Motto "Lestarikan Budaya Luhur Islam"

31 Mei 2013

SYAIR ISLAM : RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !

RUSAKNYA PELAJAR DIJAMAN EDAN !
(By : Muh. Ashabus Samaa'un)


lihatkah sobat
lihatlah kawan
lihatlah teman
lihatlah semua
kalian para manusia
dunia pendidikan
benar-benar dalam kekacauan
karena sistem pendidikan kita
benar-benar serba edan
hasilnya anak-anak semrawut suka ribut
pulang sekolah tidak belajar malah tawuran
atau kebut-kebutan motor dijalanan
mirip brandalan yang nyasar kesekolahan
dikasih PR tidak dikerjakan
malah-malah waktu luang untuk pacaran
dirumah pura-pura belajar
ternyata main facebookan
pamit les ternyata main Ps-an
lulus sekolah corat coret seragam
katanya untuk expresi kegembiraan
padahal hal itu adalah kemaksiatan
perilaku kufur yang dimurkai Tuhan
cobalah berpikir !
lulus UN bukanlah segalanya
itu hanya satu langkah kecil
untuk menempuh tingkat pendidikan
yang lebih berat tuk selanjutnya
memang begitulah kenyataan
pendidikan kita telah gagal
membentuk manusia bermoral
hasilnya manusia-manusia edan !
pendek akal tak punya aturan
berbuat seenaknya sendiri
pembuat onar dan kericuhan
pandai korupsi gemar perilaku kemaksiatan
pengikut hawa nafsu setan


oh enaknya jadi murid jaman sekarang
belajar disekolah tidak mikir biaya
berangkat sekolah dikasih uang saku
pulang pergi tidak repot jalan kaki
karena memang sudah jaman kemajuan teknologi
begitulah orang tua memanjakan kehidupan kalian
namun kenyataaan,
bukannya kalian berterima kasih atau balas jasa
malah kalian membalas kebaikan dengan kemungkaran
air susu yang mereka berikan
tlah kalian tumpahkan
kemudian kalian beri mereka racun mematikan
begitulah, segala yang tlah kedua orang tuamu lakukan
hanya dibalas dengan kekufuran
malas-malasan belajar
membolos, pacaran, tawuran, sampai mabuk-mabukan
kebut-kebut dijalanan
mirip preman bangun kesiangan
bahkan ada yang pacaran sampai hamil duluan
sungguh mengerikan
generasi macam apa ini
generasi amburadul korban modernisasi
generasi lupa diri
lupa keluarga, lupa agama
lupa Tuhan, lupa hidup, lupa mati


Bayangkanlah wahai para pelajar
Umur kalian sangat belia
jauhilah cara berpikir lattah
cuman suka ikut-ikutan semata
jika kalian turuti hawa nafsu setan
tunggulah murka dari Tuhan
kehancuran dan kebinasaan bagi kehidupan kalian
masa depan yang buruk nan suram tak terbayangkan
kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan kehidupan
tlah menanti tuk meneror jalan kehidupan
sebagai akibat segala kebaikan
yang tlah orang tua dan guru berikan
dibalas dengan kemaksiatan dan kekufuran
sudah lupakah kalian
bahwa hidup didunia ini cuman sementara
waktu yang digunakan sia-sia
pasti kerugianlah yang didapatkannya
tidak saja kerugian dunia namun juga akhiratnya

sudahlah cukup segala kerusakan yang tlah dilakukan
jangan ikuti mereka
yang tlah terlanjur menemui kebinasaan
mulai sekarang kita harus berbenah diri
bertaubat dari segala perilaku maksiat
jadilah anak salih dan shalihah
yang taat beragama
berbakti kepada kedua orang tua
patuh nasehat guru
suka berbuat baik kepada sesama manusia
supaya diakhirat
kita mendapatkan kebahagiaan
yang kekal slamanya
semoga segala yang kita lakukan
mendapat ridha Tuhan Alam semesta
amin.









12 Mei 2013

Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam


Kekeliruan dan Kesesatan Ilmu Kalam

(Mantiq, Tasawuf, Filosofi, teologi, liberalisasi dll )

Oleh : www.ashabul-muslimin.tk

                

Mukadimah

Ilmu kalam memang ilmu yang terkesan nyeleneh. Karena mempelajari sesuatu hal diluar kemampuan akal manusia kemudian terkadang juga orang yang tidak kuat akalnya belajar ilmu ini bisa jadi gila, naudzubillah. Oleh karena itulah secara kasar saya katakan ilmu kalam ini disebut juga ilmu pengawuran. Karena terkadang mereka mengingkari sebagian al-Qur'an kemudian lebih mengambil pendapat akalnya sendiri atau barangkali mengimpor pendapat-pendapat filusuf-filusuf yunani yang sudah jelas-jelas mereka itu kaum paganisme (penyembah berhala). Sungguh tidak pantas sekali jika pendapat orang musyrik itu diambil sebagai landasan berpikir bagi kaum muslimin. Ilmu ini bisa membuat orang berbuat syirik dsb. Karena secara mendasar saja bisa dibilang yang mempelajari ilmu ini artinya menyembah akalnya sendiri secara tidak sadar, karena telah menganggap akalnya lebih unggul daripada ayat Allah SWT.

Apa yang disebut dengan ilmu kalam tidak pernah ada pada masa Nabi saw atau pada masa sahabatnya. Ilmu ini mulai muncul setelah berbagai kebudayaan asing diterjemahkan kedala bahasa arab, khususnya filsafat dan ilmu mantiq Yunani. Sebagian besar kaum muslimin yang menyibukkan diri dalam membahas  ilmu kalam tidaklah menjadi kafir akibat perbuatan tersebut. Tujuan mereka  dalam  membahas ilmu tidak lain hanya ingin menjelaskan hal- hal  yang  menyangkut  aqidah  Islam serta mempertemukan antara metode ilmu mantiq dengan apa yang mereka anggap kontroversial dari  nash-nash  syara'. Hanya  saja mereka tersesat dan menyibukkan pikiran mereka dan orang lain terhadap pembahasan-pembahasan yang akal mereka sendiri tidak sanggup menjangkaunya. Padahal langkah yang benar bagi mereka semestinya membatasi pembahasan hanya pada nash-nash syara', yaitu berdasarkan wahyu semata.

 

Munculnya Ilmu Kalam

Sepanjang masa Nabi saw, kaum muslimin hanya mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat dalam al-Quran dan apa yang sesuai dengan metode Kitabullah tersebut. Mereka hidup dimasa turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat rasul.       Cahaya persahabatan tersebut telah  menghilangkan kegelapan, keraguan dan khayalan. Kekuatan iman yang mereka miliki,tidak pernah menimbulkan satu pertanyaan pun yang mengandung unsur keraguan. Mereka tidak berusaha  mencari  ilmu  yang  Allah  sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia. Merekalah yang paling baik dan tinggi martabatnya diantara umat ini.

Bahkan Rasulullah  saw sendiri  pernah memberikan kesaksian tentang kebaikan mereka ini. Karena itulah jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta penyampaiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam daripada metode-metode lain. Betapa tidak !? Sebab, ini merupakan metode Rasul yang berdasarkan metode al- Quran dalam membahas aqidah. Dengan metode ini orang-orang  akan  mendapatkankepuasan  jiwa,  petunjuk  yang  benar,  ilmu yang disertai keyakinan.Berkat metode tersebut, seorang muslim akan menjadi suatu potensi tenaga yang dasyat yang kemudian mendorongnya untuk menyampaikan dakwah dengan semangat. Jalan yang ditempuh dalam hal ini adalah jalan Rasul dan para sahabatnya. Abad pertama hijriyah telah berakhir  setelah dakwah Islam tersebar luas dan menguasai segenap penjuru. Islam pada waktu itu disampaikan dengan pemahaman yang cemerlang, iman yang dalam dan kesadaran yang         hebat. Akibat dari perkembangan dakwah Islam tersebut, Islam berinteraksi  dengan  peradaban  dan  agama yang dimiliki bangsa-bangsa lain yang masuk Islam. Dikarenakan         al-Quran telah mencantumkan rincian tentang aqidah Islam dan telah membeberkan aqidah-aqidah yang berlawanan dengannya, begitu pula bantahan- bantahan yang melemahkan aqidah lain. Maka sebagai    akibat interaksi ini,  timbullah pergolakan  pemikiran  antara  Islam  dengan kekufuran.  Hal  ini  merupakan  salah  satu sebabyangmendorongpemikirankaum muslimin membahas aqidah Islam dari berbagai segi. Termasuk dalam menentukan cara membela aqidah Islam dihadapan aqidah-aqidah (keyakinan) lainnya, terutama filsafat Yunani yang telah dipakai orang-orang nasrani dalam menghadapi dan menghalangi dakwah Islam. Usaha tersebut menghasilkan adanya aktivitas penterjemahan besar-besaran sehingga filsafat Yunani ini beralih dan diketahui oleh sebagian kum muslimin yang menyibukkan diri dalam aktivitas penerjemahan tersebut, yang kelak menghasilkan apa yang disebut dengan 'Ilmu Kalam' dan metode pembahasan 'Ilmu Mantiq'.

 

Metode Baru

Metode-metode ilmu kalam (mantiq) yang telah dilahirkan oleh generasi yang datang setelah sahabat (khalaf) adalah teramat jauh berbeda dengan metode sebelumnya yaitu metode sahabat (salaf). Karena metode khalaf ini telah membicarakan Dzat Allah dan berdasarkan pada metode pembahasan filosof filosof Yunani. Metode ini menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman. Dalam menentukan bukti, ia berlandaskan pada ilmu mantiq dan telah mengambil sikap pertengkaran/ pertikaian untuk menghadapi para filosof dalam setiap pembahasan. Mereka juga membahas tentang apa yang tidak dapat diindera atau dijangkau tentang dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Dalam hal ini, mereka telah mengikuti ayat-ayat mutasyabihat yang banyak menimbulkan penakwilan, lalu bertambahlah sikap permusuhan tersebut sehingga pada akhirnya terjadi penyimpangan (fitnah) terhadap aqidah yang sebenarnya. Semua kejadian itu telah terjadi antar sesama kaum muslimin yang ikut sibuk membahas masalah ini. Bahkan sampai melibatkan sebagian dari ulama fiqih yang telah berusaha menjauhkan diri dari pembahasan ilmu kalam, malah telah memberi peringatan kepada orang-orang untuk menjauhinya, seperti yang terjadi pada Imam Ahmad ibn Hambal ra.

 

Dan begitulah sikap ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in. Mereka lebih banyak menyibukkan diri dengan mengamalkan Kitabullah daripada sibuk debat kusir dan berbantah-bantahan. Islam kemudian menyebar luas ke pelosok dunia. Terjadilah kemudian penaklukan-penaklukan daerah baru. Setelah itu sebagian kaum muslimin mulai terpengaruh dengan sebagian ide-ide filsafat antara lain filsafat Yunani. Akibatnya mereka terpecah menjadi banyak kelompok, firqoh dan aliran-aliran. Sehingga mereka lebih banyak sibuk dalam berdebat daripada mengamalkan Kitabullah. Hati mereka diabaikan sedangkan akal mereka diagung-agungkan sampai begitu beraninya membahas segala sesuatu (baik yang dapat dijangkau ataupun yang tidak).

 

Mereka berpikir dan membahas Dzat Allah dengan cara yang berlebihan begitu pula terhadap sifat-sifat-Nya, yang mereka bahas secara mendetail berdasarkan pertimbangan akal dan didukung dengan pendapat serta cara pemikiran para filosof sebelumnya. Padahal Allah SWT adalah Maha Pencipta yang tidak dapat dijangkau manusia. Jika manusia masih merasa dirinya lemah untuk mengetahui secara detail tentang dirinya sendiri dan apa yang ada dalam dirinya sampai sekecil-kecilnya, maka bagaimana mungkin akal manusia mampu menjangkau Dzat Allah Yang Maha Pencipta bagi alam semesta dan seisinya. Juga, Dia lah yang menguasai segala urusan yang menyangkut Dzat Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, padahal tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur/pembanding! Satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam hal ini adalah dengan menjadikan firman Allah SWT tentang dzat dan sifat-sifat-Nya serta hadist Rasul yang shahih dan terbukti kebenarannya, merasuk dalam kalbu kita, lalu mengimaninya tanpa takwil dan tanpa mempersulit pembahasannya. Sebab kita tahu bahwa jika kita menakwilkan suatu ayat/hadist maka penakwilan itu sesuai dengan firman Allah/sabda Rasul atau tidak. Orang yang menakwilkan sesuatu biasanya tidak sanggup memastikannya, benar atau salah. Yang membentuk keyakinan adalah makna/lafazhlafazh zhahir (berdasarkan konteks kalimat) dari ayat/hadist, juga lafazh hakiki (makna sebenarnya( bukan yang majazi atau makna kiasan).

 

Metode yang Keliru

Setelah membahas dan mendalami metode para ulama kalam dapat kita simpulkan bahwa metode mereka adalah keliru. Metode tersebut tidak dapat membentuk iman bagi seseorang apalagi menguatkannya. Metode ini hanya menghasilkan sekedar pengetahuan tertentu, bahkan dapat dikatakan pengetahuan yang salah dan meragukan, karena merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak pernah diberitahukan kepada manusia. Juga karena panca indera kita tidak sanggup menjangkaunya. Kekeliruan metode tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek:

Pertama; metode ulama kalam dalam menentukan bukti didasarkan pada ilmu mantiq, bukan kepada penginderaan. Hal ini menjadikan seorang muslim sangat memerlukan belajar ilmu mantiq agar ia dapat membuktikan eksistensi Allah. Ini berarti bagi seorang yang belum mengetahui ilmu mantiq maka ia tidak boleh membahas aqidah Islam. Padahal islam datang pada masa dimana kaum muslimin belum mengetahui ilmu mantiq. Mereka telah mengembangkan risalah Islam dengan cara yang terbaik serta memberikan bukti-bukti yang meyakinkan terhadap segala hal yang menyangkut aqidah mereka, tanpa memerlukan pembahasan ilmu mantiq dalam menentukan bukti apapun terhadap aqidah Islam. Ini dari satu segi. Sedangkan dari segi lain metode ilmu mantiq (logika) dalam menentukan suatu bukti memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam menarik kesimpulan.

Hal ini disebabkan oleh premis premis yang salah yang tidak didasarkan atas fakta-fakta. Berbeda halnya dengan metode berpikir yang didasarkan atas fakta-fakta yang nyata. Metode terakhir inilah yang telah digunakan oleh al-Quran dalam menentukan bukti-bukti sehingga tidak memungkinkan terjadinya suatu kekeliruan dalam berpikir. Adapun metode yang menimbulkan kekeliruan dalam berpikir, jelas tidak boleh dijadikan patokan dalam menentukan bukti bukti.

 

Merujuk Kepada Akal Dalam Masalah Ghaib.

 

Kedua: metode yang digunakan para Mutakallimin adalah dengan menjadikan akal sebagai patokan dalam membahas segala hal yang berkaitan dengan masalah iman, bahkan sampai-sampai menjadikan akal sebagai standar untuk memahami hal-hal yang ghaib pula. Mereka telah menafsirkan al-Quran berdasarkan pertimbangan akal, sehingga menyalahi dasar-dasar lainnya, seperti; mensucikan Allah secara mutlak, kebebasan dalam berkehendak, keadilan Allah dan pemilihannya yang terbaik dalam setiap keputusan/ketentuan dan sebagainya. Mereka telah merujuk kepada akal dalam menafsirkan ayat-ayat yang dari segi lahirnya dianggap kontroversial. Akal juga dijadikan sebagai standar pemutus terhadap hal-hal yang mutasyabihat. Bahkan mereka telah menakwilkan ayat-ayat yang tidak sesuai dengan pendapat yang mereka pilih. Sikap penakwilan ini selalu digunakan karena mereka bertolak dari akal, bukannya dari wahyu (al-Quran). Mereka beranggapan bahwa ayat-ayat al-Quran harus ditakwilkan dan disesuaikan dengan ketentun akal. Begitulah sikap mereka yang telah menjadikan akal sebagai patokan untuk menafsirkan al- Quran yang mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam banyak pembahasan. Jika saja mereka menjadikan al-Quran sebagai patokan untuk setiap pembahasan dan akal mereka didasarkan pada al-Quran, tentu tidak akan sampai membahas apa yang sudah mereka bahas.

 

Memang benar, iman terhadap al-Quran sebagai kalamullah (firman Allah) harus didasarkan kepada akal, yakni akal lah yang telah membuktikan kemukjizatannya. Tetapi setelah al-Quran diimani akan menjadi standar untuk mengimani segala sesuatu yang tercantum di dalam al-Quran, tanpa dipertimbangankan lagi oleh akal. Oleh karena itu jika terdapat berbagai ayat dalam al-Quran (mengenai aqidah), maka akal tidak boleh dijadikan tolok ukur kebenaran dan kesalahan makna ayat-ayat tersebut. Kita wajib merujuk hanya pada ayat-ayat al-Quran itu sendiri tanpa 'campur tangan' akal. Dalam hal ini fungsi akal hanya memahami nash-nash saja. Sayangnya para mutakallimin tidak berbuat demikian, melainkan menjadikan akal sebagai tolok ukur dalam penafsiran al-Quran. Oleh karena itu, muncullah sikap penakwilan ayat ayat al-Quran.

 Mengikuti Pendapat Para Filosof

 Ketiga: Para mutakallimin telah menjadikan sikap pertikaian dengan para filosof sebagai dasar pembahasan mereka. Misalnya, golongan mu'tazilah mengambil pendapat dari para filosof dan membantah mereka.  Golongan ahlus sunnah dan jabariyah membantah pendapat mu'tazilah juga dengan mengambil pendapat para filosof dan menentangnya. Padahal yang menjadi obyek pembahasan adalah islam, bukan sikap pertikaian para filosof maupun lainnya. Seharusnya mereka membahas apa yang terdapat pada al-Quran dan Hadist, dan

berhenti disitu tanpa melampaui batas pembahasannya, juga tanpa memperdulikan lagi pendapat siapapun. Akan tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka malah mengalihkan aktivitas tabligh Islam dan penjelasan tentang hal-hal yang menyangkut aqidah Islam kepada perdebatan dan berbantah-bantahan. Mereka telah memadamkan kekuatan dan semangat aqidah yang merupakan pendorong jiwa manusia, mengaburkan makna aqidah sehingga menjadikannya sebagai aktifitas perdebatan belaka yang dilakukan secara terus menerus

atau sebagai keahlian tersendiri dalam ilmu kalam. Sikap mereka ini berlawanan dengan metode al-Quran yang juga pernah membantah sebagian pemikiran-pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan suatu metode yang hanya berlandaskan kepada seruan yang difokuskan kepada akal dan fitroh manusia. Dengan demikian metode ini menjadikan setiap orang yang mendengar seruan tersebut mendapat kepastian dan meyakini apa yang dibahas oleh akal terhadap hal-hal yang dapat dijangkaunya yang menunjukkan adanya Khaliq. Disamping ia mampu membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah. Hikmah/tujuan dari ciptaan-ciptaan dan keagungan-Nya.

Bahkan, seseorang yang sampai kepadanya  seruan al-Quran akan merasakan bahwa ia harus mendengar seruan itu dan mengikutinya sampai seorang atheis pun bisa memahami dan cenderung kepadanya.  Metode al-Quran adalah sangat sesuai untuk setiap orang, tanpa ada perbedaan antara penguasa dan rakyat, baik intelek maupun awam. Metode al-Quran sungguh telah menjadikan manusia berpikir lebih serius tentang keberadaannya di ala mini serta kelanjutannya nanti. Contoh-contoh untuk seruan tersebut antara lain firman Allah SWT:

 

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. al-Hajj [22]: 73-74)

 

Juga firman Allah dalam QS. ath-Thâriq [86]: 5-8, QS. adz-Dzriyat [51]: 20-21, QS. an-Nazi'ât [79]: 27-33). Demikianlah metode al-Quran dalam menjelaskan/menetapkan kekuasaan, kehendak, ilmu dan keagungan Allah berdasarkan apa yang sesuai dengan akal dan fitrah manusia. Metode tersebut membangkitkan perasaan jiwa manusia sehingga terpengaruh dengan hasil keputusan akal yang telah membuktikan serta mengakuinya sesuai dengan hakikat fitrahnya sehingga manusia merasa puas dan terpenuhilah keinginannya dengan cara yang menimbulkan ketentraman dan ketenangan jiwa. Keluar dari Realita yang Terindera Para mutakallimin telah keluar dari realita bahkan melampaui batas hingga hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Mereka membahas hal-hal di sebalik alam semesta (meta fisika). Misalnya membahas tentang Dzat Allah dan sifat-sifat- Nya yang merupakan suatu hal yang mustahil dapat dijangkau oleh indera manusia.

 

Pembahasan ini telah dikaitkan dengan pembahasan yang berhubungan dengan realita yang dapat diindera. Secara berlebihan, mereka telah menganalogkan hal yang ghaib, yaitu Allah SWT dengan alam nyata, yaitu manusia. Bahkan mereka menetapkan sifat 'keadilan' Allah SWT sama dengan keadilan menurut pandangan manusia di bumi. Mereka lupa bahwa manusia (makhluk) itu dapat dijangkau indera, sedangkan Dzat Allah tidak. Dengan demikian tidak dapat dianalogikan antara satu dengan lainnya. Mereka juga tidak menyadari bahwa keadilan Allah itu tidak dapat disamakan dengan keadilan mnusia di bumi, juga tidak boleh menundukkan Allah kepada hukum dan peraturan alam/manusia. Karena Dia-lah yang menciptakan alam, yang sekaligus mengaturnya sesuai dengan hukum-hukum yang juga Ia ciptakan. Apabila dilihat bahwa manusia dengan segala keterbatasannya memandang dan memahami keadilan dengan cara yang terbatas pula, ia akan menentukan sikap terhadap alam sekitarnya sesuai dengan pemahamannya. Tetapi apabila pandangannya meluas, pemahaman dan sikapnya tentang keadilanpun berubah juga. Lalu bagaimana mungkin manusia akan menganalogikan Rabb, Pencipta alam semesta ini, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, lalu mereka

memandang keadilan-Nya sesuai dengan makna yang mereka kehendaki? Begitu pula halnya dengan kriteria penentuan baik dan yang terbaik bagi Allah SWT.

Ayat-Ayat Mutasyabihat

Kelima: ayat-ayat mutasyabihat yang bersifat global dan tidak memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya telah turun dengan penjelasan yang umum tanpa memberi perincian. Ayat-ayat tersebut dapat berupa penjelasan tentang segala sesuatu secara garis besar atau berupa ketentuan terhadap fakta/keadaan yang kelihatannya tidak bisa dibahas, ditelaah dan dijadikan patokan sehingga pembacanya tidak bisa memalingkan diri darinya. Walaupun membahasnya, namun ia tidak dapat mengetahui hakikat tujuan makna-maknanya kecuali hanya sebatas apa yang tersurat dalam lafadz-lafadznya.  Oleh karena itu, wajarlah apabila

semuanya ditentukan sikap pasrah kepada ayat-ayat tersebut, tanpa mencari sebab-sebab (penakwilan) atau penjelasan yang lebih detail. Sebagai contoh dalam hal ini, bahwa di dalam al-Quran terdapat sejumlah ayat yang menerangkan adanya paksaan pada perbuatan-perbuatan manusia. Sebaliknya, banyak juga yang menunjukkan adanya ikhtiyar (pilihan manusia sendiri).  Diantaranya firman Allah SWT: TQS. al- Mukmin [40]: 31, juga dalam QS. al-Insân [76]:30, QS. al-Baqarah [2]: 286, QS. al-An'âm [6]: 125. Di dalam al-Quran terdapat pula sejumlah ayat yang menyebutkan bahwa Allah memiliki wajah dan tangan, menjelaskan bahwa Dia ada di langit. Diantaranya seperti firman-Nya:

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (QS. al-Mulk [67]: 16)

juga dalam QS. ar-Rahman [55]: 27, QS. al-Fajr [89]: 22, QS. al-Maidah [5]: 64. Disamping itu terdapat ayat-ayat lain yang menetapkan sikap pensucian terhadap Allah SWT, yakni tidak boleh menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya, seperti firman- Nya: TQS. asy-Syûrâ [42]: 11, QS. al-An'âm [6]: 100. Demikianlah ragam ayat al-Quran yang tersebar di berbagai segi yang Nampak adanya pertentangan (kontroversial). Ayat ayat inilah yang oleh al-Quran disebut sebagaiayat-ayat mutasyabihat.  Mengikuti Ayat-Ayat Mutasyabihat Pada waktu ayat-ayat tersebut turun, Rasulullah saw menyampaikannya kepada masyarakat, para sahabat, segera saja kaum muslimin mengimaninya. Mereka menghafal ayat-ayat tersebut di dalam lubuk hatinya dan ayat-ayat tersebut tidak menimbulkan pembahasan dan perdebatan apapun di kalangan mereka. Mereka tidak melihat adanya pertentangan apapun yang memerlukan penjelasan yang detail. Mereka memahami semua ayat sesuai dengan segi yang diterangkan dan ditetapkan oleh ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat tersebut turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kenyataan yang mereka alami. Mereka mengimani ayatayat tersebut, membenarkan dan memahaminya dengan pemahaman yang global dan mereka merasa cukup dengan pemahaman seperti ini. Mereka menganggap ayat-ayat tersebut sebagai penjelas bagi kenyataan atau sebagai penetapan bagi suatu hakikat. Banyak dari kalangan para ulama intelek tidak masuk pada pembahasan perincian ayat-ayat mutasyabihat ini dan tidak pula memperdebatkannya. Bahkan, dipandangnya bahwa hal tersebut bukan merupakan suatu kemaslahatan bagi Islam. Maka pemahaman makna yang bersifat global bagi setiap orang yang memahaminya sesuai dengan ukuran yang dapat dipahami, tidak perlu ia terjerumus ke dalam perincian dan bahasan yang mengada-ada. Demikianlah kaum muslimin menemukan metode al-Quran, menerima ayat-ayat-Nya dan bertindak sesuai dengan metode tersebut. Pada waktu datang golongan mutakallimin, mereka meletakkan pemahamannya terhadap ayat-ayat mutasyabihat berdasarkan pada apa yang didapatkan oleh akal mereka tentang makna ayat 'laisakamitslihi syaiun' (tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya). Mereka menjadikan pemahaman ini sebagai penentu dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Mereka bangun di atas pemahaman ini dasar-dasar (ushuluddin menurut mazhab mereka). Lalu membahasnya secara terperinci berdasarkan ushul pemahaman mereka tersebut. Disamping itu mereka menakwilkan segala sesuatu yang bertentangan dengan pendapatnya. Juga, mengkafirkan semua orang yang menyalahi pendapatnya. Banyak dan panjangnya pembicaraan dalam masalah ini menyebabkan timbulnya fitnah yang besar di kalangan kaum muslimin. Andai kata mereka mengembalikan masalah tersebut kepada Allah dan Rasul, niscaya mereka akan mendapatkan kebaikan yang melimpah ruah. Firman Allah SWT mengumpamakan mereka seperti dalam TQS. Ali Imran [3]: 7.

Perlu kita merenungkan sabda

Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh

muslim dari 'Aisyah ra:

"Andaikata kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat maka mereka itu adalah orang-orang yang disebut Allah swt (dalam QS. Ali Imran diatas) maka berhati-hatilah terhadap mereka." (HR.

Muslim)

 

Hambatan Bahasa Ada yang mengatakan bahwa sebab keterlibatan dalam ilmu kalam adalah kelemahan yang menimpa otak kaum muslimin dalam memahami bahasa arab. Oleh karena itu, kata mereka, kita akan beralih dari cara para sahabat membahas aqidah pada cara-cara logika. Bukanlah satu kesalahan apabila kita tetap memertahankan sikap pensucian terhadap Allah tanpa mengingkari dan menyerupakan. Alasan mereka ini sebenarnya merupakan hujjah yang lemah. Sebab, gaya pembahasan yang dilakukan oleh para ulama kalam tidak menunjukkan bahwa bahasa merupakan salah satu hambatan dalam pemahaman aqidah secara benar, tetapi obyek bahasan yang ada pada merekalah yang menjadikannya berselisih pendapat. Sebagai contoh, apabila kita mengatakan:

'Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.'

Makna ayat ini dapat dipahami artinya dari segi bahasa, tanpa perlu menggunakan cara-cara mantiq/logika. Akan tetapi berubahnya obyek pembahasan yang dibahas dari segi Dzat Allah itulah yang mendorong munculnya metode tersebut. Apabila yang mendorong menggunakan cara-cara logika adalah benar bahasa

arab maka adalam hal ini cukuplah kita menerangkan arti bahasa untuk kata-kata yang membutuhkan penafsiran/penjelasan dan terhadap makna-makna yang belum jelas dalam benak kita maka kita terima secara pasrah tanpa membahasnya atau memperdebatkannya lagi. Tetapi nampaknya bahwa arti lughawi (bahasa) bukan merupakan sebab penakwilan dan pembahasan tentang Dzat Allah atau terlibatnya akal dalam kesesatan yang sulit baginya untuk melepaskan diri darinya kecuali dalam keadaan kalah dan tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi, penyebab yang sesungguhnya (penakwilan dan pembicaraan mengenai dzat Allah) adalah mengikuti hawa nafsu dan tidak meneladani metode para ulama salaf. Metode yang Memecah Belah Persatuan Di antara hal-hal yang perlu diingat adalah bahwa pembahasan ulama kalam ini telah menyebabkan munculnya banyak firqah-firqah yang keluar dari Islam. Mereka termasuk dalam golongan-golongan yang disebutkan oleh rasulullah saw dalam sabdanya:

"Kaum Yahudi telah terpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, semuanya masuk neraka. Sedangkan Kaum muslim terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya juga masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: siapakah dia, ya Rasulullah? Beliau menjawab: golongan yang mengikuti aku dan para sahabatku." (Sunan Tirmidzi: 22642-2643; Sunan Abu Daud 4596-4597; Musnad Imam Ahmad no. 1024)

 

Rasulullah saw telah memberi petunjuk kita agar meneladani pola hidup beliau, serta melarang kita, umatnya menyalahi jalan tersebut. Perhatikanlah sabda Beliau dalam sebuah hadist shahih:

"Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sesudahku), kelak dia akan melihat banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.

Lalu gigitlah (peganglah) dengan gerahammu. Dan jahuilah perkara-perkara yang baru (maksudnya dalam masalah ibadah). Sesungguhnya semua perkara yang baru adalah bid'ah dn semua bid'ah (mengakibatkan seorang masuk) dalam neraka." (Sunan Abi Daud, 4607; Sunan Tirmidzi 2678; Musnad Imam Ahmad IV hal. 126-127).

 

Demikian pula diantara hal yang perlu dipegang teguh bahwa pembahasanpembahasan ini dan yang serupa dengannya akan menyebabkan berhadapannya seorang muslim melawan saudaranya yang muslim, bahkan akan mengalihkan perhatiannya hanya untuk menghadapi 'urusan dalam' kaum muslimin. Sehingga orang-orang kafir dapat mengambil kesempatan untuk melontarkan banyak perkara-perkara syubhat yang menyibukkan kaum muslimin dalam menyelesaikannya, bahkan dapat menyebabkan terhentinya kegiatan dakwah dan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu kita lihat ketika ilmu-ilmu logika mulai berkurang, bahkan lenyap dari masyarakat sangat diperhatikan dan menjadi pembahasan serius kaum orientalis. Begitu juga para teolog nasrani banyak mengarang buku-buku di bidang ini. Pembahasan ilmu kalam masih mempengaruhi sekelompok kecil umat, yang alangkah baiknya mereka tinggalkan hanya karena Allah semata, yang mereka cintai. Jika tidak, maka mereka baik sengaja ataupun tidak berarti telah mengikuti orang yang tidak  mengharapkan kebaikan bagi agama Islam ini.  Dalam kenyataannya, permasalahan ilmu kalam telah dimunculkan oleh beberapa orang nasrani yang kemudian memeluk Islam tetapi tidak ikhlas pada-Nya. Diantara hal yang menunjukkan hal ini adalah bahwa Ghailan ad-Damasyqi pada mulanya sebelum menganut Islam adalah orang Qibti (Nasrani dari Mesir). Dan dialah orang yang paling gencar menyerukan masalah qodar. Misalnya apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Qutaibah di dalam kitabnya Kitabu al-Ma'arif, hal 166:

"Ghailan ad-Damasyqi adalah orang Qibti yang tidak ada searang pun sebelumnya membicarakannya dan menyeru kepada masalah qodar kecuali Ma'bad al-Jahni. Dan Ghailan memiliki julukan Abu Marwan. Lalu ditangkap oleh Hisyam ibnu Malik (wafat pada tahun 125 H), kemudian disalib di pintu gerbang kota Damaskus."

Sebagaimana halnya dahulu, sekelompok nasrani yang masuk Islam telah membahas tentang berbagai syubhat yang mengangkut aqidah, khususnya masalah taqdir, kita akan menemukan pula bahwa sekelompok Yahudi yang masuk Islam telah menimbulkan berbagai syubhat; tentang penyerupaan dan penitisan/penjelmaan Allah swt. Untuk itu dibuatlah cerita-cerita dan riwayat palsu. Asy-Syahru Satani berkata:

"Kebanyakan berita-berita/cerita yang dibuat berkenaan dengan masalah penyerupaan Dzat Allah berasal dari Yahudi. Dan sesungguhnya sikap demikian sudah merupakan tabi'at mereka. Barangkali, Abdullah ibnu Saba' yang dahulu seorang Yahudi kemudian masuk Islam merupakan orang yang pertama kali memunculkan perkara-perkara Syubhat dan bid'ah tentang penyerupaan Allah disamping sikap ekstrim dan dan berlebih-lebihan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Abdul Qadir al-Baghdady di dalam kitabnya al-Farqu Bainal Firoq, hal 214."


 Wallahu'alam


 Sumber : Buku Kekeliruan Ilmu Kalam

Penulis: Syamsuddin Ramadhan

Cet. I, Rajab 1424 H–September 2003 M



DOWNLOAD EBOOK ISLAM


10 Mei 2013

Pedihnya Dilupakan Allah

Di antara akibat maksiat adalah membuat Allaah itu melupakan dan meninggalkan hamba, lalu Allaah akan membiarkannya menjadi ‘konconya’ (teman dekatnya) setan. Ini sungguh suatu kesengsaraan dan bukan suatu keselamatan yang diharap.
Allaah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allaah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allaah, sesungguhnya Allaah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allaah, lalu Allaah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 18-19).

Dalam ayat di atas, Allaah memerintahkan pada hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa dan melarang dari punya kemiripan dengan orang yang melupakan Allaah dengan meninggalkan sifat takwa.

Akibatnya apa bagi orang yang enggan bertakwa?

Yaitu Allaah akan melupakannya. Allaah akan melupakan kemaslahatan dirinya. Juga Allaah akan melupakan dirinya sehingga ia tidak selamat dari siksa. Di samping itu pula, Allaah tidak akan membuat ia selamat di akhirat kelak yang merupakan kehidupan abadi seorang muslim. Ia pun tidak bisa meraih kelezatan, kesenangan dan kenikmatan kehidupan negeri akhirat nanti. Itulah akibat dari seseorang yang lupa akan keagungan Allaah dan tidak punya rasa takut pada Allaah. Itu pun balasan dari enggan taat pada Sang Kholiq karena hari-harinya diisi terus dengan perbuatan dosa.

Ini menunjukkan bahwa ahli maksiat akan sulit meraih kemaslahatan untuk dirinya sendiri. Allaah akan menutupi hatinya dari mengingat-Nya di mana Allaah yang memberikan keterangan jiwa. Ahli maksiat semacam ini hanya mengikuti hawa nafsunya dan ia termasuk orang yang melampaui batas. Ia akan luput dari maslahat dunia dan akhiratnya. Ia pun akan sulit meraih kebahagiaan di negeri yang kita akan kekal abadi di dalamnya.

Hakekatnya hamba itu yang berbuat zholim, mencelakai dirinya sendiri dengan maksiat yang ia perbuat. Perbuatan maksiatnya sama sekali tidak mencelakakan Allaah.

Demikian penjelasan dari Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ad Daa’ wad Dawaa’ yang penulis (ust Muhammad Abduh Tuasikal) sarikan.

Referensi:

Ad Daa’ wad Dawaa’, Al Imam Al ‘Allamah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1430 H.

04 Mei 2013

Puisi Untuk Adik-Adikku

PUISI UNTUK ADIK-ADIKKU
(siswa dan siswi SMPIT & SMA PLUS BINAAUL UMMAH & siapa saja yang baca)

By Abdul Rahman Muslim
(Pujangga 90')


hidup ini ...
seperti langit yang tenang ini
kadang mendung kadang cerah
seperti kisah hidup ini
kadang posisi diatas
kadang posisi dibawah
tapi bagiku...
semua itu bukan masalah
tapi bagiku semua itu berkah
jika kita sabar menyikapi
semua ujian hidup ini

hidup ini bukan sekedar mencari sensasi
tapi hidup ini perlu kesungguhan hati
menggapai cita-cita dan mimpi
belajar dari kesalahan
belajar dari pengalaman
belajar dari segala keadaan
sebagai bekal kehidupan

anakku, kalian harus tahu
bahwa manusia itu tak ada yang sempurna
jadi janganlah kecil hati dengan mereka
yang punya prestasi luar biasa
mereka awalnya seperti kita
tidak bisa berbuat apa-apa
tapi karena kesungguhan mereka
mengejar impian dan cita-cita
disertai tawakal dan do'a
sehingga Allah meridhai tujuan mereka
akhirnya impian yang mereka harapkan
telah sampai kepada mereka

tapi jangan bangga
dengan kelebihan kita
karena kadar ilmu manusia
pasti ada batasnya
tapi kita boleh bangga
bila kita sudah tahu
dimana letak kekurangan kita
bila kita bisa merasa memperbaikinya

hidup adalah metaformosa
ulat, kepompong kemudian menjadi kupu-kupu
semua itu tidak butuh kepandaian akalmu
tapi hanya butuh kesabaran dan pengorbanan
dalam mencari jati diri dan mencari ilmu
tetaplah semangat dalam menjalani hidup
hidup katanya berawal dari mimpi
kemudian mimpi itu menjadi hidup
tapi mimpi tak akan berarti
bila kita tak berusaha mengejarnya
tapi mimpi takkan berharga
jika kita tak berusaha menggapainya

terima kasih untuk adik-adikku
kalian adalah inspirasi bagi karyaku
kepolosan kalian adalah kertas putihku
perjalanan hidup kalian adalah penaku
lucunya senyum kalian adalah semangatku
kutuang semua cerita kalian
dalam sebuah puisiku
tak peduli seberapa bagus syairnya
semoga jadi nasehat yang bijak
bagi kita semua









26 April 2013

Mewaspadai Cinta Buta antara Pria dan Wanita

by www.ashabul-muslimin.tk

Dalam hubungan antara pria dan wanita, pembentukan ikatan di antara keduanya, di luar yang diridhai Allah, merupakan salah satu faktor paling kritis yang menuntun pada "kemusyrikan". Ikatan itu bisa berupa pernikahan, atau "hidup bersama", yang sudah diterima semakin luas.

Dalam cinta dengan pemahaman romantik ini, "dua sejoli" menunjukkan kepada satu sama lain semua kewajiban yang seharusnya ditujukan kepada Allah, dan mereka menunjukkan kepada satu sama lain perasaan yang seharusnya diberikan kepada Allah, seolah-olah mereka memiliki eksistensi terpisah dari-Nya. Individu-individu ini, alih-alih mengingat Allah, hanya memikirkan satu sama lain. Ketika mereka membuka mata di pagi hari, alih-alih bersyukur kepada sang Pencipta untuk hari baru itu, mereka saling memikirkan, mencari cara untuk menyenangkan satu sama lain, bukan menye-nangkan Allah. Mereka mau mengorbankan diri bagi satu sama lain, tetapi tidak bagi Allah.

Singkatnya, masing-masing menuhankan yang lainnya. Demikian pula, ketika kita memperhatikan pelbagai contoh tentang pemahaman cinta yang menyimpang ini, yang telah meluas di seluruh dunia, kita akan menemukan bahwa pria dan wanita romantik dengan terbuka saling mengatakan, "Aku memujamu," "Ke mana pun aku pergi, aku selalu memikirkanmu," dan pernyataan-pernyataan lain sejenisnya. Namun, sebenarnya ke mana pun seseorang melihat, dan ke mana pun dia pergi, satu-satunya Dzat yang pantas dipuja adalah Allah, Tuhan Semesta Alam.

Seperti yang telah kita kaji, cinta romantik tampaknya menjadi jenis cinta tanpa dosa, padahal ia sejenis "kemusyrikan", yang sangat tercela dalam pandangan Allah. Namun, setan membutakan orang-orang dari kebenaran, dan begitu pula dalam masalah ini, dia lagi-lagi membe-lokkan kebenaran untuk membuatnya tampak menyenangkan, dan membuat orang-orang mengikuti jalan yang ditunjukannya kepada mereka:

 

"Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih." (QS. An-Nahl, 16: 63)

 

"Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam." (QS. Al 'Ankabuut, 29: 38)

 

Al Quran meminta perhatian khusus pada nafsu menyimpang yang dirasakan bagi seorang wanita dalam jenis cinta romantik ini. Penerima cinta ini bisa jadi wanita mana pun: istri, kekasih, bahkan, cinta "platonik" jarak jauh. Jika cinta jenis ini mencegah seseorang dari mengingat Allah sebagaimana seharusnya, atau membuatnya lebih memilih kekasihnya dalam hati daripada Allah, berarti cinta sudah menuntun orang itu ke dalam kemusyrikan. Tentu saja, ancaman ini berlaku bukan hanya bagi laki-laki, melainkan juga wanita.

Orang-orang yang hidup terperangkap dalam hubungan romantis pria-wanita ini, sering tidak menyadari bahaya yang dimasukinya. Disebabkan kenyataan bahwa sejak masa kanak-kanak mereka telah mengikuti petunjuk dari masyarakat yang salah arah, tanpa mengetahui bahwa Al-Quran adalah satu-satunya pembimbing mereka ke jalan yang benar, maka mereka benar-benar tidak menyadari bahwa jalan hidup yang mereka tempuh adalah jalan yang salah dalam pandangan Allah. Karena mereka menjalani kehidupan tanpa kesadaran akan Allah, mereka menjadi terjebak di dalam lumpur kebodohan, walaupun, seperti yang disebutkan sebelumnya, mereka meyakini jalan mereka benar. Namun, karena mereka tidak mempunyai keimanan kepada Allah, kearifan dan pemahaman mereka menjadi buta.

Terperangkap dalam cinta tanpa akal, pria dan wanita, yang memuja satu sama lain, terkadang dituntun merusak diri-sendiri. Misalnya, sepasang remaja yang saling mencintai bisa teperdaya hingga mencari kesenangan dengan bunuh diri. Apabila keadaan tidak mengizinkan keduanya bersatu, mereka akan meloncat dari jembatan sambil berpegangan tangan dengan maksud melanggengkan cinta mereka, atau agar "jiwa mereka bisa bersatu selama-lamanya," atau motif-motif irasional lainnya. Namun, dalam melakukan perbuatan seperti itu, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka melemparkan diri sendiri ke dalam rahang neraka. Dalam melakukan perbuatan terlarang seperti itu, tanpa melihat kesalahan di dalamnya, mereka yakin akan disatukan lagi bukan dengan Allah tetapi dengan satu sama lain setelah kematian. Mereka baru sadar ketika mereka melihat Malaikat Maut pada saat-saat terakhir, tetapi itu sudah terlambat. Kita bisa membaca berita koran tentang surat-surat menyedihkan yang ditinggalkan orang-orang yang bunuh diri karena cinta tidak terbalas. Ini adalah contoh nyata bagaimana romantisisme bisa sepenuhnya menutupi pikiran dan hati nurani.

Namun, ketika kain penutup mata disingkirkan, dan orang itu melihat bahwa ancaman siksaan abadi itu nyata, akhirnya dia akan mencoba menyelamatkan diri sendiri dengan menawarkan tebusan berupa kekasihnya yang secara buta telah dipuja dan dituhankannya di bawah pengaruh romantisisme. Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang ini digambarkan dalam ayat Al Quran sebagai berikut:

 

"Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan istrinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya." (QS. Al Ma'aarij, 70: 11-14)

 

Situasi yang sama digambarkan dalam ayat lain:

 

"Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (QS. 'Abasa, 80: 34-37)

 

Jenis cinta romantis yang menuju kemusyrikan telah diterima dalam masyarakat sebagai "tanpa dosa", seperti "romans murni" dan "perasaan sejati"; bahkan sering dipuji dan didukung. Pada usia mudalah biasanya orang-orang terjerumus ke dalam pengaruh romantisisme, yang mencegah pengembangan pikiran dan hati nurani mereka, serta membiarkan diri mereka tidak mengenal agama, keimanan, dan tujuan penciptaan. Mereka sudah melupakan Allah, dan tidak tahu apa pun tentang cinta atau takwa kepada-Nya. Kemudian kemusyrikan menjadi umum dilakukan oleh generasi salah asuhan ini.

Televisi dan film-film sering memaksakan tokoh-tokoh romantis dan emosional pada para penonton. Mereka berkeras menyatakan bahwa sentimentalitas hanyalah kecenderungan alamiah pada manusia. Romans merupakan salah satu tema musik, puisi, dan sastra yang paling konsisten dan mudah dipasarkan. Setan tahu benar bahwa sentimentalitas adalah penyakit yang mencegah orang-orang berpikir lurus, mengenal realita, memikirkan Allah, dan merenungkan tujuan-tujuan penciptaan dan akhirat, dan bahwa sentimentalitas menjauhkan orang-orang dari mempraktikkan agama, dan akhirnya membawa mereka ke dalam kemusyrikan. Karena itu, setan terus berusaha menyesatkan masyarakat pada setiap kesempatan dengan memborbardirkan tema-tema sentimental secara konstan dan intensif.

Jadi, mereka yang berpikiran bahwa kemusyrikan hanya merujuk pada penyembahan tuhan-tuhan palsu, atau patung-patung batu atau kayu, sebaiknya berhati-hati agar tidak menganggap dirinya kebal dari masalah ini, atau menjadi salah seorang dari mereka yang akan berkata pada hari akhir, "Demi Allah, Tuhan kami, Kami bukan orang Musyrik." (QS. Al An'aam, 6: 23)


Wallahu alam


Sumber (e-book  harun yahya)

25 April 2013

Wahabi : Sekilas Tentang Muhammad Bin Abdul Wahab (1)

Muhammad Bin Abdul Wahab dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur'an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid'ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo'a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur'an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur'an menegaskan:

"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." [Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

"Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

dikutip dan disalin dari : http://almanhaj.or.id/content/1780/slash/0/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-abdul-wahhab/

23 April 2013

Opini : Ada apa dengan "Wahabi"

 Oleh : Fazaa Ahmad Abdul Latief

Lagi pada ribut dengan kata "Wahabi". Secara Bahasa berarti Wahabi=Pengikut Yang Maha Penganugerah, WAHAB adalah salah satu Nama Asmaul Husna. Terus apakah Wahabi itu sehingga Banyak berbagai Golongan yang lain merasa gerah dengannya ?

Perlu Anda Ketahui....ada 2 istilah Wahabi yang itu mempunyai makna yang berbeda Secara sejarah wahabi pertama telah muncul pada kurun kedua (2) Hijriyah. Pada waktu itu ada sekte khawarij abadhy (khawarij yang berpemikiran ekstrim) yang dipimpin oleh Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Abdul Wahhab bin Abdurrahman adalah anak dari Abdurrahman bin Rustum sang pendiri negara khawarij Rustumiyah, dan Abdul Wahab pun mewarisi kekuasaan bapaknya dan pemikirannya. Sekte ini muncul di daerah Afrika Utara. Sehingga para ulama setempat khusunya dan ulama yang lain menjuluki mereka dengan Wahabi atau Wahabiyah.

Lalu kenapa akhir-akhir ini, atau semenjak 2-3 kurun yang lalu gelar dan nama ini disematkan kerpada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ? Yang notabene beliau hidup pada kurun ke 11 hijriyah ? Dan beliau tidak punya pemikiran khwarij ? Bahkan beliau adalah pembela tauhid dengan berbagai Bukunya yang bersejarah. diantaranya adalah Kitab Tauhid dan Kitab Utsuluts-tsalatsah. kedua Kitab tersebut Sudah Dipelajari JUTAAN Kaum Muslimin diseluruh penjuru Dunia. Bahkan awal2 berdirinya organisasi2 Islam di Nusantara sudah mempelajari Kitab2 beliau. Muhammadiyah , Al-Irsyad Al-Islamiyyah , Persis , Alislam Bekasi , FUI , DDII(dewan Dakwah Islam Indonesia) , MIUMI , HTI , PKS ,JAT , MMI dan masih banyak lagi Organisasi Islam Pernah mempelajari Kitab2 Muhammad Bin Abdul Wahab sampai sekarang. Mereka Tidak Sedikitpun Mengeluarkan kata2 Keji dengan Menuduh SESAT dari Muhammad bin Abdul Wahab.... 19. Dari jaman Buya HAMKA sudah terdeteksi Hujatan kepada WAHABI ini.... http://menjawabhujatan.blogspot.com/2013/04/buya-hamka-mereka-memusuhi-wahabi-demi.html 20.
Kesimpulannya adalah ... jika WAHABI itu SESAT .... 21. Ada Jutaan Umat Islam di Indonesia yang mempelajari Kitab-kitab Muhammad bin Abdul Wahab dan Murid2nya adalah SESAT 22. Ada LUSINAN Organisasi-organisasi Islam Di Nusantara ini yang SESAT Karena masih mempelajari Kitab Muhammad Bin Abdul Wahab dan Murid2nya..... 23. Sudah dari dulu jaman Buya HAMKA ...PASTI ADA FATWA MUI yang menyesatkan yang mereka sebut WAHABI ? 24. Sekarang terserah anda....... 25. Ikut WAHABI atau Ikut yang Menyerang WAHABI 26. kedua2nya TIDAK DIJAMIN selamat dari Azab Allah .... 27. Yang Dijamin selamat dari azab Allah adalah yang menjalankan Quran dan Sunnah Sesuai Pemahaman Salaf (Sahabat Nabi, Tabi;in dan Tabi'ut Tabi'in) karena mereka itu yang mengetahu Isi QUran dan Hadist daripada kita ........ QS. At-Taubah : 100....Walaupun Anda sendirian memegang kebenaran itu.... 28. Wallahu 'Alam ..... Semua Kebenaran Hanya Milik Allah dan Akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya TANPA MEMANDANG GOLONGAN, STATUS , DAN JABATAN...............

21 April 2013

7 BACAAN PEMBUKA PINTU REZEKI



Assalamualaikum UI member . . . bicara soal Rezeki atau Rejeki atau Rizki Sudah barang tentu setiap orang ingin memperolehnya, bahkan jika perlu sebanyak mungkin. Namun, Seperti biasa tentang hal ini saya hanya membawa  dalil populer di dunia yaitu "Do'a adalah senjatanya orang mukmin". dalam mencapai rizki yang diridhoi Allah kita disarankan oleh imam Ghozali untuk berdzikir seperti

  • Memperbanyak Membaca “Lahawla Wala Quwwata Illa billah" “Barangsiapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan “La hawla Wala Quwwata Illa billah ( HR. At Tabrani ).
  • Membaca ” La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin” Hadistnya : Barangsiapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami).
  • Melanggengkan Ber-Istighfar “Barangsiapa melanggengkan beristighfar niscaya Allah akan mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan rezki dari arah yang tidak diduga-duga” ( HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah )
  • Membaca Surat Al-Ikhlas “Barangsiapa mmbaca Surat Al Ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya ( HR. AtTabrani ) 
  • Membaca Surat Al-Waqiah “Barangsiapa mmbaca surat Al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup“ (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab AlIman)
  • Memperbanyak Shalawat Atas Nabi “Ubay Bin Ka’ab meriwayatkan, bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam berdiri seraya bersabda : “Wahai Manusia Berdzikirlah Mengingat Allah, berdzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat) pertama, kemudian diiringi tiupan kedua. Akan datang kematian dan segala kesulitan didalamnya”
  • Membaca Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim "…dari setiap kalimat itu seorang malaikat yg bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu” (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat)
Jati tunggu apa lagi ? mari segera laksanakan.
Sumber : -Ihya Ulumiddin – Imam
AL GHAZALI



isi Kajian (hapus ini jika ingin Posting artikel, tapi jangan Hapus Tulisan "Kirimkan ke teman anda sebagai file .Pdf)
Kirimkan Ke Teman anda Sebagai File .Pdf :
Send articles as PDF to

Gambaran Huru-Hara Awal Kiamat, Yang Terjadi Di Jaman Kita

- maling ayam tewas diegebuki koruptor melancong sesuka hati. Karena hukum bisa dijual beli
- binatang jadi manusia manusia jadi binatang (karena kebejadan moralnya)
- janin dibuang-buang. manusia pezina lebih buas dari binatang harimau
- kaum dhuafa dan pengemis diabaikan. sementara tiket konser (boyband) harga jutaan ramai dibeli tanpa menyesal. Justru yang gak kebagian tiket malah nangis -sungguh mengherankan sekali-
- pembantaian kaum dimana-mana. meskipun jumlah kaum muslimin banyak tapi tak berdaya menolong saudara mereka.
- pejabat pengumbar janji. rakyat kelaparan mau mati
- ABG-ABG sekolahan ramai tawuran, mabuk, narkoba, berzina.
- ramai-ramai da'i berjualan agama tak peduli umat dilanda kebobrokan moral
- yang pinter keblinger (pinter salah). yang bodoh tambah dungu
- anak kecil durhaka kepada orang tua. orang tua lalai tanggung jawab
- Bencana alam marak, karena kemusyrikan meraja lela.
- Sarjana banyak yang menganggur akan tetapi malah lulusan sd banyak yang jadi pelaku usaha (wiraswasta).
- Ramai-ramai 1 miliar manusia diabad 21 ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kesia-siaan disitus jejaring sosial.
- Perzinaan tidak lagi dilakukan oleh remaja tetapi juga marak dilakukan oleh anak kecil usia SD
- Kebanyakan Remaja muslim lebih mencintai idolanya (artis) daripada mencintai agamanya.
- Pendidikan akhlaq dan agama semakin merosot, sehingga moral pelajar makin ngawur
- Maraknya pemurtadan oleh kaum orientalisme didaerah terpecil sementara sedikit sekali kepedulian kaum muslimin kepada mereka.
- Da'i dan ulama sibuk debat sendiri sementara umatnya rusak moral seakan-akan tak peduli.
- Orang kafir semakin gencar melakukan penghujatan diberbagai media elektronik maupun media cetak.
- Banyak yang ahli baca kitab tetapi kadang juga banyak yang tidak tahu makna yang dibaca. Sehingga pinter debat tetapi bodoh beramal
- Banyaknya remaja-remaja yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna, seperti nongkrong dipinggir jalanan,begadang, malam mingguan bahkan pacaran dsb.
- Semakin sedikitnya ulama (banyak yg wafat) dan semakin banyaknya ahli pidato (motivator, konselor dsb).
-  dunia pendidikan tercemar karena oknum guru melakukan tindakan seronok kepada muridnya.
- Masjid semakin sepi. Hotel, bar, dan tempat hiburan semakin ramai.
- Penyesatan umat oleh kaum-kaum intelejen kafir marak dengan kedok syariat.
- Jilbab dan kerudung sekarang berubah fungsi menjadi tren mode, jarang yang memakai jilbab karena mengikuti syari'at. karena kebanyakan jilbab jaman sekarang tidak memenuhi syar'i.
- Naik haji berkali-kali (bagi yang kaya), namun tak sedikitpun terlintas membantu saudaranya yang tidak mampu dan anak yatim piatu.
- Semakin merosotnya minat belajar buku, semakin meningkatnya penggunaan teknologi untuk hal sia-sia (sms-an ria, cattingan, facebookan dsb). Sehingga bangsa ini menjadi bangsa bodoh dan pendek akalnya.
- Semakin jauhnya generasi muda dari ilmu hikmah agama sehingga ilmu hanya sekedar masuk kerongkongannya saja. Karena kita perhatikan justru yang rusak moral malah kebanyakan kaum terpelajar.
- Orang kafir meniru tradisi islam banyak juga umat islam yang ikutan tradisi orang kafir.
- Banyak urusan umat tidak diserahkan kepada ahlinya tetapi diserahkan kepada orang bodoh yang gila harta sehingga kekacauan dimana-mana.

(ashabul muslimin)

Blog Archive

Download Ebook Islam Terlengkap

Statistik

.