muslimin. Ilmu ini bisa membuat orang berbuat syirik dsb. Karena secara mendasar saja bisa dibilang yang mempelajari ilmu ini artinya menyembah akalnya sendiri secara tidak sadar, karena telah menganggap akalnya lebih unggul daripada ayat Allah SWT.

Apa yang disebut dengan ilmu kalam tidak pernah ada pada masa Nabi saw atau pada masa sahabatnya. Ilmu ini mulai muncul setelah berbagai kebudayaan asing diterjemahkan kedala bahasa arab, khususnya filsafat dan ilmu mantiq Yunani. Sebagian besar kaum muslimin yang menyibukkan diri dalam membahas  ilmu kalam tidaklah menjadi kafir akibat perbuatan tersebut. Tujuan mereka  dalam  membahas ilmu tidak lain hanya ingin menjelaskan hal- hal  yang  menyangkut  aqidah  Islam serta mempertemukan antara metode ilmu mantiq dengan apa yang mereka anggap kontroversial dari  nash-nash  syara'. Hanya  saja mereka tersesat dan menyibukkan pikiran mereka dan orang lain terhadap pembahasan-pembahasan yang akal mereka sendiri tidak sanggup menjangkaunya. Padahal langkah yang benar bagi mereka semestinya membatasi pembahasan hanya pada nash-nash syara', yaitu berdasarkan wahyu semata.

 

Munculnya Ilmu Kalam

Sepanjang masa Nabi saw, kaum muslimin hanya mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat dalam al-Quran dan apa yang sesuai dengan metode Kitabullah tersebut. Mereka hidup dimasa turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat rasul.       Cahaya persahabatan tersebut telah  menghilangkan kegelapan, keraguan dan khayalan. Kekuatan iman yang mereka miliki,tidak pernah menimbulkan satu pertanyaan pun yang mengandung unsur keraguan. Mereka tidak berusaha  mencari  ilmu  yang  Allah  sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia. Merekalah yang paling baik dan tinggi martabatnya diantara umat ini.

Bahkan Rasulullah  saw sendiri  pernah memberikan kesaksian tentang kebaikan mereka ini. Karena itulah jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta penyampaiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam daripada metode-metode lain. Betapa tidak !? Sebab, ini merupakan metode Rasul yang berdasarkan metode al- Quran dalam membahas aqidah. Dengan metode ini orang-orang  akan  mendapatkankepuasan  jiwa,  petunjuk  yang  benar,  ilmu yang disertai keyakinan.Berkat metode tersebut, seorang muslim akan menjadi suatu potensi tenaga yang dasyat yang kemudian mendorongnya untuk menyampaikan dakwah dengan semangat. Jalan yang ditempuh dalam hal ini adalah jalan Rasul dan para sahabatnya. Abad pertama hijriyah telah berakhir  setelah dakwah Islam tersebar luas dan menguasai segenap penjuru. Islam pada waktu itu disampaikan dengan pemahaman yang cemerlang, iman yang dalam dan kesadaran yang         hebat. Akibat dari perkembangan dakwah Islam tersebut, Islam berinteraksi  dengan  peradaban  dan  agama yang dimiliki bangsa-bangsa lain yang masuk Islam. Dikarenakan         al-Quran telah mencantumkan rincian tentang aqidah Islam dan telah membeberkan aqidah-aqidah yang berlawanan dengannya, begitu pula bantahan- bantahan yang melemahkan aqidah lain. Maka sebagai    akibat interaksi ini,  timbullah pergolakan  pemikiran  antara  Islam  dengan kekufuran.  Hal  ini  merupakan  salah  satu sebabyangmendorongpemikirankaum muslimin membahas aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk dalam menentukan cara membela aqidah Islam dihadapan aqidah-aqidah (keyakinan) lainnya, terutama filsafat Yunani yang telah dipakai orang-orang nasrani dalam menghadapi dan menghalangi dakwah Islam. Usaha tersebut menghasilkan adanya aktivitas penterjemahan besar-besaran sehingga filsafat Yunani ini beralih dan diketahui oleh sebagian kum muslimin yang menyibukkan diri dalam aktivitas penerjemahan tersebut, yang kelak menghasilkan apa yang disebut dengan 'Ilmu Kalam' dan metode pembahasan 'Ilmu Mantiq'.

 

Metode Baru

Metode-metode ilmu kalam (mantiq) yang telah dilahirkan oleh generasi yang datang setelah sahabat (khalaf) adalah teramat jauh berbeda dengan metode sebelumnya yaitu metode sahabat (salaf). Karena metode khalaf ini telah membicarakan Dzat Allah dan berdasarkan pada metode pembahasan filosof filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman. Dalam menentukan bukti, ia berlandaskan pada ilmu mantiq dan telah mengambil sikap pertengkaran/ pertikaian untuk menghadapi para filosof dalam setiap pembahasan. Mereka juga membahas tentang apa yang tidak dapat diindera atau dijangkau tentang dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Dalam hal ini, mereka telah mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang banyak menimbulkan penakwilan, lalu bertambahlah sikap permusuhan tersebut sehingga pada akhirnya terjadi penyimpangan (fitnah) terhadap aqidah yang sebenarnya. Semua kejadian itu telah terjadi antar sesama kaum muslimin yang ikut sibuk membahas masalah ini. Bahkan sampai melibatkan sebagian dari ulama fiqih yang telah berusaha menjauhkan diri dari pembahasan ilmu kalam, malah telah memberi peringatan kepada orang-orang untuk menjauhinya, seperti yang terjadi pada Imam Ahmad ibn Hambal ra.

 

Dan begitulah sikap ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in. Mereka lebih banyak menyibukkan diri dengan mengamalkan Kitabullah daripada sibuk debat kusir dan berbantah-bantahan. Islam kemudian menyebar luas ke pelosok dunia. Terjadilah kemudian penaklukan-penaklukan daerah baru. Setelah itu sebagian kaum muslimin mulai terpengaruh dengan sebagian ide-ide filsafat antara lain filsafat Yunani. Akibatnya mereka terpecah menjadi banyak kelompok, firqoh dan aliran-aliran. Sehingga mereka lebih banyak sibuk dalam berdebat daripada mengamalkan Kitabullah. Hati mereka diabaikan sedangkan akal mereka diagung-agungkan sampai begitu beraninya membahas segala sesuatu (baik yang dapat dijangkau ataupun yang tidak).

 

Mereka berpikir dan membahas Dzat Allah dengan cara yang berlebihan begitu pula terhadap sifat-sifat-Nya, yang mereka bahas secara mendetail berdasarkan pertimbangan akal dan didukung dengan pendapat serta cara pemikiran para filosof sebelumnya. Padahal Allah SWT adalah Maha Pencipta yang tidak dapat dijangkau manusia. Jika manusia masih merasa dirinya lemah untuk mengetahui secara detail tentang dirinya sendiri dan apa yang ada dalam dirinya sampai sekecil-kecilnya, maka bagaimana mungkin akal manusia mampu menjangkau Dzat Allah Yang Maha Pencipta bagi alam semesta dan seisinya. Juga, Dia lah yang menguasai segala urusan yang menyangkut Dzat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, padahal tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur/pembanding! Satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam hal ini adalah dengan menjadikan firman Allah SWT tentang dzat dan sifat-sifat-Nya serta hadist Rasul yang shahih dan terbukti kebenarannya, merasuk dalam kalbu kita, lalu mengimaninya tanpa takwil dan tanpa mempersulit pembahasannya. Sebab kita tahu bahwa jika kita menakwilkan suatu ayat/hadist maka penakwilan itu sesuai dengan firman Allah/sabda Rasul atau tidak. Orang yang menakwilkan sesuatu biasanya tidak sanggup memastikannya, benar atau salah. Yang membentuk keyakinan adalah makna/lafazhlafazh zhahir (berdasarkan konteks kalimat) dari ayat/hadist, juga lafazh hakiki (makna sebenarnya( bukan yang majazi atau makna kiasan).

 

Metode yang Keliru

Setelah membahas dan mendalami metode para ulama kalam dapat kita simpulkan bahwa metode mereka adalah keliru. Metode tersebut tidak dapat membentuk iman bagi seseorang apalagi menguatkannya. Metode ini hanya menghasilkan sekedar pengetahuan tertentu, bahkan dapat dikatakan pengetahuan yang salah dan meragukan, karena merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepada manusia. Juga karena panca indera kita tidak sanggup menjangkaunya. Kekeliruan metode tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek:

Pertama; metode ulama kalam dalam menentukan bukti didasarkan pada ilmu mantiq, bukan kepada penginderaan. Hal ini menjadikan seorang muslim sangat memerlukan belajar ilmu mantiq agar ia dapat membuktikan eksistensi Allah. Ini berarti bagi seorang yang belum mengetahui ilmu mantiq maka ia tidak boleh membahas aqidah Islam. Padahal islam datang pada masa dimana kaum muslimin belum mengetahui ilmu mantiq. Mereka telah mengembangkan risalah Islam dengan cara yang terbaik serta memberikan bukti-bukti yang meyakinkan terhadap segala hal yang menyangkut aqidah mereka, tanpa memerlukan pembahasan ilmu mantiq dalam menentukan bukti apapun terhadap aqidah Islam. Ini dari satu segi. Sedangkan dari segi lain metode ilmu mantiq (logika) dalam menentukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam menarik kesimpulan.

Hal ini disebabkan oleh premis premis yang salah yang tidak didasarkan atas fakta-fakta. Berbeda halnya dengan metode berpikir yang didasarkan atas fakta-fakta yang nyata. Metode terakhir inilah yang telah digunakan oleh al-Quran dalam menentukan bukti-bukti sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu kekeliruan dalam berpikir. Adapun metode yang menimbulkan kekeliruan dalam berpikir, jelas tidak boleh dijadikan patokan dalam menentukan bukti bukti.

 

Merujuk Kepada Akal Dalam Masalah Ghaib.

 

Kedua: metode yang digunakan para Mutakallimin adalah dengan menjadikan akal sebagai patokan dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan masalah iman, bahkan sampai-sampai menjadikan akal sebagai standar untuk memahami hal-hal yang ghaib pula. Mereka telah menafsirkan al-Quran berdasarkan pertimbangan akal, sehingga menyalahi dasar-dasar lainnya, seperti; mensucikan Allah secara mutlak, kebebasan dalam berkehendak, keadilan Allah dan pemilihannya yang terbaik dalam setiap keputusan/ketentuan dan sebagainya. Mereka telah merujuk kepada akal dalam menafsirkan ayat-ayat yang dari segi lahirnya dianggap kontroversial. Akal juga dijadikan sebagai standar pemutus terhadap hal-hal yang mutasyabihat. Bahkan mereka telah menakwilkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan pendapat yang mereka pilih. Sikap penakwilan ini selalu digunakan karena mereka bertolak dari akal, bukannya dari wahyu (al-Quran). Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat al-Quran harus ditakwilkan dan disesuaikan dengan ketentun akal. Begitulah sikap mereka yang telah menjadikan akal sebagai patokan untuk menafsirkan al- Quran yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam banyak pembahasan. Jika saja mereka menjadikan al-Quran sebagai patokan untuk setiap pembahasan dan akal mereka didasarkan pada al-Quran, tentu tidak akan sampai membahas apa yang sudah mereka bahas.

 

Memang benar, iman terhadap al-Quran sebagai kalamullah (firman Allah) harus didasarkan kepada akal, yakni akal lah yang telah membuktikan kemukjizatannya. Tetapi setelah al-Quran diimani akan menjadi standar untuk mengimani segala sesuatu yang tercantum di dalam al-Quran, tanpa dipertimbangankan lagi oleh akal. Oleh karena itu jika terdapat berbagai ayat dalam al-Quran (mengenai aqidah), maka akal tidak boleh dijadikan tolok ukur kebenaran dan kesalahan makna ayat-ayat tersebut. Kita wajib merujuk hanya pada ayat-ayat al-Quran itu sendiri tanpa 'campur tangan' akal. Dalam hal ini fungsi akal hanya memahami nash-nash saja. Sayangnya para mutakallimin tidak berbuat demikian, melainkan menjadikan akal sebagai tolok ukur dalam penafsiran al-Quran. Oleh karena itu, muncullah sikap penakwilan ayat ayat al-Quran.

 Mengikuti Pendapat Para Filosof

 Ketiga: Para mutakallimin telah menjadikan sikap pertikaian dengan para filosof sebagai dasar pembahasan mereka. Misalnya, golongan mu'tazilah mengambil pendapat dari para filosof dan membantah mereka.  Golongan ahlus sunnah dan jabariyah membantah pendapat mu'tazilah juga dengan mengambil pendapat para filosof dan menentangnya. Padahal yang menjadi obyek pembahasan adalah islam, bukan sikap pertikaian para filosof maupun lainnya. Seharusnya mereka membahas apa yang terdapat pada al-Quran dan Hadist, dan

berhenti disitu tanpa melampaui batas pembahasannya, juga tanpa memperdulikan lagi pendapat siapapun. Akan tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengalihkan aktivitas tabligh Islam dan penjelasan tentang hal-hal yang menyangkut aqidah Islam kepada perdebatan dan berbantah-bantahan. Mereka telah memadamkan kekuatan dan semangat aqidah yang merupakan pendorong jiwa manusia, mengaburkan makna aqidah sehingga menjadikannya sebagai aktifitas perdebatan belaka yang dilakukan secara terus menerus

atau sebagai keahlian tersendiri dalam ilmu kalam. Sikap mereka ini berlawanan dengan metode al-Quran yang juga pernah membantah sebagian pemikiran-pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan suatu metode yang hanya berlandaskan kepada seruan yang difokuskan kepada akal dan fitroh manusia. Dengan demikian metode ini menjadikan setiap orang yang mendengar seruan tersebut mendapat kepastian dan meyakini apa yang dibahas oleh akal terhadap hal-hal yang dapat dijangkaunya yang menunjukkan adanya Khaliq. Disamping ia mampu membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah. Hikmah/tujuan dari ciptaan-ciptaan dan keagungan-Nya.

Bahkan, seseorang yang sampai kepadanya  seruan al-Quran akan merasakan bahwa ia harus mendengar seruan itu dan mengikutinya sampai seorang atheis pun bisa memahami dan cenderung kepadanya.  Metode al-Quran adalah sangat sesuai untuk setiap orang, tanpa ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, baik intelek maupun awam. Metode al-Quran sungguh telah menjadikan manusia berpikir lebih serius tentang keberadaannya di ala mini serta kelanjutannya nanti. Contoh-contoh untuk seruan tersebut antara lain firman Allah SWT:

 

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. al-Hajj [22]: 73-74)

 

Juga firman Allah dalam QS. ath-Thâriq [86]: 5-8, QS. adz-Dzriyat [51]: 20-21, QS. an-Nazi'ât [79]: 27-33). Demikianlah metode al-Quran dalam menjelaskan/menetapkan kekuasaan, kehendak, ilmu dan keagungan Allah berdasarkan apa yang sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Metode tersebut membangkitkan perasaan jiwa manusia sehingga terpengaruh dengan hasil keputusan akal yang telah membuktikan serta mengakuinya sesuai dengan hakikat fitrahnya sehingga manusia merasa puas dan terpenuhilah keinginannya dengan cara yang menimbulkan ketentraman dan ketenangan jiwa. Keluar dari Realita yang Terindera Para mutakallimin telah keluar dari realita bahkan melampaui batas hingga hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Mereka membahas hal-hal di sebalik alam semesta (meta fisika). Misalnya membahas tentang Dzat Allah dan sifat-sifat- Nya yang merupakan suatu hal yang mustahil dapat dijangkau oleh indera manusia.

 

Pembahasan ini telah dikaitkan dengan pembahasan yang berhubungan dengan realita yang dapat diindera. Secara berlebihan, mereka telah menganalogkan hal yang ghaib, yaitu Allah SWT dengan alam nyata, yaitu manusia. Bahkan mereka menetapkan sifat 'keadilan' Allah SWT sama dengan keadilan menurut pandangan manusia di bumi. Mereka lupa bahwa manusia (makhluk) itu dapat dijangkau indera, sedangkan Dzat Allah tidak. Dengan demikian tidak dapat dianalogikan antara satu dengan lainnya. Mereka juga tidak menyadari bahwa keadilan Allah itu tidak dapat disamakan dengan keadilan mnusia di bumi, juga tidak boleh menundukkan Allah kepada hukum dan peraturan alam/manusia. Karena Dia-lah yang menciptakan alam, yang sekaligus mengaturnya sesuai dengan hukum-hukum yang juga Ia ciptakan. Apabila dilihat bahwa manusia dengan segala keterbatasannya memandang dan memahami keadilan dengan cara yang terbatas pula, ia akan menentukan sikap terhadap alam sekitarnya sesuai dengan pemahamannya. Tetapi apabila pandangannya meluas, pemahaman dan sikapnya tentang keadilanpun berubah juga. Lalu bagaimana mungkin manusia akan menganalogikan Rabb, Pencipta alam semesta ini, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, lalu mereka

memandang keadilan-Nya sesuai dengan makna yang mereka kehendaki? Begitu pula halnya dengan kriteria penentuan baik dan yang terbaik bagi Allah SWT.

Ayat-Ayat Mutasyabihat

Kelima: ayat-ayat mutasyabihat yang bersifat global dan tidak memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya telah turun dengan penjelasan yang umum tanpa memberi perincian. Ayat-ayat tersebut dapat berupa penjelasan tentang segala sesuatu secara garis besar atau berupa ketentuan terhadap fakta/keadaan yang kelihatannya tidak bisa dibahas, ditelaah dan dijadikan patokan sehingga pembacanya tidak bisa memalingkan diri darinya. Walaupun membahasnya, namun ia tidak dapat mengetahui hakikat tujuan makna-maknanya kecuali hanya sebatas apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya.  Oleh karena itu, wajarlah apabila

semuanya ditentukan sikap pasrah kepada ayat-ayat tersebut, tanpa mencari sebab-sebab (penakwilan) atau penjelasan yang lebih detail. Sebagai contoh dalam hal ini, bahwa di dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang menerangkan adanya paksaan pada perbuatan-perbuatan manusia. Sebaliknya, banyak juga yang menunjukkan adanya ikhtiyar (pilihan manusia sendiri).  Diantaranya firman Allah SWT: TQS. al- Mukmin [40]: 31, juga dalam QS. al-Insân [76]:30, QS. al-Baqarah [2]: 286, QS. al-An'âm [6]: 125. Di dalam al-Quran terdapat pula sejumlah ayat yang menyebutkan bahwa Allah memiliki wajah dan tangan, menjelaskan bahwa Dia ada di langit. Diantaranya seperti firman-Nya:

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (QS. al-Mulk [67]: 16)

juga dalam QS. ar-Rahman [55]: 27, QS. al-Fajr [89]: 22, QS. al-Maidah [5]: 64. Disamping itu terdapat ayat-ayat lain yang menetapkan sikap pensucian terhadap Allah SWT, yakni tidak boleh menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya, seperti firman- Nya: TQS. asy-Syûrâ [42]: 11, QS. al-An'âm [6]: 100. Demikianlah ragam ayat al-Quran yang tersebar di berbagai segi yang Nampak adanya pertentangan (kontroversial). Ayat ayat inilah yang oleh al-Quran disebut sebagaiayat-ayat mutasyabihat.  Mengikuti Ayat-Ayat Mutasyabihat Pada waktu ayat-ayat tersebut turun, Rasulullah saw menyampaikannya kepada masyarakat, para sahabat, segera saja kaum muslimin mengimaninya. Mereka menghafal ayat-ayat tersebut di dalam lubuk hatinya dan ayat-ayat tersebut tidak menimbulkan pembahasan dan perdebatan apapun di kalangan mereka. Mereka tidak melihat adanya pertentangan apapun yang memerlukan penjelasan yang detail. Mereka memahami semua ayat sesuai dengan segi yang diterangkan dan ditetapkan oleh ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka mengimani ayatayat tersebut, membenarkan dan memahaminya dengan pemahaman yang global dan mereka merasa cukup dengan pemahaman seperti ini. Mereka menganggap ayat-ayat tersebut sebagai penjelas bagi kenyataan atau sebagai penetapan bagi suatu hakikat. Banyak dari kalangan para ulama intelek tidak masuk pada pembahasan perincian ayat-ayat mutasyabihat ini dan tidak pula memperdebatkannya. Bahkan, dipandangnya bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu kemaslahatan bagi Islam. Maka pemahaman makna yang bersifat global bagi setiap orang yang memahaminya sesuai dengan ukuran yang dapat dipahami, tidak perlu ia terjerumus ke dalam perincian dan bahasan yang mengada-ada. Demikianlah kaum muslimin menemukan metode al-Quran, menerima ayat-ayat-Nya dan bertindak sesuai dengan metode tersebut. Pada waktu datang golongan mutakallimin, mereka meletakkan pemahamannya terhadap ayat-ayat mutasyabihat berdasarkan pada apa yang didapatkan oleh akal mereka tentang makna ayat 'laisakamitslihi syaiun' (tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya). Mereka menjadikan pemahaman ini sebagai penentu dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Mereka bangun di atas pemahaman ini dasar-dasar (ushuluddin menurut mazhab mereka). Lalu membahasnya secara terperinci berdasarkan ushul pemahaman mereka tersebut. Disamping itu mereka menakwilkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya. Juga, mengkafirkan semua orang yang menyalahi pendapatnya. Banyak dan panjangnya pembicaraan dalam masalah ini menyebabkan timbulnya fitnah yang besar di kalangan kaum muslimin. Andai kata mereka mengembalikan masalah tersebut kepada Allah dan Rasul, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang melimpah ruah. Firman Allah SWT mengumpamakan mereka seperti dalam TQS. Ali Imran [3]: 7.

Perlu kita merenungkan sabda

Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh

muslim dari 'Aisyah ra:

"Andaikata kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat maka mereka itu adalah orang-orang yang disebut Allah swt (dalam QS. Ali Imran diatas) maka berhati-hatilah terhadap mereka." (HR.

Muslim)

 

Hambatan Bahasa Ada yang mengatakan bahwa sebab keterlibatan dalam ilmu kalam adalah kelemahan yang menimpa otak kaum muslimin dalam memahami bahasa arab. Oleh karena itu, kata mereka, kita akan beralih dari cara para sahabat membahas aqidah pada cara-cara logika. Bukanlah satu kesalahan apabila kita tetap memertahankan sikap pensucian terhadap Allah tanpa mengingkari dan menyerupakan. Alasan mereka ini sebenarnya merupakan hujjah yang lemah. Sebab, gaya pembahasan yang dilakukan oleh para ulama kalam tidak menunjukkan bahwa bahasa merupakan salah satu hambatan dalam pemahaman aqidah secara benar, tetapi obyek bahasan yang ada pada merekalah yang menjadikannya berselisih pendapat. Sebagai contoh, apabila kita mengatakan:

'Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'

Makna ayat ini dapat dipahami artinya dari segi bahasa, tanpa perlu menggunakan cara-cara mantiq/logika. Akan tetapi berubahnya obyek pembahasan yang dibahas dari segi Dzat Allah itulah yang mendorong munculnya metode tersebut. Apabila yang mendorong menggunakan cara-cara logika adalah benar bahasa

arab maka adalam hal ini cukuplah kita menerangkan arti bahasa untuk kata-kata yang membutuhkan penafsiran/penjelasan dan terhadap makna-makna yang belum jelas dalam benak kita maka kita terima secara pasrah tanpa membahasnya atau memperdebatkannya lagi. Tetapi nampaknya bahwa arti lughawi (bahasa) bukan merupakan sebab penakwilan dan pembahasan tentang Dzat Allah atau terlibatnya akal dalam kesesatan yang sulit baginya untuk melepaskan diri darinya kecuali dalam keadaan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi, penyebab yang sesungguhnya (penakwilan dan pembicaraan mengenai dzat Allah) adalah mengikuti hawa nafsu dan tidak meneladani metode para ulama salaf. Metode yang Memecah Belah Persatuan Di antara hal-hal yang perlu diingat adalah bahwa pembahasan ulama kalam ini telah menyebabkan munculnya banyak firqah-firqah yang keluar dari Islam. Mereka termasuk dalam golongan-golongan yang disebutkan oleh rasulullah saw dalam sabdanya:

"Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya masuk neraka. Sedangkan Kaum muslim terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya juga masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: siapakah dia, ya Rasulullah? Beliau menjawab: golongan yang mengikuti aku dan para sahabatku." (Sunan Tirmidzi: 22642-2643; Sunan Abu Daud 4596-4597; Musnad Imam Ahmad no. 1024)

 

Rasulullah saw telah memberi petunjuk kita agar meneladani pola hidup beliau, serta melarang kita, umatnya menyalahi jalan tersebut. Perhatikanlah sabda Beliau dalam sebuah hadist shahih:

"Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sesudahku), kelak dia akan melihat banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.

Lalu gigitlah (peganglah) dengan gerahammu. Dan jahuilah perkara-perkara yang baru (maksudnya dalam masalah ibadah). Sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid'ah dn semua bid'ah (mengakibatkan seorang masuk) dalam neraka." (Sunan Abi Daud, 4607; Sunan Tirmidzi 2678; Musnad Imam Ahmad IV hal. 126-127).

 

Demikian pula diantara hal yang perlu dipegang teguh bahwa pembahasanpembahasan ini dan yang serupa dengannya akan menyebabkan berhadapannya seorang muslim melawan saudaranya yang muslim, bahkan akan mengalihkan perhatiannya hanya untuk menghadapi 'urusan dalam' kaum muslimin. Sehingga orang-orang kafir dapat mengambil kesempatan untuk melontarkan banyak perkara-perkara syubhat yang menyibukkan kaum muslimin dalam menyelesaikannya, bahkan dapat menyebabkan terhentinya kegiatan dakwah dan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu kita lihat ketika ilmu-ilmu logika mulai berkurang, bahkan lenyap dari masyarakat sangat diperhatikan dan menjadi pembahasan serius kaum orientalis. Begitu juga para teolog nasrani banyak mengarang buku-buku di bidang ini. Pembahasan ilmu kalam masih mempengaruhi sekelompok kecil umat, yang alangkah baiknya mereka tinggalkan hanya karena Allah semata, yang mereka cintai. Jika tidak, maka mereka baik sengaja ataupun tidak berarti telah mengikuti orang yang tidak  mengharapkan kebaikan bagi agama Islam ini.  Dalam kenyataannya, permasalahan ilmu kalam telah dimunculkan oleh beberapa orang nasrani yang kemudian memeluk Islam tetapi tidak ikhlas pada-Nya. Diantara hal yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Ghailan ad-Damasyqi pada mulanya sebelum menganut Islam adalah orang Qibti (Nasrani dari Mesir). Dan dialah orang yang paling gencar menyerukan masalah qodar. Misalnya apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya Kitabu al-Ma'arif, hal 166:

"Ghailan ad-Damasyqi adalah orang Qibti yang tidak ada searang pun sebelumnya membicarakannya dan menyeru kepada masalah qodar kecuali Ma'bad al-Jahni. Dan Ghailan memiliki julukan Abu Marwan. Lalu ditangkap oleh Hisyam ibnu Malik (wafat pada tahun 125 H), kemudian disalib di pintu gerbang kota Damaskus."

Sebagaimana halnya dahulu, sekelompok nasrani yang masuk Islam telah membahas tentang berbagai syubhat yang mengangkut aqidah, khususnya masalah taqdir, kita akan menemukan pula bahwa sekelompok Yahudi yang masuk Islam telah menimbulkan berbagai syubhat; tentang penyerupaan dan penitisan/penjelmaan Allah swt. Untuk itu dibuatlah cerita-cerita dan riwayat palsu. Asy-Syahru Satani berkata:

"Kebanyakan berita-berita/cerita yang dibuat berkenaan dengan masalah penyerupaan Dzat Allah berasal dari Yahudi. Dan sesungguhnya sikap demikian sudah merupakan tabi'at mereka. Barangkali, Abdullah ibnu Saba' yang dahulu seorang Yahudi kemudian masuk Islam merupakan orang yang pertama kali memunculkan perkara-perkara Syubhat dan bid'ah tentang penyerupaan Allah disamping sikap ekstrim dan dan berlebih-lebihan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abdul Qadir al-Baghdady di dalam kitabnya al-Farqu Bainal Firoq, hal 214."


 Wallahu'alam


 Sumber : Buku Kekeliruan Ilmu Kalam

Penulis: Syamsuddin Ramadhan

Cet. I, Rajab 1424 H–September 2003 M



DOWNLOAD EBOOK ISLAM


Blog Archive